Jumat, 06 September 2019

Cerita Dara Dibalik Kemerdekaan


Vina Vona Lisa
Karya : Vina Vona Lisa

Tepat 17 Agustus 1945, 74 tahun sudah merdeka.
Dan dia turut bahagia, bangga dan haru.
Menghilang sekejab rasa hati yang pernah luka.
Perih tak berdarah sakitpun tak membiru akibat aksi kekerasan di masa lalu.
Kala itu, bapak, ibu dan saudara lelakinya dipaksa bekerja oleh kolonel-kolonel penjajah.
Dan dia, dia satu-satunya anak dara di rumah.
Dia disembunyikan oleh bapaknya, dari matahari naik kembali.
Turun, begitu dan begitu seterusnya
sampai nasib baik tak berpihak padanya.
Katanya, aku bukan R.A Kartini, aku bukan pula Cut Nyak Dhien dan aku bukanlah pahlawan wanita, aku cuma dara bernasib malang kala itu.
Terlepas genggaman dari bapaknya, dan perlahan menghilang suara tangisan ibunya.
Bagaikan ikatan tali rafia yang dililit berkali-kali hingga terlihat genting.

Ganasnya genggaman tangan penjajah.
Hancur hatinya.
Hancur martabatnya.
Hancur masa depannya.
Teriaknya, lepaskan aku, jangan renggut harga diriku, jangan sentuh aku.
Berkali-kali, jangan, jangan, jangan.
Tak berguna, sudah terlentang dan berjejer dara-dara di depan mata yang bernasib sama.
Malang yang tak diminta menjadi santapan-santapan kolonel-kolonel bernafsu buas, berlaku biadab dan keji.

Sejarah tak minta berulang.
Tapi pun tak dapat dihapuskan.
Indonesia, merdeka bukan dengan meminta dan memohon.
Tapi merdeka dengan air mata, kehilangan keluarga, kehilangan martabat, harga diri.
Dengan darah, sayatan-sayatan luka, lubang-lubang peluru menembus dada.
Korban-korban dara yang lemah menjadi tumbal bagi penjajah.
Sekarang, merdekalah dengan bebas tapi beradab.
Merdekalah dengan saling menghormati.
Bebaslah berpendapat tapi dengan aturan yang berlaku.
Merdekalah dengan bersatu bukan berpecah belah rasis.

Indonesia, merdeka dengan luas lahan dari Sabang sampai Merauke.
Dari ujung Sumatera sampai Papua.
Kita saudara.
Kita satu keluarga.
Indonesia, aku bangga menjadi dara yang terlahir di bumi ibu pertiwi.
Dengan kemerdekaan penuh perjuangan.
Terima kasih negaraku, Indonesia.

0 comments: