Home » » Sekeping Hati Yang Tak Berasa

Sekeping Hati Yang Tak Berasa

Google image
Oleh : W.M.A
Malam ini begitu dingin, udara serasa merasuk ke tulang rusuk, angin yang masuk celah jendela memaksa ku menarik selimut untuk hangatkan badanku. Entah apa yang aku pikirkan malam ini, tapi yang pasti bayangan itu selalu hadir dalam ingatanku. Hingga mataku enggan terpejam. Aku bertanya dalam hati, adakah otakku bermasalah? kenapa hanya ada dia dalam otakku sekarang.

Senyumnya mampu mencairkan suasana hatiku yang kacau, tutur katanya mampu membawaku masuk ke dalam ceritanya. Semua tentang dirinya seakan menghipnotis diriku masuk ke dalam alam bawah sadarku. Aaarggghhh aku menggerutu pada diriku sendiri, aku gila dibuatnya. Tak kusadari aku teriak keras sehingga membangunkan Kak Lina teman sekamarku, hingga dia kaget dan memarahi ku.

Kak Lina : “Hei, kau ni kenapa tengah malam begini teriak-teriak, tidur lah jangan berisik
Aku : “iya kak, maaf”. Dengan rasa bersalah aku pun coba memejamkan mataku hingga aku terlelap.

Hari ini pikiranku bercelaru, otakku hampir berhenti berfikir. Banyak masalah yang ku hadapi sekarang, tentunya tentang kerjaku. Fikirku aku akan pergi menenangkan otakku seorang diri pulang kerja nanti. Tiba-tiba sebuah pesan via WhatsApp menggetarkan handphoneku. Aku buka dengan gontainya, tapi alangkah bahagianya jika tahu siapa pengirim pesan itu. Siapa lagi kalau bukan si penggangu otakku, Langit namanya. Seketika senyum mengembang tergambar jelas di bibirku, serasa melayang membaca pesan tersebut, padahal bukan rangkaian kata yang panjang atau sebait puisi atau apalah itu, hanya sekedar menanyakan kabar. Secepat kilat aku terus balas pesan itu. Tanpa ku sadari aku menceritakan semua masalahku disini dan keinginan ku untuk menenangkan otakku. Tak ku sangka dia mengajakku untuk menenangkan otak bersama-sama. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakannya.

Langit : “Nanti malam aku jemput jam 8.”
Aku : “Ok, jangan pake telat.” Aku mengingatkan.
Langit : ”Ok, sampai ketemu nanti”. Jawabnya singkat.

Jam menunjukan pukul 07.45, hatiku mulai tak tenang, gelisah hingga serasa oksigen di sekitarku menggurang menyebabkan aku susah bernafas. Mungkin karna efek bahagia tak terhingga campur rasa gugup. Berkali-kali aku menanyakan penampilan u pada Kak Lina, sampai dia merasa risih akan pertanyaanku.

Aku : ”Kak gimana penampilanku, ada yang kurang gak?
Kak Lina : ”Udah, udah cantik udah pas, gak kurang dan gak lebih.
Aku : ”Bener yah kak. Gimana dengan jilbab ku rapih gak?
Kak Lina : ”Iya semua sudah cantik. Pergilah kau cepat jangan tanya-tanya terus.”
Aku : ”Hahaha iya kak, tunggu dia belum datang.

Tiba-tiba handphoneku berdering, nama dia terpampang di layar handphoneku. Cepat-cepat ku jawab panggilan itu.

Aku : ”Hallo, udah sampai yah?
Langit : ”Iya, aku udah di depan nih.
Aku : ”Ok, aku turun sekarang, tunggu sebentar yah.”

Dengan sigap aku menyomot tasku dan pamitan pada Kak Lina serambi teriak.

Aku : ”Kak Lina aku pergi dulu, bye.”
Kak Lina : ”Hati-hati kau, jangan pulang malam-malam.” Pesannya samar-samar aku dengar karena aku berlari meninggalkannya.

Sesampainya di depan, aku melihat dirinya bak pangeran meski tanpa kuda putih, senyum terus mengembang di bibirku ini. Aku yakin pipiku semerah tomat busuk, aku tak bisa menyembunyikan bahagianya hatiku bisa bertemu dengan dia. Dia menyambutku dengan senyum khas miliknya yang membuatku meleleh. Oh Tuhan melayang jiwaku.
Tanpa basa-basi dia terus mengajakku ke tepi pantai tanpa ombak, haha pantaskah itu disebut pantai? Entahlah. Kami duduk di tepi pantai itu, serasa aku tak melihat siapapun disitu, yang aku lihat hanyalah dirinya. Kami mengobrol sesuatu dari obrolan renyah yang membuat kami tertawa bersama hingga ke obrolan berat yang membuat lidahku seakan kelu. Tiba-tiba tangannya menggengam tanganku, sontak aku kaget. Dia menyuruh ku melihat matanya. Tapi aku tak sanggup melihatnya, karna aku yakin jika aku melihatnya mungkin aku bisa pingsan seketika. Dengan perlahan dan nada gugupnya dia mengatakan sesuatu.
Langit : ”Aku menyukaimu, Dek”, mata ku membelalak seketika mendengar kata-kata itu. Kata-kata singkat tapi mampu membuat ku kehilangan udara sekitar. Dada ini terasa sesak, nafasku seakan tersekat. Sepersekian detik aku tak bernafas, dan berkali-kali ku pastikan telingaku tak salah dengar. Aku pastikan lagi dan yeah aku tak salah dengar.

Rasanya aku ingin lompat ke pantai, tapi itu mustahil. Hingga dia membuyarkan pikiran kacau ku tersebut.
Langit : ”Hei, apa kau mendengarkanku?”. Tanyanya seraya melambaikan tangannya didepan mukaku.
Aku : “I..iyah aku dengar kok.” Jawabku gagap, kembali ku atur nafasku.
Langit : ”Jadi bagaimana?” Tanyanya membuat ku semakin bingung.
Sempat berfikir sejenak sebelum akhirnya aku mengiyakannya. Dan dengan anggukkan ku, dia mengerti bahwa aku juga menyukainya. Senyum lebar terpampang jelas dari bibir kami. Hembusan nafas leganya mampu aku rasakan, bahagianya kami di malam itu tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan hubungan kami berjalan dengan baik. Hingga memasuki bulan keenam goncangan ombak dahsyat menerpa hubungan kami, malam itu kami bertengkar hebat dalam sambungan telefon. Hanya karna sebuah kata yang membuat ku sakit dan sangat menyesakan dada ini.

Langit : ”Aku harus pulang.”
Aku : ”Lantas, kenapa kalau kamu pulang?” Tanyaku bingung.
Langit : ”Maaf, aku rasa aku tak bisa melanjutkan hubungan kita.
Aku : ”Apa, tapi kenapa?” Sontak aku kaget dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Langit : ”Aku tak bisa menjalin hubungan jarak jauh, karna itu akan menyakitkan.”
Aku : ”Bukan alasan yang masuk akal, bilang saja kau sudah tak mencintaiku lagi.” Kali ini aku tak bisa menyembunyikan lagi perasaan ku, tangis ku pun pecah.
Langit : ”Sudahlah jangan menangis, aku tak suka melihatmu menangis.”
Aku : ”Kau jahat, bahkan ketika aku menangisimu kau tetap acuh, aku benci padamu.” Itulah kata terakhirku sebelum aku menutup telefonnya.
Sakit bagai di tusuk sembilu. Dia telah menyayat hatiku dengan gamblang, pedih rasanya. Aku menangis sejadi-jadinya, tak menyangka orang yang ku sayangi ingin meninggalkan ku begitu saja hanya karna tak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Alasan macam apa ini, pikirku. Aku drop, aku tak tahu apa lagi yang harus ku perbuat. Yang aku tahu saat ini aku merasakan sakit yang teramat sakit.

Hari demi hari pun berganti, bulan demi bulan telah berlalu, sementara aku masih mengenyam rasa sembilu di hati. Tetapi dia tidak ada kabar sama sekali, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar aku. Hei, aku benar-benar tersiksa dengan rasa ini, tidak kah kau tahu? Hei, adakah di sana kau bahagia dengan penderitaan yang aku rasakan? Dan hei, aku merindukanmu, apa kau mendengar tangisan hatiku ini?. Seketika air mataku jatuh membasahi pipiku. Dimana lagi aku harus meletakkan hatiku ini, kau yang selalu kuingat bahkan melirikku pun tidak, kau yang selalu menari di pikiranku, sedang kau ingat aku pun tidak. Hei aku disini dengan sejuta luka yg kau bagi, pandanglah aku walau sedetik, karna kau tahu aku tak pernah melupakanmu walau sedetik, bahkan ketika aku bertemu sepertiga malamNya, hanya tentang mu yang aku ceritakan. Aku sangat ingin sepertimu yang sibuk dengan kehidupanmu, aku coba namun tak sedetikpun kau menghilang dari sanubariku. Sungguh aku lemah, aku sakit.

Akhirnya, kini aku sadar bahwa cinta tak selalu tentang perjuangan rumit demi memiliki, karena berusaha mengiklaskan dia pergi pun tak pernah sederhana. Ya, sekarang hatiku sudah benar-benar kosong, tidak ada dia, mereka atau yang lain. Adakah hatiku ini akan mati? Karna sekarang aku hanyalah sekeping hati yang tak berasa.

Share this video :
Comments
0 Comments

0 comments: