Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Senin, 30 September 2019

Pembekalan Tutor TTM Di UT Pokjar Johor

Dokumen UT Pokjar Johor
Kegiatan Pembekalan Tutor TTM menghadirkan narasumber Ibu Adisti Yuliastrin, S.Si selaku PJB BBLBA UPBJJ-UT Batam. Acara yang dilaksanakan di Konsulat Jenderal RI Johor Bahru pada Minggu, 29 September 2019 pukul 11:00AM s/d 12:30PM ini bertujuan memberikan pembekalan kepada tutor untuk teknis pelaksanaan TTM di UT Pokjar Johor yang akan dilaksanakan mulai 6 Oktober mendatang.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh tutor UT Pokjar Johor Bapak Ardian Nur Rizki, S.Pd, Bapak Raden Dodhi Agusta Perkasa, M.A., Mus.Ed serta beberapa pengurus DPM UT Pokjar Johor dan di dampingi oleh Pensosbud KJRI Johor Bahru. Dalam kegiatan ini, para tutor TTM diberikan materi tentang teknis pelaksanaan, sistem serta beberapa prosedur tentang TTM.

Menurut Ibu Adisti Yuliastrin, S.Si, selaku PJB BBLBA UPBJJ-UT Batam, beliau senang melihat teman-teman Pengurus DPM UT Pokjar Johor semakin memahami akan tugasnya untuk memfasilitasi teman-teman mahasiswa terutama yang baru agar dapat lebih memahami sistem belajar mandiri di UT. Ia juga menambahkan, mahasiswa UT Pokjar Johor dari waktu ke waktu peminatnya meningkat, tentunya dengan menjadi mahasiswa saja tidak cukup dengan nilai-nilai bagus semata, tentu harus banyak dibekali dengan keterampilan lain yang menunjang masa depan. Melalui TTM ini menjadi salah satu cara mahasiswa untuk belajar mandiri serta wadah untuk saling bertemu dengan sesama mahasiswa, tutor bahkan orang-orang penting lainnya. Mahasiswa dapat mengambil banyak ilmu dari pertemuan itu. 
Tentu kedepannya harapan kami TTM menjadi semakin banyak peminatnya dan dapat terus meningkatkan akademik mahasiswa. 
Endri Mardiansyah

Jumat, 27 September 2019

UT Pokjar Johor Rekrut Dua Tutor Baru Dan Menambah Kelas TTM

Dokumen UT Pokjar Johor

Memasuki tahun akademik 2019.2, UT Pokjar Johor yang merupakan Pokjar pertama di Malaysia telah menerima mahasiswa baru sebanyak 49 mahasiswa, ke 49 mahasiswa baru tersebut terdiri dari berbagai jurusan seperti Manajemen, Ilmu Komunikasi, Sastra Inggris BMP, Administrasi Negara, Administrasi Bisnis, Ilmu Hukum, Ekonomi Pembangunan dan Sosiologi.

Tutorial Tatap Muka atau biasa disebut TTM salah satu sistem belajar UT yang mempertemukan mahasiswa dengan tutor di dalam sebuah kelas. TTM pertama kali dibuka UT Pokjar Johor pada tahun 2017 dengan dua kelas TTM yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ibu Neli Syaripah, S.Pd dan Bapak Rahmat Suardi, S.Pd yang merupakan guru Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB) menjadi tutor kedua matakuliah tersebut mulai dari tahun 2017 sampai 2019, dan pada tahun 2019.1 Pengurus DPM UT Pokjar Johor berhasil menambah satu kelas TTM matakuliah Pengantar Akuntasi dan Ibu Ninus Yustisia Dwirini, S.E., M.Ak selaku BPKRT KJRI Johor Bahru menjadi tutor matakuliah tersebut.

Untuk meningkatkan nilai akademik mahasiswa, Pengurus DPM UT Pokjar Johor 2019 yang tergabung dalam Kabinet Aktif, Kreatif, Regenerasi, Amanah dan Bertanggungjawab (AKRAB) merekrut dua tutor baru dan menambah satu kelas TTM. Bapak Rahmat Suardi yang sebelumnya menjadi tutor Bahasa Inggris selama lima semester harus mengakhiri tugasnya sebagai tutor UT karena akan kembali ke Indonesia setelah purna tugas sebagai pengajar di SIJB. Untuk menggantikan peran Bapak Rahmat, pengurus DPM UT Pokjar Johor bekerjasama dengan KJRI Johor Bahru merekrut Bapak Raden Dodhi Agusta Perkasa, M.A., Mus.Ed yang juga rekan sejawat Bapak Rahmat di SIJB. Selain merekrut Pak Dodhi, UT Pokjar Johor juga merekrut Bapak Ardian Nur Rizki, S.Pd untuk tutor matakuliah PKN, yang mana matakuliah PKN ini merupakan kelas TTM  yang berhasil dibuka UT Pokjar Johor pada tahun 2019.2 ini.

Dengan demikian, TTM yang awalnya di anggap mustahil bisa dibuka di UT Pokjar Johor telah dibuktikan oleh pengurus bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini selagi kita mau kerja keras, kerjasama, berusaha, berdoa dan bertawakal untuk kepentingan orang banyak. Dari tahun 2017.1 sampai 2019.2 UT Pokjar Johor telah berhasil menjawab sebuah kemustahilan dengan melaksanakan atau membuka kelas TTM sebanyak empat kelas yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pengantar Akuntansi dan PKN.

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, Pengurus DPM UT Pokjar Johor, KJRI Johor Bahru, Sekolah Indonesia Johor Bahru dan mahasiswa UT Pokjar Johor. Pencapian ini merupakan hasil kerja keras dan kerjasama kita semua, semoga dengan adanya TTM ini dapat lebih meningkat nilai akademik mahasiswa dan semoga ditahun-tahun yang akan datang kelas TTM bisa dibuka lebih banyak lagi. (Endri Mardiansyah)

Dampak Sosial Diaspora Indonesia Di Malaysia


Oleh : Arief Rahman Haq

Menurut data register BNP2TKI ada sekitar 90,7 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ditempatkan di Malaysia pada tahun 2018. Jumlah yang sangat besar dan masih paling besar dibandingkan dengan negara penempatan TKI yang lainnya. Terbayang bagaimana kaum diaspora Indonesia dapat tersebar merata di negeri jiran ini. Penyebaran kaum migran dan diaspora ini tak ayalnya memunculkan fenomena perubahan sosial budaya yang mulai menguat dan diterima oleh masyarakat Malaysia melalui proses asimilasi dan akulturasi. Dampaknya, produk-produk sosial budaya Indonesia pun tersebar merata di semenanjung benua Asia ini. 

Beberapa contoh produk-produk tersebut ialah kesenian-kesenian yang ikut terbawa oleh kaum diaspora hingga dapat diterima dan berkembang di tanah Malaya. Sebut saja kesenian Kuda Lumping, Reog Ponorogo, silat-silat asli Indonesia seperti Silat Bugis, Silat Sunda, Silat Minang, Silat Betawi, Silat Jawa, dan silat lainnya. Bahkan beberapa perguruan silat Indonesia telah secara resmi mendirikan cabang luar negeri. Seperti contohnya perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate yang telah mendirikan Cabang Khusus Luar Negeri merata di setiap negeri di Malaysia dan ikut aktif berperan serta di setiap event silat yang diadakan oleh Badan Persatuan Silat Malaysia. 

Hal sedemikian juga terjadi pada beberapa perguruan silat terkemuka asal Indonesia yang berhasil mengembangkan diri sampai ke negeri jiran ini, beberapa kesenian bahkan telah disahkan sebagai kesenian asli Malaysia. Ini adalah salah satu hal yang mengakibatkan banyak pertentangan antara kedua negara yang bahkan sampai harus dimejahijaukan di hadapan PBB. Padahal, sebenarnya masyarakat Malaysia pada umumnya mengakui bahwa kesenian-kesenian tersebut adalah kesenian yang sejatinya berasal dari Indonesia yang dibawa oleh leluhur mereka yang memang berasal dari Indonesia ke Semenanjung Malaya. Hal tersebut bahkan terjadi lama sebelum kedua negara ini merdeka. Seperti contoh, kesenian Kuda Lumping yang disahkan sebagai kesenian asli Johor (dalam segi bahasa, kata  “asli” di sini berarti “tradisional”, bukan berarti “asal”) yang memang dari zaman pra-kemerdekaan sudah mulai tersebar di negeri Johor. Tentu saja, mereka mengakui bahwa kesenian tersebut dibawa oleh leluhur mereka yang merupakan diaspora dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Indonesia. Hal ini jadi permasalahan ketika Kerajaan Malaysia menjadikannya ikon seni untuk menunjang pariwisatanya. Begitu pula kurang lebihnya yang terjadi pada kesenian-kesenian lainnya, seperti Reog Ponorogo, Wayang, Batik, Silat, dan lain sebagainya.

Diaspora dari berbagai daerah di Indonesia ini membentuk komunitas-komunitas yang didasarkan asal daerah mereka, organisasi masyarakat yang mereka ikuti saat di kampung halaman, juga ada yang membentuk komunitas yang beralaskan kesadaran diri akan nasionalisme yang akhirnya tidak memandang ras dan suku. Contohnya, Komunitas Organisasi Pekerja Migran Indonesia atau disingkat KOMI, Komunitas Pejuang Devisa Peduli disingkat PDP, dan lain sebagainya. Pembentukan komunitas ini terdorong selain oleh rasa kesatuan juga oleh rasa ingin bersama-sama mengayomi sesama penduduk migran di negeri jiran yang jauh dari kampung halaman. Di samping itu, berdirinya komunitas-komunitas tersebut juga turut membantu mempermudah tugas KBRI dan juga KJRI dalam hal penyebaran informasi, sensus, juga dalam hal-hal mempermudah ditunaikannya hak dan kewajiban para imigran sebagai warga negara Indonesia, misalnya pada saat pemilihan umum.

Masih di segi budaya, salah satu yang menonjol dari budaya yang disebarkan oleh para migran dan kaum diaspora ialah produk kulinernya. Ayam penyet, bakso, soto, nasi Padang, sate Madura dan makanan-makanan khas Indonesia lainnya semakin mudah ditemukan di sepanjang tepian jalan merata di seantero negeri-negeri di Malaysia. Makanan-makanan khas Indonesia tersebut bahkan telah menjadi makanan favorit sehari-hari di sini. Ayam penyet dan soto sudah menjadi menu utama di setiap kedai makan melayu. Hal tersebut membuat kuliner menjadi salah satu peluang usaha terbesar bagi para migran dan kaum diaspora. Warung Jawa, warung Boyan, juga warung Minang merupakan kedai makan yang semakin menjamur saja di Malaysia.

Produk-produk sosial budaya yang dibawa oleh para migran Indonesia sangat mudah untuk diterima oleh masyarakat setempat. Semakin hari semakin terasa, menjadikan suasana di Semenanjung Malaya terasa semakin seperti suasana kampung halaman dan menjadikan merantau serasa seperti tak sedang merantau. 

Rabu, 25 September 2019

Asaku



Oleh : Ulfa Jisandry

Hatiku sakit.
Jiwaku lelah.
Tapi asaku tak jua sirna.

Pernah ku coba pasrah.
Tapi nuraniku meronta.

Pernah coba ku cari jalan lain.
Tetapi aku merasa seperti selingkuh dari mimpi-mimpiku.

Pernah pula jalan-jalan lain begitu terbuka.
Menarikku untuk terus menapakinya.

Tapi apa daya.
Kakiku terpaku pada jalan yang membuatku lemah.
Pada jalan yang membuatku lelah.

Aku tidak bisa beranjak.
Seakan hati ini menolak.
Seolah dia tahu yang dia tuju.
Meskipun masih ambigu.

Aku rindu.

Minggu, 22 September 2019

Mommy

Ibu Lasmi
Oleh : Dessy Fauzica Fristha Towerina

Assalamu'alaikum Warohmarthullahi wabarokatuh
Hai teman-teman! Apa kabarnya kalian semua? aku berharap agar kalian selalu sehat. Amin Yaa Robbal'alamin.

Dalam kesempatan kali ini, aku akan bercerita tentang seseorang yang menjadi salah satu motivasiku terutama dalam berkuliah.

Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya, tapi beliau sering disapa Ibu. What? Ibu? sudah tua dong. Hushhh jangan sembarangan. Walaupun beliau sudah berkeluarga dan memiliki anak, soal semangat, beliau tidak kalah dengan yang muda. Yupss, jiwa muda yang ada pada dirinya menjadi semangat yang pertama untukku tidak boleh kalah darinya.

Beliau memang sudah bersuami dan memiliki 3 orang anak. Beliau menempuh jenjang pendidikan tinggi di UT pada tahun 2016 semester ganjil. Biarpun sudah berkuliah, bukan berarti beliau tidak repot mengurus keluarga. Ditambah lagi beliau mengepalai sebuah sekolah Indonesia di tempat tinggalnya yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Tapi, beliau sangatlah beruntung. Memiliki suami yang penyayang dan anak-anak yang penurut dan berprestasi. Aku sendiri berani menjadi saksi.

Bila suaminya pergi bekerja, anak-anaknya sedang libur sekolah, mereka membantu Ibu Lasmi membereskan rumah. Anaknya yang pertama yaitu Aca (Panggilan kesayangan) yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Perak-Malaysia selalu membantu Ibu Lasmi mengajar di ICC Muar, mengemas rumah dan pastinya selalu bercengkrama dengan Ibundanya sebagai pengobat rindu selama belajar jauh.

Sedangkan anaknya yang no. 2 yaitu Navin, sosok anak lelaki yang kalem dan sungguh patuh kepada orang tuanya rela terjun ke dapur langsung mencuci piring-piring kotor. Bahkan ia juga suka membantu Ibu Lasmi memasak.

Sementara anaknya yang bungsu, Adit, anak lelaki yang selalu ceria dan ramah kepada siapapun yang datang ke rumahnya selalu bersemangat membantu Ibu Lasmi dalam membereskan rumah.

"Keluarga kami selalu penuh dengan kasih sayang", ungkap Ibu Lasmi kepadaku dan teman-teman UT yang suka sekali singgah dan menginap di rumah Ibu. Khususnya dengan teman-teman yang dekat, Ibu Lasmi sudah seperti Ibu kami sendiri.

Ibu Lasmi adalah Ibu sekaligus tempat curhat kami selama kuliah dan tinggal disini. Awalnya canggung berjumpa beliau tapi beliau pandai mengayomi anak-anak sehingga serasa tidak asing lagi bila berada didekatnya.

Tidak hanya dengan teman 1 jurusan, dengan siapapun Ibu Lasmi selalu memberi kasih sayang. Jika ada beliau didekat kami, kami sudah seperti anak kecilnya.

Pada awalnya, aku merasa malu untuk bertatap muka langsung dengannya.

Kisahnya berawal dari pemilihan ketua DPM 2017, Ibu Lasmi ikut menjadi salah satu calon kandidatnya. Aku mendukung beliau dengan berkomentar di fotonya yang di upload oleh facebook UT sebagai bentuk perkenalan tentang dirinya.

Berlanjut aku kirim inbox ke beliau untuk meminta no.whatsappnya. Tak disangka, beliau begitu ramah dan memberikan no.whatsappnya. Berlanjut ke whatsapp, aku dan beliau saling mengirim pesan menggunakan bahasa Inggris. Wow, menakjubkan, berasa kami ini bule beneran.

Nah, berasa jadi penasaran setelah sekian lama berchat-chat ria. Kami dipertemukan saat aku ada kelas TTM (Tutorial Tatap Muka) bersama Mr. Rizal. "Maaf, Pak. Mau berjumpa Fristha", ucap seseorang dengan nada lembut memasuki kelasku.

Aku mengangkat kepalaku sambil mencari sumber suara itu. "Nduk", panggil Ibu Lasmi sambil menghampiri sembari memeluk dan menciumku. "Ibu", sahutku sambil memeluknya lama. Tak sadar air mataku menetes. Beliau meminta salah satu temanku untuk memotret kami berdua dan beliau bergegas pulang karna kunjungannya ke Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB) hanya sebentar.

Aku masih terharu memandangnya hingga menutup pintu aula. "Kamu kenal Ibu Ami?", tanya Mr. Rizal. Aku menceritakan bahwa tadi adalah pertemuan kami untuk pertama kalinya. Saat aku tahu bahwa Ibu Lasmi adalah seorang pengajar, aku benar-benar takjub. Karna selama ini, aku hanya tahu Ibu Lasmi adalah sesama mahasiswa UT denganku.

Semenjak itu, aku bersama Miss Nuan dan Mbak Dian kerap bermain kerumah Ibu Lasmi. Tak hanya itu, tali silaturahmi kami semakin erat dengan akrabnya kami bersama anak-anak dan suaminya. Klo sudah sampai sana, status Ibu Lasmi berubah menjadi Ibu beranak banyak. Setiap mau pulang, pasti kami disayang-sayang dan tak mau berpisah. Ya bagaimana lagi, aku dan yang lainnya adalah pekerja juga jadi kami harus pulang.

Beberapa hari yang lalu, aku mengetahui ada info Ibu Lasmi beserta 2 mahasiswi UTJB lulus TAP dan terjaring Yudisium. Surat Keputusan Yudisium disebar melalui grup chat whatsapp kampus dan kebahagiaan langsung menyelimuti perasaanku saat itu juga. Dengan perasaan haru, aku menyampaikan ucapan selamat kepada Ibu Lasmi. Apa yang diharapkan beliau sebagai syarat mengajar akhirnya tercapai.

Sebentar lagi, beliau akan diwisuda. Dan aku berharap untuk bisa menyaksikannya memakai toga. Selamat ya, Ibu Lasmi. Tetaplah menjadi motivasiku. Aku sayang Ibu Lasmi.

Sekian cerita ini aku sampaikan. Melalui tulisan ini, aku berharap tetap selalu bersemangat seperti Ibu Lasmi.

Wassalamu'alaikum Warohmarthullahi Wabarokatuh

Jumat, 20 September 2019

Jejak Usia Kita (Memulai) Part 1

J.O
Oleh : J.O

2016 tahun yang membahagiakan sekaligus menegangkan untuk kita para pelajar SMK rasakan. Detik-detik melaksanakan Ujian Nasional sekaligus menunggu hasil pengumuman. Tentu saja, banyak rencana dan rancangan yang telah kami rancang dengan baik menurut kami saat itu. 
Mulai dari kuliah, kerja di Jakarta, kerja di Malaysia sampai rencana menikah.
Lucu memang kehidupan kami para anak remaja yang masih labil layaknya remaja seusianya. Walau pada umumnya aku berfikir ingin seperti gas mulia yang stabil, tapi pada masa yang kita anggap sebagai masa penjajahan moral dengan berbagai budaya yang saat itu masih silih berganti layaknya fashion dengan berbagai model satu dengan lainnya. 
Sulit membedakan mana fashion yang baik dan yang buruk semua mengikuti trend yang sedang berputar. 

Aku memang sudah memutuskan pergi ke Malaysia jauh sebelum ujian, lebih tepatnya saat memasuki kelas 11 di SMK. Karena memang ada hal yang harus aku tanggung dan aku pikul saat itu. Aku selalu berfikir “Ya, aku memang anak labil pada usianya. Aku akan menikmati masa mudaku saat SMK. Namun selepas itu ada hal yang harus aku tanggung untuk kedepannya”. Aku cenderung mengamati dan meyakinkan diri sebelum memulai atau mengikuti sesuatu, karena penyesalan setelahnya sangat menganggu pikiranku. Bukan hanya saat itu, tapi bisa jadi kedepannya.

Banyak berita serta gunjingan yang tersebar berkaitan dengan Pekerja Indonesia di Malaysia saat itu. Bahkan agkatan terdahulu sebelum kami yang sudah lama disana tak luput dari kabar miring. Mulai dari gambar di media sosialnya yang menurut kami kurang sopan pada saat itu sampai mereka yang masih peduli dan memberi penghargaan bagi siswa SMK kami yang berprestasi. 
Entah kenapa dan entah apa yang aku fikirkan saat itu saat mereka membicarakan kakak kelas kami aku tak sengaja megatakan “Besok aku kesana akan menjadi yang berbeda, bukan upload gambar baju pendek tapi tudung labuh yang besar” aku masih ingat kata-kata itu sampai saat ini. Lucu memang, demi membela diri pada saat itu, aku mengatakan hal yang belum tentu kebenarannya bahkan berkesan sombong.

Semua berlalu begitu cepat, bahkan saat seleksi sampai keberangkatan kami ke Malaysia. Mulai dari kilang yang tiba-tiba dirubah nama sampai jumlah angkatan yang sangat aneh menurut kami saat itu. Kilang Maruwa Melaka menjadi TDK Lambda Senai, sampai jumlah angkatan yang awalnya 200 menjadi 6 orang. Ada rasa syukur juga sedih saat itu, untuk pertama kali anak-anak berumur 18 tahun merantau ke negeri orang belum lagi ijazah yang belum dicap tiga jari saat itu. 
Semua bermodal nekad pada kenyataannya, izin orang tua yang bisa dibilang terpaksa mengiyakan keinginan kami anak remaja. 

Tiga minggu sebelum puasa kami terbang ke Malaysia, bukan untuk liburan atau sekedar tamasya keluarga, melainkan dengan tujuan dan tekad masing-masing diantara kami. Ada tujuan mencari uang untuk keluarga, untuk biaya sekolah adik, melunasi hutang, sampai mengumpulkan uang untuk kembali melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Dua minggu disana aku hanya mengamati lingkungan sekitar hostel kami yang memang rumah banglo saat itu, di Kempas Lurah 7 dekat Kuil India.

Ada hal yang menarik perhatianku saat itu, yaitu para kakak-kakak sebelum kami yang telah lama bekerja disana. Mereka pergi setiap hari ahad, berpakaian lengkap seorang muslimah. Memakai gamis, kaos kaki, tudung labuh dan satu lagi mereka selalu membawa ransel setiap pergi.
“Menarik” pikirku saat itu, namun tak terfikir dalam benakku untuk mengikuti jejak mereka. Sampai pada suatu hari di hostel kami ada histeria yang membuat panik semua orang. 

Mba Suci kakak samping kamarku saat itu: “Dek, panggilkan Mba Isti suruh turun ke bawah. Kak Juli histeria”. (panik memegang Kak Juli yang meronta).

Aku yang tidak mengenal Mba Isti saat itu lebih panik karena mencari nama yang tak pernah aku dengar dan kenali sebelumnya. Bertanya asal orang di lantai atas, mengetuk pintu kamar di lantai atas dan bertanya dimana kamar Mba Isti saat itu. Dan ternyata kamar Mba Isti bersebelahan dengan kamar yang aku ketuk pintunya. Dengan suara serak dan panik aku mulai bertanya pada seisi kamar “Mba, ada yang namanya Mba Isti apa tidak? Kak Juli histeria dibawah katanya suruh panggil Mba Isti”. ucapku setelah melihat beberapa orang yang sedang berkumpul di lantai kamar.

“Ya dek, nanti mba turun. Tak pakai jilbab dulu, kamu duluan aja” sahut seseorang yang ku pikir itu Mba Isti.

Dari peristiwa itulah aku mengenal Mba Isti yang ternyata salah satu dari mereka yang aku perhatikan sebelumnya. Aku mulai bertanya perihal hari ahad yang mereka selalu pergi. 
“Mba Isti, aku boleh tanya ngga?” tanyaku setelah Kak Juli mulai tenang dan para penghuni hostel kembali ke kamar masing-masing.
“Tanya apa dek?” jawab Mba Isti duduk di ruang depan hostel kami.
“Setiap hari ahad mba kemana? pakaian kaya gitu? tanyaku to the point dengan Mba Isti.
“oh, itu pergi ke kajian dek. Setiap hari ahad kita ke rumah ummi untuk belajar dan ngaji bersama. Adek mau ikut ahad depan ini? Sebelum ini juga ada yang tanya dan mau ikut juga. Anak baru datang juga, kayaknya satu kamar kamu namanya Maya”
Mba Isti menjelaskan dengan nada santai dan tenang.
“boleh mba” jawabku mantab.
“besok bawa alat tulis ya, sama Al-Qur’an. Ngga usah bawa mukena ngga papa, dirumah ummi ada mukena.” lanjut Mba Isti setelah mendengar jawabaku yang meng-iyakan.

Hari ahad telah tiba, kami sudah bersiap dengan pakaian masing-masing dan dengan ransel masing-masing. Dengan menaiki taksi langganan Mba Leni salah satu anggota liqo, kami sampai di bus stop terdekat dari Tampoi. Betapa mulanya kami kaget, kenapa mereka menyapa, menyalami, serta mencium pipi kanan dan kiri orang yang belum aku dan Maya kenal sebelumnya. 
Dan ternyata mereka adalah teman satu liqo kami juga yang sedang menunggu bus. Ramai memang, aku dan Maya ikut menyalami mereka satu persatu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” sapa mereka dibarengi menjabat tangan aku dan Maya bergantian.“ Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab kami dengan senyum yang masih penasaran dan muka polos yang kami punyai. 
“Perkenalkan, Maya dan Jule teman baru di hostel kita.” Mba Isma menjelaskan pada mereka yang belum kami kenal namanya satu persatu. “Jule, Maya jangan kaget, temen liqo kita memang banyak ada yang ketemu di bus stop kaya sekarang. Dan nanti ada lagi kita ketemu saat di bus. Mba juga gitu, bingung dan kaget juga ada.” sambung Mba Leni menjelaskan pada kami.

Bus kami datang satu jam sekali terkadang juga tidak pasti. Menunggu kami tentu saja tidak membosankan, sebab diiringi perkenalan, penjelasan, serta perhatian dari mereka yang lebih dulu mengikuti liqo mingguan. Liqo ini bagi mereka ialah pengganti keluarga dan teman di kampung yang jauh. Ya, kamilah keluarga baru mereka yang akan selalu mereka ingatkan dan nasihati bila ada salah dan silap kami secara dengan sengaja atau karena kami belum mengetahuinya.
Dan benar apa kata Mba Leni, kami berjumpa banyak orang lagi didalam bus. Kami saling salam dan berkenalan satu sama lain disana. Serasa bus ini milik kami semua, bukan lagi bus umum tapi bus keluarga.

Seperti syair Imam Syafi’i:
“Merantaulah dan tinggalkan negerimu. Merantaulah kau akan dapakan pengganti kerabat dan kawan”.

Sesampainya kami di rumah ummi ternyata sudah ramai yang menunggu kedatangan kami. Memang aku belum melihat seberapa banyaknya sebab kami baru sampai depan rumah. Namun terlihat dari banyaknya pasangan sepatu yang tidak beraturan di depan sana. Awalnya malu dan ingin pulang juga. Sebab memang tidak menyangka sebanyak ini teman yang akan menjadi keluarga kita.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” sapa kami saat memasuki rumah ummi bergantian.
Saling salam dan bersalaman dengan berjalan memutar menggunakan lutut sebagai rasa saling hormat satu sama lain. Yang memang adat kita di Indonesia saat datang di perkumpulan atau pengajian ibu-ibu di kampung kami.

Wa’alaikumsalam wrahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah sudah pada datang yang ditunggu. Ummi lihat ada wajah-wajah baru” Sapa hangat ummi saat melihat kami setelah selesai bersalaman dan duduk melingkar. Senyum beliau hangat, ramah, dan tulus. Membuat siapa saja yang berada disini menjadi betah dan damai. Bahkan aku dan Maya yang baru datang berasa menemukan keluarga yang telah lama terpisah. 

“Yang baru datang boleh minum dulu, pasti haus dari perjalanan jauh kan? Nah, air kelapa buatan ummi sendiri. Gorengan buatan ummi sendiri lho”  Tanya  serta terang ummi dengan senyuman yang masih aku ingat hangat saat ini. Tangannya sibuk menuangkan air ke gelas polistrin untuk kami. 

“Ummi memang selalu begini, siapkan minum, dan cemilan untuk kita anak-anaknya. Ada masak nasi juga, kadang masak soto, rendang dan buat kue sendiri. Semua memang ummi buat sendiri, ummi rajin meski sibuk dengan banyak kegiatan”. Memang diantara semua Mba Leni yang sibuk menjelaskan kepada aku dan Maya. Mba Leni yang bawel, cerewet dan kepo. Memang sering dipanggil Leni kepo oleh kebanyakan temannya. Tapi, itu salah satu panggilan pengenal sebab nama Leni lebih dari satu di hostel kami.

Liqo kami dimulai dengan tilawah Qur’an yang dibaca secara bergilir masing-masing membaca 2-5 ayat meneruskan bacaan terakhir ahad lalu. Setelah selesai tilawah dilanjutkan dengan qultum yang juga bergilir setiap minggunya. Kata ummi untuk melatih keberanian kita dalam berbicara dan hadapan orang banyak. Setelah selesai qultum, ummi mengisi acara inti yaitu penjelasan dari ummi mengenai materi hari itu. Banyak sesi tanya jawab dalam liqo hari ini, dan juga banyak hal yang memang aku sendiri belum ketahui sebelumnya.

Aku masih ingat sapaan ummi saat itu mengajak kami berkenalan.“Itu yang imut pakai jilbab biru namanya siapa? Ummi belum pernah lihat sebelumnya. Ayo dong yang baru datang kita ta’arufan. Tak kenal maka …. tak sayang. Kalo sekarang tak kenal maka … ta’aruf.” tanya dan sapa ummi pada kami dengan sangat bijak memilih kata untuk mengajak kami berkenalan.

“Sana perkenalkan diri, bilang Assalamualaikum, nama, sama umur, dari mana asalnya keja dimana sekarang” papar Mba Leni yang menyikut lengan aku dan Maya. Pikirku sudah macam sensus penduduk.
Memang sangat awam kami dalam hal ini, ditambah malu yang tidak bisa dihindari.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan saya Maya umur 18 tahun, dari Purworejo, Jawa Tengah, tinggal di Kempas Lurah 7, kerja di Tdk Lambda Senai.”. Maya mulai memperkenalkan diri untuk yang pertama sebelum aku.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan saya Jule, umur 18 tahun, dari Purworejo, Jawa Tengah, tinggal di Kempas Lurah 7, kerja di Tdk Lambda Senai.” menyambung perkenalan.

“Masih muda sekali, masih imut-imut umur 18 tahun sudah sampai ke Malaysia. Berani lho ya, ummi aja merantau umur 20an ke atas itupun dengan suami. Umur 18 berarti baru lulus sekolah ya, atau jangan -jangan ijazahnya aja belum diambil?” tanya ummi dengan nada canda mencairkan suasana canggung kami.

“Belum cap tiga jari ummi, baru perpisahan langsung berangkat ke sini.” jawab kami spontan.

“Sama orang tua boleh pergi sini? Ngga papa mau bulan puasa jangan sedih nanti ada ummi dan kakak-kakak kalian disini. Kita jadi keluarga baru. Jangan sungkan tanya, boleh minta tolong apa aja sama kita semua. Kita sudah jadi saudara seiman dan seperjuangan. Jangan sedih lagi.” Hibur ummi kepada kami.

Hari berganti dan bulan berlanjut dengan kecepatan penuh, bulan puasa telah dilalui hari raya telah berganti dengan hebatnya. Meski yang melaluinya butuh ketabahan ekstra dan kesabaran yang membaja. Dengan problematika pekerjaan yang dibimbing leader dan floater yang unik bagi kami.
Yang dianggap galak satu kilang, memang betul kita rasakan. Aku dan Maya yang mendapat satu bagian, satu proses dan satu line yang sama merasakan getir amarah leader yang lain daripada yang lain.
Dengan floater yang super unik, terkadang baik terkadang sadis dan mengiris juga miris. 

Kami yang baru beberapa bulan sudah mulai terbiasa dengan bulan-bulanan mereka. Setiap kata-kata yang kami anggap jahat tapi membuat kami tabah dan cuek.
Kami hanya bertekad cepat dalam belajar proses kami, segalak apapun mereka pasti akan diam juga bila kami pandai dalam bekerja. Itulah motivasi terbesar kami. Dan benar saja, setelah kami menguasai proses kami mereka mulai diam dan memanfaatkan keahlian kami. 

Terkadang mereka menganjurkan kami untuk bekerja 'haram' dalam artian pekerjaan yang kami sendiri tidak memiliki licence. Sedang dalam kilang kami pekerja hanya menjalankan proses yang berlicence saja. Licence kami saat itu hanya touch-up, dan stuffing. Tapi kerja 'haram' kami bertambah dapi pre production (PP), QC, soldering mesin, essembly, sampai rework yang dikerjakan leader dan floater.

Ujian hari demi hari semakin membuat kami merasa seperti kerja rodi dengan target output yang meningkat. Aturan yang semakin ketat dan istirahat yang semakin tak akurat. Istirahat pertama kami 15 menit, biasa aku dan Maya gunakan shalat dhuha sekurang-kurangnya 2 rakaat serasa menjerit kami rasa dengan perjalanan line sampai mushola yang berdesakan dan memakan waktu. Kapan ada sedikit tambahan waktu, pikir kami saat itu.

Rutin kami lakukan sewaktu kerja, hingga alhamdulillah banyak anak baru dalam kilang kami yang juga melaksanakan shalat dhuha sewaktu istirahat pertama kami.
Istirahat kedua kami 30 menit, dicukupkan unuk makan dan shalat dzuhur dengan suasana mushola yang pastinya berdesakan dan dengan antrian wudhu yang panjang. Istirahat ketiga kami 15 menit kami gunakan untuk shalat ashar. Karena keunikan floater kami ialah suka kabur pada waktu kita shalat atau ke toilet. Dengan kondisi line yang terus online tidak akan bisa kemana-mana kalau tidak ada pengganti. Bahkan meminta sign pergi ke toilet dan mushola pun sulit untuk kami. Jadi kami berinisiatif untuk meminta pada leader dan floater sebelah line kami. 

Terkadang semua itu menjadi pelajaran bagi kami dalam bersosialisasi dan berteman. Apalagi dalam perantauan yang diisi dengan berbagai karakter. Dua tahun yang singkat namun berubah menjadi 180 derajat. Karena masalah pekerjaan yang membaik dengan leader dan floater yang semakin berubah baik juga liqo serta acara kami yang sudah meninggalkan kesan yang dalam dalam hati kami. Melalui banyak hal bersama dan menciptakan kenangan yang indah bagi kami sulit untuk dilupakan. 

Dua tahun memang tidaklah lama, tapi dua tahun mampu mengubah segalanya. Untuk jalan pikiran anak yang dulunya 18 tahun datang, hingga balik ke rumah 20 tahun. Dengan perubahan sikap kami dan jalan pikiran kami yang baru dan telah melalui banyak hal. Kami menyadari bahwa didepan sana akan ada lebih banyak halangan serta rintangan yang baru dan lebih menantang untuk kami lalui. 

Namun kami percaya pada mantra yang terdapat dalam Novel yang pernah kami baca:
Man Jadda Wa Jadda (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil).
Man Shabara Zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung).
Man Sara Ala Darbi Washala (Sapa yang berjalan dijalan-Nya akan sampai tujuan).

Yang membuat kami kuat hingga dua tahun berlalu. 
To be continue part 2.

  

Kamis, 19 September 2019

Rindu Kelabu


Oleh : Ulfa Jisandry

Suasana ini adalah.
Semacam kerinduan yang menyakitkan.
Aku rindu.
Tapi tak tahu apa.
Aku ingin kembali.
Tapi tak tahu kemana.

Suasana ini.
Adalah suasana yang familier kurasa.
Tapi ku tak tahu ada dimana.
Hanya sesaat
Lalu pergi begitu saja.

Suasana ini.
Begitu menyakitkan untuk dirindukan.
Seolah aku ada disana.
Tapi pada kenyataannya aku tidak pernah kesana.
Suasana ini.
Membuat rindu yang terasa amat menyakitkan.
Seakaan aku berada dimasa lalu.
Jauh di masa masa dimana aku belum lahir.

Dimana suasana menjadi kelabu.
Dimana angin musim dingin mulai berhembus.
Dan menerbangkan dedaunan pohon oak yang mulai berguguran.

Aku rindu.
Seolah aku bisa merasakan panas dari perapian yang menyala disudut ruangan.
Aku rindu.
Seolah aku bisa merasakan kasarnya sampul buku tua yang kubaca.
Aku rindu.
Seolah olah aku sedang menyesap teh panas dan menunggu.
Entah apa yang kutunggu.

Aku rindu.
Rindu yang menyesakkan dada setiap kali kurasa.
Seolah olah aku pernah melakukannya.
Yang pada kenyataannya.
Aku saja entah sudah ada pada masa-masa yang kurindukan itu ada..

Aku jadi bertanya tanya.
Haruskah aku mewujudkan rindu yang menyesakkan ini jadi nyata?
Entah.

Untuk saat ini.
Aku hanya rindu.

Rabu, 18 September 2019

Sinar Mimpi Part 1

Elsa & Lisna

Oleh : Neng Dini Safitri

Terkisahkan seorang gadis introvert julukan yang sering dilontarkan oleh teman-temannya, namanya Elsa sering dipanggil Ecca. Dia berasal dari keluarga sederhana, keluarganya begitu menerapkan tentang nilai-nilai kehidupan dan keagamaan. Mendiang bapaknya yang mendidik dia dengan keras mampu menjadikan Ecca pribadi yang tangguh dan tidak gampang menyerah, ibunya yang bersifat lembut namun tegas mampu menjadikan Ecca pribadi yang lemah lembut dan anggun, dia adalah anak gadis satu-satunya dari 3 bersaudara.

Elsa saat ini berusia 19 tahun, dia baru saja lulus SMA, 5 bulan sebelum kelulusan Elsa sudah memikirkan akan kemana dia setelah selesai sekolah. Apakah kerja atau kuliah? namun dia berpikir jika dia kuliah dari mana biaya bisa ia dapatkan sedangkan tidak ada lagi orang yang akan menanggung biaya pendidikannya. Setelah merenungkan itu semua Elsa memilih untuk bekerja, meskipun dalam benaknya ada keinginan untuk tetap melanjutkan pendidikan di perkuliahan, dia melihat teman-temannya kuliah memakai jas almamater kebanggaanya, disaat mereka mampu meraih mimpinya sedangkan Elsa malah melepaskan, namun dia mencoba untuk tidak terlalu berambisi terlebih dia harus bersyukur dengan apa yang telah Allah gariskan.

Setelah lulus sekolah Elsa merantau ke luar negeri tepatnya ke negeri jiran, Malaysia. Meskipun awalnya keluarga Elsa tidak mengizinkan terutama ibunya, namun karena alasan-alasan tertentu akhirnya ibunya mengizinkan. Setelah kurang lebih satu tahun di perantauan Elsa mendapatkan banyak pengalaman, dia bertemu orang-orang baru yang tentu saja dengan karakter yang berbeda-beda, budaya yang berbeda, dan tidak mudah untuk Elsa bisa beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru.

Suatu hari dia bertemu dengan gadis yang juga berasal dari kota yang sama dengan Elsa. Namanya Kak Lisna, dia lebih tua satu tahun dengan Elsa, dia berkenalan dengan Kak Lisna di pabrik tempat dia bekerja, karena mereka satu kota mereka cepat akrab meskipun kecenderungan Elsa sangat susah akrab dengan orang apalagi baru kenal, melalui obrolannya Elsa bertanya mengenai kuliah dan ternyata Kak Lisna adalah mahasiswi di Universitas Terbuka Pokjar Johor,  “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Allah sudah merencanakan, mungkin ini jalan yang Allah kasih ke aku” ucap Elsa dalam hati. Kemudian Elsa bertanya mengenai perkuliahan itu lalu dia meminta restu ibunya untuk dapat mengizinkan dia kuliah, “Bu, aku mau minta izin untuk daftar kuliah disini biayanya cukup terjangaku dan kuliahnya setiap hari minggu. Gimana bu, bolehkan?” tanya Elsa, “Kamu yakin? Ini proses yang sangat panjang dan ibu rasanya tidak sanggup untuk menahan rindu denganmu dalam waktu yang panjang” jawab ibu. “Restu ibu sangat aku harapkan bu, mengenai seberapa lama aku disini aku tidak tahu yang aku tahu aku pasti pulang bu, melepas rindu bersama, namun ada keinginan yang kuat dalam diriku bu, aku ingin menuntut ilmu untuk bekal hidupku di dunia maupun di akhirat nanti” jawab Elsa dengan penuh kelembutan.

Akhirnya sang ibu merestui keputusan Elsa. Ada haru ada rasa takut dalam dirinya ketika Elsa berpikir bahwa memulai untuk berusaha mencapai sesuatu, ada harapan-harapan orang lain terutama ibunya namun Elsa tetap optimis dia tidak mau menjadi orang yang monoton itu saja sudah cukup menjadi pecutan agar dia berani bergerak. Dia punya mimpi yang harus diperjuangkan, dia punya keluarga yang harus dibahagiakan, Elsa berpegang teguh bahwa dimanapun ia belajar dengan niat karena Allah bukan hanya selembar ijazah saja yang ia cari tapi juga keberkahan ilmu dunia dan akhirat yang nantinya bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Tahap awal Elsa harus meminta ibunya untuk mengirimkan ijazah dan data lainnya dari kampung karena dulu ijazah belum dibagikan, namun ibunya lagi-lagi terlihat agak ragu perihal Elsa kuliah disana sekaligus bekerja, ada rasa khawatir ketika harus merelakan anak perempuan satu-satunya bekerja sekaligus sekolah yang pastinya menguras tenaga dan pikiran, namun Elsa lebih menyerahkan keputusan itu ke ibunya, mau di izinkan atau tidak Elsa harus menurutinya.

Dua minggu kemudian tiba-tiba ada telpon dari kurir pos, ternyata diam-diam ibunya telah mengirimkan data persyaratan untuk kuliah, Elsa seketika menangis dan langsung menelpon ibunya, “Assalamualaikum bu, buuuu kenapa ibu gak bilang ke aku, kan nanti bisa di kirim uang untuk ongkos kirimnya, aku gak mau membebani ibu, bu dengan ini ibu izinin aku buuu?”
Tanya Elsa dengan haru, “Iya sayang, mana mungkin ibu menghalangi niat baikmu untuk menuntut ilmu, memang rasa khawatir ibu terlalu besar tapi keyakinan kamu mengalahkannya, kamu masih muda lakukan selagi bisa niatkan karena ibadah, ibu berpesan gelar, pendidkan, jabatan bukan itu yang terpenting, tapi bagaimana kamu bisa mempertanggung jawabkan dan mengamalkan ilmu yang kamu dapat.” jawab ibu.

Elsa resmi menjadi mahasiswi

Pada tanggal 28 Juli 2019 Elsa mendaftarkan dirinya dengan ditemani Kak Lisna, Elsa sadar ini baru tahap awal dan prosesnya sangat panjang, namun Elsa berusaha untuk berkomitmen bahwa ia semangat tidak di awal saja namun harus sampai akhir. 

Bersambung.....

Senin, 16 September 2019

Pekerja Migran Indonesia Di Johor Bahru Resmi Berseragam UT Pokjar Johor

Dokumentasi UT Pokjar Johor
UT Pokjar Johor melaksanakan kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) 2019.2. Kegiatan yang di koordinir oleh DPM UT Pokjar Johor ini bertujuan untuk memperkenalkan UT, sistem belajar, kegiatan akademik dan non akademik, organisasi serta jadwal belajar yang ada di UT Pokjar Johor.

Kegiatan OSMB ini dilaksanakan selama satu hari pada 15 September 2019 di Aula Konsulat Jenderal RI Johor Bahru. Beberapa tamu kehormatan berkesempatan menghadiri kegiatan ini diantaranya, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, P.F Pensosbud KJRI Johor Bahru, Kassubag TU UPBJJ-UT Batam, Anggota Kehormatan DPM UT Pokjar Johor dan Guru Sekolah Indonesia Johor Bahru.

Kegaiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap semesternya ini selain dihadiri tamu kehormatan dan para mahasiswa baru juga dihadiri puluhan mahasiswa UT Pokjar Johor lainnya. Kegiatan ini dimulai pada 10:15 pagi diawali pembukaan, doa, menyanyikan Lagu Indonesia Raya serta Hymne UT dan pemutaran video profil UT Pokjar Johor.

"Pada tahun 2019 ini, kami dari pihak kepengurusan memang tidak banyak melaksanakan kegiatan non akademik. Karena kami berusaha mencoba untuk lebih fokus pada kegiatan akademik. Dan pada 2019.2 ini UT Pokjar Johor menambah satu lagi kelas TTM yaitu matakuliah PKN, sehingga pada 2019.2 akan dilaksanakan tiga kelas TTM, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan PKN" ucap Endri Mardiansyah selaku Ketua Umum DPM UT Pokjar Johor pada sambutannya.

Pengurus DPM UT Pokjar tahun ini ingin lebih fokus pada akademik karena ingin meningkatkan kualitas akademik para mahasiswa. Kemudian menurut Ketua Umum DPM UT Pokjar Johor, pada 2019.2 ini UT Pokjar Johor telah menerima sebanyak 49 mahasiswa baru yang terdiri dari berbagai jurusan dan meningkat dari 2019.1 yang sebelumnya berjumlah 29 mahasiswa baru dan total mahasiswa yang teregistrasi pada 2019.2 berjumlah sekitar 160 mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Ibu Lusy Farina selaku Kasubbag TU UPBJJ-UT Batam menyampaikan target yang diberikan oleh Menristekdikti terhadap UT adalah sejuta mahasiswa yang tersebar diseluruh Indonesia dan luar negeri. Terkait dengan target tersebut, pada 2019.2 ini UPBJJ-UT Batam masuk dalam lima besar jumlah mahasiswa terbanyak di UPBJJ-UT dengan jumlah 2150 mahasiswa. Kemudian beliau mengucapkan apresiasi kepada UT Pokjar Johor karena dari 2150 mahasiswa tersebut tidak terlepas dari kontribusi dari UT Pokjar Johor.

Dokumentasi UT Pokjar Johor
Dokumentasi UT Pokjar Johor
Sementara itu, Konsul Jenderal RI Johor Bahru dalam sambutannya mengucapkan selamat atas terlaksananya kegiatan OSMB 2019.2 ini, beliau bangga dan memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih UT Pokjar Johor dibalik kesibukkan sebagai Pekerja Migran Indonesia. KJRI Johor Bahru siap mendukung dan memberikan fasilitas untuk setiap kegiatan UT Pokjar Johor. Menurut Bapak Sunarko, program OSMB ini merupakan tahapan awal dan penting sebagai langkah awal mahasiswa untuk menempuh pendidikan di UT dan sejalan dengan program pemerintah yaitu SDM Unggul Indonesia Maju. "Upaya rekan-rekan semua secara individual, secara personal dan kolektif di UT ini adalah bagian dari upaya kita untuk mendukung program pemerintah mewujudkan SDM yang unggul, berkapasitas, memiliki daya saing serta mampu berkompetisi di era yang semakin maju" ujar orang nomor satu di KJRI Johor Bahru itu.

Selain memberikan motivasi pada puluhan mahasiswa yang hadir, Konsul Jenderal RI Johor Bahru juga menyematkan almamater secara langsung kepada perwakilan mahasiswa baru sebagai tanda bahwa mahasiswa baru 2019.2 telah resmi menjadi bagian dari UT dan UT Pokjar Johor.
Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan penyampaian materi OSMB oleh Kasubbag TU UPBJJ-UT Batam, kemudian pengenalan kegiatan, pengenalan pengurus dan sistem belajar di UT Pokjar Johor oleh Endri Mardiansyah dan terakhir melakukan aktivasi tuton mahasiswa baru yang dibimbing oleh seluruh pengurus DPM UT Pokjar Johor.

Di akhir kegiatan, menurut salah satu mahasiswa baru, dia tidak menyangka anak muda dan Pekerja Migran Indonesia di Johor Bahru masih banyak yang mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Dia Berharap kedepannya bisa berjalan lancar dan dapat menyesuaikan antara kerja dan kuliah sehingga setelah menyelesaikan kuliah nanti dapat meningkatkan kualitas hidup di masa yang akan datang. Ketika ditanya kesan dalam mengikuti OSMB, mahasiswa baru ini mengaku banyak mendapat manfaat dan pengetahuan baru, "Saya yang awalnya gak tahu apa-apa tentang UT, melalui OSMB ini banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapat. Para senior juga memberi kami motivasi, trik dan sistem belajar di UT. Ya Alhamdulillah semoga apa yang disampaikan dan diberikan oleh senior tadi dapat diterapkan kedepannya dan dapat berjalan dengan lancar". Ucap Frendi Antono mahasiswa jurusan Administrasi Negara.
  

Selasa, 10 September 2019

Lentera Kelam

Nurfachmi Lisna Hafsari

Karya : Nurfachmi Lisna Hafsari

Jejak ku menuai pilu.
Wujudku renta tak bersua.
Merah riuh bersama putih yang semu.
Berpadu lemah yang meraja.

Ku berlenggok dan meronta.
Upayaku menampak suka.
Parasku sayu dan mataku yang berkaca.
Bersama langit-langit jingga.

Di topang tulang bagai baja.
Jiwaku penuh dengan duka.
Daya ku menjadi sirna.
Namun kuatku menjadi lentera.
.
Bersama malam yang tlah larut.
Langkah ku menepi pada dinding yang bersudut.
Kakiku tersandung pada paras-paras kusut.
Bola mataku teralih pada raga para pengusut.

Wahai jiwa negeri yang gemilang........

Tanah ini tanah yang lapang.
Tapi langkahmu berlaku sungkan.
Niatmu terlalu kau bungkam.
Dengan batin yang kau kekang.

Air kaca air hitam yang disantap.
Abu api serbuk maut yang dihisap.
Logam-logam besi ukir yang tertancap.
Hidup sesat dan mati yang sekarat.

Bercira lentera.
Namun dzahirku di dera.
Bercita terang.
Namun dzahir nya yang kelam.

Merdeka saja bangsamu.
Tak merdekalah untukku.
Merdeka bangsa dan jiwamu.
Merdeka kekallah untukku.

Hingga kalbuku terpukul.
Karena pasrah ku tuk merangkul.
Wahai jiwa janganlah engkau gugur.
Hidupku mendekap dan mengulur.

Yang terang tetaplah terang.
Yang kelam takkan hilang.
Penuh asa tanpa pasrah yang membatu.
Untuk negeriku bangkutmu bersamaku.

Minggu, 08 September 2019

Puluhan Mahasiswa UT Pokjar Johor Ikuti Program Mandiri Sahabatku

Dokumentasi UT Pokjar Johor
Program yang bertujuan mendidik pekerja  migran untuk berwirausaha ini diselenggarakan oleh Bank Mandiri dan  bekerjasama dengan Konsulat Jenderal RI Johor Bahru. 

Pelaksanaan acara di bagi menjadi tiga sesi yaitu pada bulan September, Oktober dan November. Acara sesi pertama dilaksanakan di Hotel Grand Paragon, Johor Bahru pada Minggu 8 September 2019. Beberapa tamu kehormatan yang berkesempatan menghadiri acara ini diantaranya, Atase Pendidikan Dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Atase Tenaga Kerja KBRI Kuala Lumpur, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Kepala Kanselerai KJRI Johor Bahru, P.F Pensosbud KJRI Johor Bahru, P.F Konsuler KJRI Johor Bahru, Senior Vice President,  Vice President dan Assistant Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dokumentasi UT Pokjar Johor
Acara yang sebelumnya sudah diadakan di Kuala Lumpur dan Penang serta negara lainnya seperti Hong Kong, Korea dan Jepang ini baru pertama kali diadakan di Johor Bahru dan disambut dengan antusias oleh 185 Pekerja Migran Indonesia di Johor Bahru, termasuk didalamnya puluhan mahasiswa UT Pokjar Johor yang berpartisipasi sebagai peserta. 

"Menurut saya acara ini sangat bagus untuk mempersiapkan para pekerja migran agar setelah pulang dari sini punya modal pengetahuan dan pola pikir untuk menjadi pengusaha mandiri di kampung halaman" ucap salah satu peserta.

Satu hal yang membedakan pelatihan ini dengan pelatihan sejenis lainnya, di program ini para peserta tidak dilepas begitu saja setelah pelatihan, tapi juga akan terus didampingi dan dipantau bagaimana perkembangan yang telah dilakukan setelah mengikuti program pelatihan ini.

Dari program ini, diharapkan dapat membantu pekerja migran untuk kembali ke Tanah Air dan memiliki usaha sehingga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga dan membantu membangun ekonomi Indonesia.

Sabtu, 07 September 2019

Sajak Jiwa Merdeka



Karya : Bagaskara M.K

17 Agustus 1945.
Hari proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Menjadi penanda babak baru.
Indonesia terlepas dari belenggu.
Para pendiri bangsa merumuskan dasar ideologi negara telah ditetapkan.
Pancasila menjadi dasar negara.
Dan juga undang-undang dasar 1945.
Pancasila menjadi pedoman.
Pancasila adalah konstruksi ideologi dan pemahamana dasar pemikiran untuk diamalkan.
Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan untuk mencipta negara bangsa yang harmoni dan aman.

Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menjadi sebuah kewajiban untuk setiap warga negara.
Bertuhan dan beragama sesuai dengan keyakinannya.
Menganut agama yang diakui oleh negara.

Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Hanya orang-orang yang bertuhan mempunyai adab.
Bisa memanusiakan manusia.
Dan hidup rukun antara sesama.

Persatuan Indonesia.
Ketika sudah bertuhan, beradab, dan mampu memanusiakan manusia.
Menjadi sebuah keniscayaan.
Mempunyai kesadaran akan pentingnya persatuan.
Bersatu dan berjuang demi meraih tujuan.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Kepimimpinan yang luhur berlandaskan kebijaksanaan.
Hanya orang-orang yang mempunyai kebijaksaan.
Mampu bermusyawarah untuk mencapai mufakat.
Dengan mengutamakan asas manfaat dan maslahat.
Untuk kepentingan seluruh rakyat.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketika empat tahap telah sempurna.
Maka keadilan sosial adalah kulminasinya.
Cita-cita mulia akan terlaksana.
Rakyat adil, makmur dan sejahtera.
Itulah potret jiwa merdeka.
Memahami pancasila dengan seksama.

Saya bangga menjadi warga negara Indonesia.
Saya bangga memahami esensi jiwa merdeka.
Enggan mengeluh, mengalah, apalagi sekedar mencela.
Bahwa memaknai kemerdekaan bukan hanya dengan upacara bendera.
Tapi berkarya dan berkontribusi untuk negara dengan nyata.
Saya bangga menjadi bagian dari Anda semua.
Saya bangga menjadi pahlawan devisa.

Jumat, 06 September 2019

Cerita Dara Dibalik Kemerdekaan


Vina Vona Lisa
Karya : Vina Vona Lisa

Tepat 17 Agustus 1945, 74 tahun sudah merdeka.
Dan dia turut bahagia, bangga dan haru.
Menghilang sekejab rasa hati yang pernah luka.
Perih tak berdarah sakitpun tak membiru akibat aksi kekerasan di masa lalu.
Kala itu, bapak, ibu dan saudara lelakinya dipaksa bekerja oleh kolonel-kolonel penjajah.
Dan dia, dia satu-satunya anak dara di rumah.
Dia disembunyikan oleh bapaknya, dari matahari naik kembali.
Turun, begitu dan begitu seterusnya
sampai nasib baik tak berpihak padanya.
Katanya, aku bukan R.A Kartini, aku bukan pula Cut Nyak Dhien dan aku bukanlah pahlawan wanita, aku cuma dara bernasib malang kala itu.
Terlepas genggaman dari bapaknya, dan perlahan menghilang suara tangisan ibunya.
Bagaikan ikatan tali rafia yang dililit berkali-kali hingga terlihat genting.

Ganasnya genggaman tangan penjajah.
Hancur hatinya.
Hancur martabatnya.
Hancur masa depannya.
Teriaknya, lepaskan aku, jangan renggut harga diriku, jangan sentuh aku.
Berkali-kali, jangan, jangan, jangan.
Tak berguna, sudah terlentang dan berjejer dara-dara di depan mata yang bernasib sama.
Malang yang tak diminta menjadi santapan-santapan kolonel-kolonel bernafsu buas, berlaku biadab dan keji.

Sejarah tak minta berulang.
Tapi pun tak dapat dihapuskan.
Indonesia, merdeka bukan dengan meminta dan memohon.
Tapi merdeka dengan air mata, kehilangan keluarga, kehilangan martabat, harga diri.
Dengan darah, sayatan-sayatan luka, lubang-lubang peluru menembus dada.
Korban-korban dara yang lemah menjadi tumbal bagi penjajah.
Sekarang, merdekalah dengan bebas tapi beradab.
Merdekalah dengan saling menghormati.
Bebaslah berpendapat tapi dengan aturan yang berlaku.
Merdekalah dengan bersatu bukan berpecah belah rasis.

Indonesia, merdeka dengan luas lahan dari Sabang sampai Merauke.
Dari ujung Sumatera sampai Papua.
Kita saudara.
Kita satu keluarga.
Indonesia, aku bangga menjadi dara yang terlahir di bumi ibu pertiwi.
Dengan kemerdekaan penuh perjuangan.
Terima kasih negaraku, Indonesia.

Rabu, 04 September 2019

UT Pokjar Johor Raih Double Winner Di Olimpiade UTKL

Kontingen UT Pokjar Johor

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universitas Terbuka Kuala Lumpur menyelenggarakan kegiatan Olimpiade UTKL 2019. Kegiatan ini laksanakan selama dua hari di Kuala Lumpur. Acara yang diselenggarakan oleh PPI UTKL ini memperlombakan Fashion show unique, fashion show kebaya, tari modern, tari kontemporer, puisi kemerdekaan dan beberapa cabang olahraga. 

Acara yang dikonsep sedemikian rupa oleh panitia ini dihadiri oleh Atase Pendidikan Dan Kebudayaan KBRI KL, Perwakilan UPPBJJ-UT Batam, Koordinator UT Malaysia, perwakilan UT Pokjar Johor, perwakilan UT Pokjar Penang serta dimeriahkan oleh Adi (Vocalis Sixth Sense) juga di isi dengan bazar kuliner Indonesia.

UT Pokjar Johor turut berpartisipasi dalam memenuhi undangan dan memeriahkan acara tersebut. Para kontingen UT Pokjar Johor menampilkan beberapa lomba diantaranya fashion show, tari tradisional, tari kontemporer dan baca puisi, dari lomba-lomba tersebut UT Pokjar Johor berhasil meraih double winner kategori baca puisi dan tari kontemporer dan membawa pulang dua gelar juara 1.

Puisi yang karya Vina Vona Lisa mahasiswi UT Pokjar Johor jurusan Sosiologi dan tari kontemporer yang dibawakan oleh Mira Pujiati Sapitri, Yasri Teguh Helsabdasari dan Novia Ulfariyanti inilah yang berhasil membuat kontingen UT Pokjar Johor meraih double winner.

Terima kasih para kontingen dan para tim pendamping yang sudah mewakili UT Pokjar Johor di acara Olimpiade UTKL 2019. Teruslah berkarya dan terus tingkatkan prestasi.