Jumat, 20 September 2019

Jejak Usia Kita (Memulai) Part 1

J.O
Oleh : J.O

2016 tahun yang membahagiakan sekaligus menegangkan untuk kita para pelajar SMK rasakan. Detik-detik melaksanakan Ujian Nasional sekaligus menunggu hasil pengumuman. Tentu saja, banyak rencana dan rancangan yang telah kami rancang dengan baik menurut kami saat itu. 
Mulai dari kuliah, kerja di Jakarta, kerja di Malaysia sampai rencana menikah.
Lucu memang kehidupan kami para anak remaja yang masih labil layaknya remaja seusianya. Walau pada umumnya aku berfikir ingin seperti gas mulia yang stabil, tapi pada masa yang kita anggap sebagai masa penjajahan moral dengan berbagai budaya yang saat itu masih silih berganti layaknya fashion dengan berbagai model satu dengan lainnya. 
Sulit membedakan mana fashion yang baik dan yang buruk semua mengikuti trend yang sedang berputar. 

Aku memang sudah memutuskan pergi ke Malaysia jauh sebelum ujian, lebih tepatnya saat memasuki kelas 11 di SMK. Karena memang ada hal yang harus aku tanggung dan aku pikul saat itu. Aku selalu berfikir “Ya, aku memang anak labil pada usianya. Aku akan menikmati masa mudaku saat SMK. Namun selepas itu ada hal yang harus aku tanggung untuk kedepannya”. Aku cenderung mengamati dan meyakinkan diri sebelum memulai atau mengikuti sesuatu, karena penyesalan setelahnya sangat menganggu pikiranku. Bukan hanya saat itu, tapi bisa jadi kedepannya.

Banyak berita serta gunjingan yang tersebar berkaitan dengan Pekerja Indonesia di Malaysia saat itu. Bahkan agkatan terdahulu sebelum kami yang sudah lama disana tak luput dari kabar miring. Mulai dari gambar di media sosialnya yang menurut kami kurang sopan pada saat itu sampai mereka yang masih peduli dan memberi penghargaan bagi siswa SMK kami yang berprestasi. 
Entah kenapa dan entah apa yang aku fikirkan saat itu saat mereka membicarakan kakak kelas kami aku tak sengaja megatakan “Besok aku kesana akan menjadi yang berbeda, bukan upload gambar baju pendek tapi tudung labuh yang besar” aku masih ingat kata-kata itu sampai saat ini. Lucu memang, demi membela diri pada saat itu, aku mengatakan hal yang belum tentu kebenarannya bahkan berkesan sombong.

Semua berlalu begitu cepat, bahkan saat seleksi sampai keberangkatan kami ke Malaysia. Mulai dari kilang yang tiba-tiba dirubah nama sampai jumlah angkatan yang sangat aneh menurut kami saat itu. Kilang Maruwa Melaka menjadi TDK Lambda Senai, sampai jumlah angkatan yang awalnya 200 menjadi 6 orang. Ada rasa syukur juga sedih saat itu, untuk pertama kali anak-anak berumur 18 tahun merantau ke negeri orang belum lagi ijazah yang belum dicap tiga jari saat itu. 
Semua bermodal nekad pada kenyataannya, izin orang tua yang bisa dibilang terpaksa mengiyakan keinginan kami anak remaja. 

Tiga minggu sebelum puasa kami terbang ke Malaysia, bukan untuk liburan atau sekedar tamasya keluarga, melainkan dengan tujuan dan tekad masing-masing diantara kami. Ada tujuan mencari uang untuk keluarga, untuk biaya sekolah adik, melunasi hutang, sampai mengumpulkan uang untuk kembali melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Dua minggu disana aku hanya mengamati lingkungan sekitar hostel kami yang memang rumah banglo saat itu, di Kempas Lurah 7 dekat Kuil India.

Ada hal yang menarik perhatianku saat itu, yaitu para kakak-kakak sebelum kami yang telah lama bekerja disana. Mereka pergi setiap hari ahad, berpakaian lengkap seorang muslimah. Memakai gamis, kaos kaki, tudung labuh dan satu lagi mereka selalu membawa ransel setiap pergi.
“Menarik” pikirku saat itu, namun tak terfikir dalam benakku untuk mengikuti jejak mereka. Sampai pada suatu hari di hostel kami ada histeria yang membuat panik semua orang. 

Mba Suci kakak samping kamarku saat itu: “Dek, panggilkan Mba Isti suruh turun ke bawah. Kak Juli histeria”. (panik memegang Kak Juli yang meronta).

Aku yang tidak mengenal Mba Isti saat itu lebih panik karena mencari nama yang tak pernah aku dengar dan kenali sebelumnya. Bertanya asal orang di lantai atas, mengetuk pintu kamar di lantai atas dan bertanya dimana kamar Mba Isti saat itu. Dan ternyata kamar Mba Isti bersebelahan dengan kamar yang aku ketuk pintunya. Dengan suara serak dan panik aku mulai bertanya pada seisi kamar “Mba, ada yang namanya Mba Isti apa tidak? Kak Juli histeria dibawah katanya suruh panggil Mba Isti”. ucapku setelah melihat beberapa orang yang sedang berkumpul di lantai kamar.

“Ya dek, nanti mba turun. Tak pakai jilbab dulu, kamu duluan aja” sahut seseorang yang ku pikir itu Mba Isti.

Dari peristiwa itulah aku mengenal Mba Isti yang ternyata salah satu dari mereka yang aku perhatikan sebelumnya. Aku mulai bertanya perihal hari ahad yang mereka selalu pergi. 
“Mba Isti, aku boleh tanya ngga?” tanyaku setelah Kak Juli mulai tenang dan para penghuni hostel kembali ke kamar masing-masing.
“Tanya apa dek?” jawab Mba Isti duduk di ruang depan hostel kami.
“Setiap hari ahad mba kemana? pakaian kaya gitu? tanyaku to the point dengan Mba Isti.
“oh, itu pergi ke kajian dek. Setiap hari ahad kita ke rumah ummi untuk belajar dan ngaji bersama. Adek mau ikut ahad depan ini? Sebelum ini juga ada yang tanya dan mau ikut juga. Anak baru datang juga, kayaknya satu kamar kamu namanya Maya”
Mba Isti menjelaskan dengan nada santai dan tenang.
“boleh mba” jawabku mantab.
“besok bawa alat tulis ya, sama Al-Qur’an. Ngga usah bawa mukena ngga papa, dirumah ummi ada mukena.” lanjut Mba Isti setelah mendengar jawabaku yang meng-iyakan.

Hari ahad telah tiba, kami sudah bersiap dengan pakaian masing-masing dan dengan ransel masing-masing. Dengan menaiki taksi langganan Mba Leni salah satu anggota liqo, kami sampai di bus stop terdekat dari Tampoi. Betapa mulanya kami kaget, kenapa mereka menyapa, menyalami, serta mencium pipi kanan dan kiri orang yang belum aku dan Maya kenal sebelumnya. 
Dan ternyata mereka adalah teman satu liqo kami juga yang sedang menunggu bus. Ramai memang, aku dan Maya ikut menyalami mereka satu persatu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” sapa mereka dibarengi menjabat tangan aku dan Maya bergantian.“ Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab kami dengan senyum yang masih penasaran dan muka polos yang kami punyai. 
“Perkenalkan, Maya dan Jule teman baru di hostel kita.” Mba Isma menjelaskan pada mereka yang belum kami kenal namanya satu persatu. “Jule, Maya jangan kaget, temen liqo kita memang banyak ada yang ketemu di bus stop kaya sekarang. Dan nanti ada lagi kita ketemu saat di bus. Mba juga gitu, bingung dan kaget juga ada.” sambung Mba Leni menjelaskan pada kami.

Bus kami datang satu jam sekali terkadang juga tidak pasti. Menunggu kami tentu saja tidak membosankan, sebab diiringi perkenalan, penjelasan, serta perhatian dari mereka yang lebih dulu mengikuti liqo mingguan. Liqo ini bagi mereka ialah pengganti keluarga dan teman di kampung yang jauh. Ya, kamilah keluarga baru mereka yang akan selalu mereka ingatkan dan nasihati bila ada salah dan silap kami secara dengan sengaja atau karena kami belum mengetahuinya.
Dan benar apa kata Mba Leni, kami berjumpa banyak orang lagi didalam bus. Kami saling salam dan berkenalan satu sama lain disana. Serasa bus ini milik kami semua, bukan lagi bus umum tapi bus keluarga.

Seperti syair Imam Syafi’i:
“Merantaulah dan tinggalkan negerimu. Merantaulah kau akan dapakan pengganti kerabat dan kawan”.

Sesampainya kami di rumah ummi ternyata sudah ramai yang menunggu kedatangan kami. Memang aku belum melihat seberapa banyaknya sebab kami baru sampai depan rumah. Namun terlihat dari banyaknya pasangan sepatu yang tidak beraturan di depan sana. Awalnya malu dan ingin pulang juga. Sebab memang tidak menyangka sebanyak ini teman yang akan menjadi keluarga kita.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” sapa kami saat memasuki rumah ummi bergantian.
Saling salam dan bersalaman dengan berjalan memutar menggunakan lutut sebagai rasa saling hormat satu sama lain. Yang memang adat kita di Indonesia saat datang di perkumpulan atau pengajian ibu-ibu di kampung kami.

Wa’alaikumsalam wrahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah sudah pada datang yang ditunggu. Ummi lihat ada wajah-wajah baru” Sapa hangat ummi saat melihat kami setelah selesai bersalaman dan duduk melingkar. Senyum beliau hangat, ramah, dan tulus. Membuat siapa saja yang berada disini menjadi betah dan damai. Bahkan aku dan Maya yang baru datang berasa menemukan keluarga yang telah lama terpisah. 

“Yang baru datang boleh minum dulu, pasti haus dari perjalanan jauh kan? Nah, air kelapa buatan ummi sendiri. Gorengan buatan ummi sendiri lho”  Tanya  serta terang ummi dengan senyuman yang masih aku ingat hangat saat ini. Tangannya sibuk menuangkan air ke gelas polistrin untuk kami. 

“Ummi memang selalu begini, siapkan minum, dan cemilan untuk kita anak-anaknya. Ada masak nasi juga, kadang masak soto, rendang dan buat kue sendiri. Semua memang ummi buat sendiri, ummi rajin meski sibuk dengan banyak kegiatan”. Memang diantara semua Mba Leni yang sibuk menjelaskan kepada aku dan Maya. Mba Leni yang bawel, cerewet dan kepo. Memang sering dipanggil Leni kepo oleh kebanyakan temannya. Tapi, itu salah satu panggilan pengenal sebab nama Leni lebih dari satu di hostel kami.

Liqo kami dimulai dengan tilawah Qur’an yang dibaca secara bergilir masing-masing membaca 2-5 ayat meneruskan bacaan terakhir ahad lalu. Setelah selesai tilawah dilanjutkan dengan qultum yang juga bergilir setiap minggunya. Kata ummi untuk melatih keberanian kita dalam berbicara dan hadapan orang banyak. Setelah selesai qultum, ummi mengisi acara inti yaitu penjelasan dari ummi mengenai materi hari itu. Banyak sesi tanya jawab dalam liqo hari ini, dan juga banyak hal yang memang aku sendiri belum ketahui sebelumnya.

Aku masih ingat sapaan ummi saat itu mengajak kami berkenalan.“Itu yang imut pakai jilbab biru namanya siapa? Ummi belum pernah lihat sebelumnya. Ayo dong yang baru datang kita ta’arufan. Tak kenal maka …. tak sayang. Kalo sekarang tak kenal maka … ta’aruf.” tanya dan sapa ummi pada kami dengan sangat bijak memilih kata untuk mengajak kami berkenalan.

“Sana perkenalkan diri, bilang Assalamualaikum, nama, sama umur, dari mana asalnya keja dimana sekarang” papar Mba Leni yang menyikut lengan aku dan Maya. Pikirku sudah macam sensus penduduk.
Memang sangat awam kami dalam hal ini, ditambah malu yang tidak bisa dihindari.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan saya Maya umur 18 tahun, dari Purworejo, Jawa Tengah, tinggal di Kempas Lurah 7, kerja di Tdk Lambda Senai.”. Maya mulai memperkenalkan diri untuk yang pertama sebelum aku.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan saya Jule, umur 18 tahun, dari Purworejo, Jawa Tengah, tinggal di Kempas Lurah 7, kerja di Tdk Lambda Senai.” menyambung perkenalan.

“Masih muda sekali, masih imut-imut umur 18 tahun sudah sampai ke Malaysia. Berani lho ya, ummi aja merantau umur 20an ke atas itupun dengan suami. Umur 18 berarti baru lulus sekolah ya, atau jangan -jangan ijazahnya aja belum diambil?” tanya ummi dengan nada canda mencairkan suasana canggung kami.

“Belum cap tiga jari ummi, baru perpisahan langsung berangkat ke sini.” jawab kami spontan.

“Sama orang tua boleh pergi sini? Ngga papa mau bulan puasa jangan sedih nanti ada ummi dan kakak-kakak kalian disini. Kita jadi keluarga baru. Jangan sungkan tanya, boleh minta tolong apa aja sama kita semua. Kita sudah jadi saudara seiman dan seperjuangan. Jangan sedih lagi.” Hibur ummi kepada kami.

Hari berganti dan bulan berlanjut dengan kecepatan penuh, bulan puasa telah dilalui hari raya telah berganti dengan hebatnya. Meski yang melaluinya butuh ketabahan ekstra dan kesabaran yang membaja. Dengan problematika pekerjaan yang dibimbing leader dan floater yang unik bagi kami.
Yang dianggap galak satu kilang, memang betul kita rasakan. Aku dan Maya yang mendapat satu bagian, satu proses dan satu line yang sama merasakan getir amarah leader yang lain daripada yang lain.
Dengan floater yang super unik, terkadang baik terkadang sadis dan mengiris juga miris. 

Kami yang baru beberapa bulan sudah mulai terbiasa dengan bulan-bulanan mereka. Setiap kata-kata yang kami anggap jahat tapi membuat kami tabah dan cuek.
Kami hanya bertekad cepat dalam belajar proses kami, segalak apapun mereka pasti akan diam juga bila kami pandai dalam bekerja. Itulah motivasi terbesar kami. Dan benar saja, setelah kami menguasai proses kami mereka mulai diam dan memanfaatkan keahlian kami. 

Terkadang mereka menganjurkan kami untuk bekerja 'haram' dalam artian pekerjaan yang kami sendiri tidak memiliki licence. Sedang dalam kilang kami pekerja hanya menjalankan proses yang berlicence saja. Licence kami saat itu hanya touch-up, dan stuffing. Tapi kerja 'haram' kami bertambah dapi pre production (PP), QC, soldering mesin, essembly, sampai rework yang dikerjakan leader dan floater.

Ujian hari demi hari semakin membuat kami merasa seperti kerja rodi dengan target output yang meningkat. Aturan yang semakin ketat dan istirahat yang semakin tak akurat. Istirahat pertama kami 15 menit, biasa aku dan Maya gunakan shalat dhuha sekurang-kurangnya 2 rakaat serasa menjerit kami rasa dengan perjalanan line sampai mushola yang berdesakan dan memakan waktu. Kapan ada sedikit tambahan waktu, pikir kami saat itu.

Rutin kami lakukan sewaktu kerja, hingga alhamdulillah banyak anak baru dalam kilang kami yang juga melaksanakan shalat dhuha sewaktu istirahat pertama kami.
Istirahat kedua kami 30 menit, dicukupkan unuk makan dan shalat dzuhur dengan suasana mushola yang pastinya berdesakan dan dengan antrian wudhu yang panjang. Istirahat ketiga kami 15 menit kami gunakan untuk shalat ashar. Karena keunikan floater kami ialah suka kabur pada waktu kita shalat atau ke toilet. Dengan kondisi line yang terus online tidak akan bisa kemana-mana kalau tidak ada pengganti. Bahkan meminta sign pergi ke toilet dan mushola pun sulit untuk kami. Jadi kami berinisiatif untuk meminta pada leader dan floater sebelah line kami. 

Terkadang semua itu menjadi pelajaran bagi kami dalam bersosialisasi dan berteman. Apalagi dalam perantauan yang diisi dengan berbagai karakter. Dua tahun yang singkat namun berubah menjadi 180 derajat. Karena masalah pekerjaan yang membaik dengan leader dan floater yang semakin berubah baik juga liqo serta acara kami yang sudah meninggalkan kesan yang dalam dalam hati kami. Melalui banyak hal bersama dan menciptakan kenangan yang indah bagi kami sulit untuk dilupakan. 

Dua tahun memang tidaklah lama, tapi dua tahun mampu mengubah segalanya. Untuk jalan pikiran anak yang dulunya 18 tahun datang, hingga balik ke rumah 20 tahun. Dengan perubahan sikap kami dan jalan pikiran kami yang baru dan telah melalui banyak hal. Kami menyadari bahwa didepan sana akan ada lebih banyak halangan serta rintangan yang baru dan lebih menantang untuk kami lalui. 

Namun kami percaya pada mantra yang terdapat dalam Novel yang pernah kami baca:
Man Jadda Wa Jadda (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).
Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung).
Man Sara Ala Darbi Washala (Sapa yang berjalan dijalan-Nya akan sampai tujuan).

Yang membuat kami kuat hingga dua tahun berlalu. 
To be continue part 2.

  

1 comments:

ibupuspitawati mengatakan...

KARNA RASA HATI YANG GEMBIRA BERKAT BANTUAN AKI SOLEH
MAKANYA SENGAJA NAMA BELIAU SAYA CANTUNKAN DI INTERNET !!!

assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
Terima kasih kepada: AKI SOLEH
atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2…
orang tua saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2.
Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
yang ingin merubah nasib
seperti saya...?
SILAHKAN GABUNG SAMA AKI SOLEH No; { 082-313-336-747 }

Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini...!!
1: Di kejar2 tagihan hutang..
2: Selaluh kalah dalam bermain togel
3: Barang berharga sudah
terjual buat judi togel..
4: Sudah kemana2 tapi tidak
menghasilkan, solusi yang tepat..!
5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual blom dapat juga,
satu jalan menyelesaikan masalah anda..
Dijamin anda akan berhasil
silahkan buktikan sendiri
Atau Chat/Tlpn di WhatsApp (WA)
No WA Aki : 082313336747

TERIMA KASIH YANG PUNYA
ROOM ATAS TUMPANGANYA SALAM KOMPAK SELALU
Angka;GHOIB: Singapura
Angka;GHOIB: Hongkong
Angka;GHOIB; Toto Malaysia
Angka”GHOIB; Laos…
Angka”GHOIB; Macau
Angka”GHOIB; Sidney
Angka”GHOIB: Brunei
Angka”GHOIB: Thailand
"KLIK DISINI BOCORAN TOGEL SGP HK SDY DAN DLL"