Minggu, 22 September 2019

Mommy

Ibu Lasmi
Oleh : Dessy Fauzica Fristha Towerina

Assalamu'alaikum Warohmarthullahi wabarokatuh
Hai teman-teman! Apa kabarnya kalian semua? aku berharap agar kalian selalu sehat. Amin Yaa Robbal'alamin.

Dalam kesempatan kali ini, aku akan bercerita tentang seseorang yang menjadi salah satu motivasiku terutama dalam berkuliah.

Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya, tapi beliau sering disapa Ibu. What? Ibu? sudah tua dong. Hushhh jangan sembarangan. Walaupun beliau sudah berkeluarga dan memiliki anak, soal semangat, beliau tidak kalah dengan yang muda. Yupss, jiwa muda yang ada pada dirinya menjadi semangat yang pertama untukku tidak boleh kalah darinya.

Beliau memang sudah bersuami dan memiliki 3 orang anak. Beliau menempuh jenjang pendidikan tinggi di UT pada tahun 2016 semester ganjil. Biarpun sudah berkuliah, bukan berarti beliau tidak repot mengurus keluarga. Ditambah lagi beliau mengepalai sebuah sekolah Indonesia di tempat tinggalnya yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Tapi, beliau sangatlah beruntung. Memiliki suami yang penyayang dan anak-anak yang penurut dan berprestasi. Aku sendiri berani menjadi saksi.

Bila suaminya pergi bekerja, anak-anaknya sedang libur sekolah, mereka membantu Ibu Lasmi membereskan rumah. Anaknya yang pertama yaitu Aca (Panggilan kesayangan) yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Perak-Malaysia selalu membantu Ibu Lasmi mengajar di ICC Muar, mengemas rumah dan pastinya selalu bercengkrama dengan Ibundanya sebagai pengobat rindu selama belajar jauh.

Sedangkan anaknya yang no. 2 yaitu Navin, sosok anak lelaki yang kalem dan sungguh patuh kepada orang tuanya rela terjun ke dapur langsung mencuci piring-piring kotor. Bahkan ia juga suka membantu Ibu Lasmi memasak.

Sementara anaknya yang bungsu, Adit, anak lelaki yang selalu ceria dan ramah kepada siapapun yang datang ke rumahnya selalu bersemangat membantu Ibu Lasmi dalam membereskan rumah.

"Keluarga kami selalu penuh dengan kasih sayang", ungkap Ibu Lasmi kepadaku dan teman-teman UT yang suka sekali singgah dan menginap di rumah Ibu. Khususnya dengan teman-teman yang dekat, Ibu Lasmi sudah seperti Ibu kami sendiri.

Ibu Lasmi adalah Ibu sekaligus tempat curhat kami selama kuliah dan tinggal disini. Awalnya canggung berjumpa beliau tapi beliau pandai mengayomi anak-anak sehingga serasa tidak asing lagi bila berada didekatnya.

Tidak hanya dengan teman 1 jurusan, dengan siapapun Ibu Lasmi selalu memberi kasih sayang. Jika ada beliau didekat kami, kami sudah seperti anak kecilnya.

Pada awalnya, aku merasa malu untuk bertatap muka langsung dengannya.

Kisahnya berawal dari pemilihan ketua DPM 2017, Ibu Lasmi ikut menjadi salah satu calon kandidatnya. Aku mendukung beliau dengan berkomentar di fotonya yang di upload oleh facebook UT sebagai bentuk perkenalan tentang dirinya.

Berlanjut aku kirim inbox ke beliau untuk meminta no.whatsappnya. Tak disangka, beliau begitu ramah dan memberikan no.whatsappnya. Berlanjut ke whatsapp, aku dan beliau saling mengirim pesan menggunakan bahasa Inggris. Wow, menakjubkan, berasa kami ini bule beneran.

Nah, berasa jadi penasaran setelah sekian lama berchat-chat ria. Kami dipertemukan saat aku ada kelas TTM (Tutorial Tatap Muka) bersama Mr. Rizal. "Maaf, Pak. Mau berjumpa Fristha", ucap seseorang dengan nada lembut memasuki kelasku.

Aku mengangkat kepalaku sambil mencari sumber suara itu. "Nduk", panggil Ibu Lasmi sambil menghampiri sembari memeluk dan menciumku. "Ibu", sahutku sambil memeluknya lama. Tak sadar air mataku menetes. Beliau meminta salah satu temanku untuk memotret kami berdua dan beliau bergegas pulang karna kunjungannya ke Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB) hanya sebentar.

Aku masih terharu memandangnya hingga menutup pintu aula. "Kamu kenal Ibu Ami?", tanya Mr. Rizal. Aku menceritakan bahwa tadi adalah pertemuan kami untuk pertama kalinya. Saat aku tahu bahwa Ibu Lasmi adalah seorang pengajar, aku benar-benar takjub. Karna selama ini, aku hanya tahu Ibu Lasmi adalah sesama mahasiswa UT denganku.

Semenjak itu, aku bersama Miss Nuan dan Mbak Dian kerap bermain kerumah Ibu Lasmi. Tak hanya itu, tali silaturahmi kami semakin erat dengan akrabnya kami bersama anak-anak dan suaminya. Klo sudah sampai sana, status Ibu Lasmi berubah menjadi Ibu beranak banyak. Setiap mau pulang, pasti kami disayang-sayang dan tak mau berpisah. Ya bagaimana lagi, aku dan yang lainnya adalah pekerja juga jadi kami harus pulang.

Beberapa hari yang lalu, aku mengetahui ada info Ibu Lasmi beserta 2 mahasiswi UTJB lulus TAP dan terjaring Yudisium. Surat Keputusan Yudisium disebar melalui grup chat whatsapp kampus dan kebahagiaan langsung menyelimuti perasaanku saat itu juga. Dengan perasaan haru, aku menyampaikan ucapan selamat kepada Ibu Lasmi. Apa yang diharapkan beliau sebagai syarat mengajar akhirnya tercapai.

Sebentar lagi, beliau akan diwisuda. Dan aku berharap untuk bisa menyaksikannya memakai toga. Selamat ya, Ibu Lasmi. Tetaplah menjadi motivasiku. Aku sayang Ibu Lasmi.

Sekian cerita ini aku sampaikan. Melalui tulisan ini, aku berharap tetap selalu bersemangat seperti Ibu Lasmi.

Wassalamu'alaikum Warohmarthullahi Wabarokatuh

0 comments: