Jumat, 27 September 2019

Dampak Sosial Diaspora Indonesia Di Malaysia


Oleh : Arief Rahman Haq

Menurut data register BNP2TKI ada sekitar 90,7 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ditempatkan di Malaysia pada tahun 2018. Jumlah yang sangat besar dan masih paling besar dibandingkan dengan negara penempatan TKI yang lainnya. Terbayang bagaimana kaum diaspora Indonesia dapat tersebar merata di negeri jiran ini. Penyebaran kaum migran dan diaspora ini tak ayalnya memunculkan fenomena perubahan sosial budaya yang mulai menguat dan diterima oleh masyarakat Malaysia melalui proses asimilasi dan akulturasi. Dampaknya, produk-produk sosial budaya Indonesia pun tersebar merata di semenanjung benua Asia ini. 

Beberapa contoh produk-produk tersebut ialah kesenian-kesenian yang ikut terbawa oleh kaum diaspora hingga dapat diterima dan berkembang di tanah Malaya. Sebut saja kesenian Kuda Lumping, Reog Ponorogo, silat-silat asli Indonesia seperti Silat Bugis, Silat Sunda, Silat Minang, Silat Betawi, Silat Jawa, dan silat lainnya. Bahkan beberapa perguruan silat Indonesia telah secara resmi mendirikan cabang luar negeri. Seperti contohnya perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate yang telah mendirikan Cabang Khusus Luar Negeri merata di setiap negeri di Malaysia dan ikut aktif berperan serta di setiap event silat yang diadakan oleh Badan Persatuan Silat Malaysia. 

Hal sedemikian juga terjadi pada beberapa perguruan silat terkemuka asal Indonesia yang berhasil mengembangkan diri sampai ke negeri jiran ini, beberapa kesenian bahkan telah disahkan sebagai kesenian asli Malaysia. Ini adalah salah satu hal yang mengakibatkan banyak pertentangan antara kedua negara yang bahkan sampai harus dimejahijaukan di hadapan PBB. Padahal, sebenarnya masyarakat Malaysia pada umumnya mengakui bahwa kesenian-kesenian tersebut adalah kesenian yang sejatinya berasal dari Indonesia yang dibawa oleh leluhur mereka yang memang berasal dari Indonesia ke Semenanjung Malaya. Hal tersebut bahkan terjadi lama sebelum kedua negara ini merdeka. Seperti contoh, kesenian Kuda Lumping yang disahkan sebagai kesenian asli Johor (dalam segi bahasa, kata  “asli” di sini berarti “tradisional”, bukan berarti “asal”) yang memang dari zaman pra-kemerdekaan sudah mulai tersebar di negeri Johor. Tentu saja, mereka mengakui bahwa kesenian tersebut dibawa oleh leluhur mereka yang merupakan diaspora dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Hal ini jadi permasalahan ketika Kerajaan Malaysia menjadikannya ikon seni untuk menunjang pariwisatanya. Begitu pula kurang lebihnya yang terjadi pada kesenian-kesenian lainnya, seperti Reog Ponorogo, Wayang, Batik, Silat, dan lain sebagainya.

Diaspora dari berbagai daerah di Indonesia ini membentuk komunitas-komunitas yang didasarkan asal daerah mereka, organisasi masyarakat yang mereka ikuti saat di kampung halaman, juga ada yang membentuk komunitas yang beralaskan kesadaran diri akan nasionalisme yang akhirnya tidak memandang ras dan suku. Contohnya, Komunitas Organisasi Pekerja Migran Indonesia atau disingkat KOMI, Komunitas Pejuang Devisa Peduli disingkat PDP, dan lain sebagainya. Pembentukan komunitas ini terdorong selain oleh rasa kesatuan juga oleh rasa ingin bersama-sama mengayomi sesama penduduk migran di negeri jiran yang jauh dari kampung halaman. Di samping itu, berdirinya komunitas-komunitas tersebut juga turut membantu mempermudah tugas KBRI dan juga KJRI dalam hal penyebaran informasi, sensus, juga dalam hal-hal mempermudah ditunaikannya hak dan kewajiban para imigran sebagai warga negara Indonesia, misalnya pada saat pemilihan umum.

Masih di segi budaya, salah satu yang menonjol dari budaya yang disebarkan oleh para migran dan kaum diaspora ialah produk kulinernya. Ayam penyet, bakso, soto, nasi Padang, sate Madura dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya semakin mudah ditemukan di sepanjang tepian jalan merata di seantero negeri-negeri di Malaysia. Makanan-makanan khas Indonesia tersebut bahkan telah menjadi makanan favorit sehari-hari di sini. Ayam penyet dan soto sudah menjadi menu utama di setiap kedai makan melayu. Hal tersebut membuat kuliner menjadi salah satu peluang usaha terbesar bagi para migran dan kaum diaspora. Warung Jawa, warung Boyan, juga warung Minang merupakan kedai makan yang semakin menjamur saja di Malaysia.

Produk-produk sosial budaya yang dibawa oleh para migran Indonesia sangat mudah untuk diterima oleh masyarakat setempat. Semakin hari semakin terasa, menjadikan suasana di Semenanjung Malaya terasa semakin seperti suasana kampung halaman dan menjadikan merantau serasa seperti tak sedang merantau. 

0 comments: