Home » , » Kisah Dibalik Prestasi

Kisah Dibalik Prestasi


Eni Zulaikah

By : Eni Zulaikah.
Editor : Endri Mardiansyah.

Kutipan dari kisah nyata beberapa tahun yang silam. Aku seorang anak petani buruh dari sebuah kampung di Jawa Timur, Kabupaten Banyuwangi tepatnya. Aku pernah mengenyam masa kecil di Indonesia bagian timur, tempat itu dikenal sebagai pulau Cenderawasih yang dulu dinamakan Irian Jaya, tepatnya di Katapop 1 Kabupaten Salawati, Sorong. Dari sanalah ceritaku bermula.
Keluargaku bukanlah orang kaya, kami hidup sederhana. Namun demikian, bersyukur aku dapat mengenyam pendidikan sebagaimana kebanyakan teman-temanku pada umumnya yang merupakan anak para pegawai negeri. Orang tuaku mampu membiayaiku untuk sekolah dan mengaji.

Pendidikanku dimulai pada waktu usiaku menginjak 5 tahun. Agak unik juga prosesnya, aku tidak sekolah di Taman Kanak-Kanak, akan tetapi aku ikut sekolah anak-anak yang sudah duduk di bangku kelas 5-6 SD, yaitu adik sepupu ibuku yang aku panggil Kak Yayun. Kejadian itu tidak berlangsung lama, hingga pada suatu hari di kelas kakak ku yaitu kelas 5 SD sedang ada tanya jawab matematika. Guru wali kelas bertanya pada murid, “8 x 8 berapa anak-anak?”. Semua murid terdiam sambil menghitung mencari jawaban itu. Nah, aku yang sudah tiap hari dilatih ibuku menghitung perkalian dengan trik menggunakan jari. Melihat semua murid sedang bingung, lalu aku teriak pada kakakku supaya dia yang jawab, “64 Kak” aku menyebutnya berulang kali, dengan maksud supaya kakakku cepat keluar dari kelas karena aku sudah lapar. Mendengar jawaban itu guru kelas itu melongok ke arahku, bertanya pada kakak ku, “Siapa yang ngajarin?” Kakak pun menjawab “Adik saya, Pak”. Kemudian beliau tersenyum ke arahku, dan mengizinkan kakak keluar kelas.

Beberapa hari kemudian pembagian raport kenaikan kelas, kebetulan ibuku datang ke sekolah untuk mengambil raport kakak. Saat itu Pak Guru menceritakan kejadian itu pada ibuku dan beliau meminta ibu supaya aku didaftarkan sekolah sebagaimana teman-teman lainnya. Karena usiaku blm genap 6 tahun ibu kurang yakin dengan kemampuan belajarku di sekolah, akhirnya ibu minta izin kepada kepala sekolah untuk sekedar mengikutkan aku belajar dikelas. Kepala sekolah menyetujuinya tapi dengan syarat, kalau aku dapat lulus ujian CAWU I maka aku akan terdaftar dan langsung mengikuti proses belajar seperti siswa-siswi yang lain.

Mulai saat itu aku duduk mengikuti pelajaran kelas 1 SD. Pada akhir ujian barulah orang tuaku mendapat kejutan, aku siswi yang belum resmi, usia termuda dikelas berhasil menduduki peringkat 4 dari 32 siswa, sehingga saat itu juga aku resmi menjadi siswi SD Inpres 76 Sorong. CAWU berikutnya aku menduduki peringkat 3, dan pada kenaikan kelas benar-benar memuaskan aku berhasil memperoleh urutan peringkat pertama. Bertahan hingga akhir kelas 2 SD, kami sekeluarga pulang ke Jawa setelah bapak dan ibu sembuh dari sakit malaria yang begitu lama dan tangan bapak yang cidera karena tergilas mesin penggiling batu juga telah pulih semula.

Aku melanjutkan sekolah di Jawa Timur yaitu SD Wringin Agung III. Bermula dari kelas 3 SD, agak sulit bagiku karena kebiasaan di Jawa para guru kebanyakan menerangkan menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa, sementara keseharianku lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan orang tuaku. Namun dengan usaha keras aku mampu meraih peringkat II, bertahan hingga naik kelas 4, dari situ berangsur aku peroleh kebanggaan dari hasil belajarku aku dapat bertahan dalam peringkat I, hingga lulus kelas 6 SD, aku mendapat nilai NEM tertinggi di sekolahku.

Dengan NEM yang aku peroleh aku bermaksud melanjutkan ke SMP favorit di kampungku, namun orangtua tidak mengizinkan dengan berbagai alasan, akhirnya aku mengikuti kehendak mereka untuk mendaftar di SMP alternatif. Aku masuk sebagai siswi di kelas unggulan SMPN 2 Gambiran, hingga lulus aku bertahan dalam urutan nilai 10 besar dari 43 siswa kelas unggulan juga dengan NEM yang cukup lumayan tinggi pada periode itu.
Pada periode kelulusanku itu banyak sekolah-sekolah yang mulai naik daun dengan berbagai prestasi. Kembali aku minta persetujuan ibu untuk meluluskan keinginanku yaitu bersekolah di sebuah pesantren besar yang dilengkapi sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kembali aku kecewa, ibu tidak mengizinkan hanya karena status sekolahnya adalah sekolah swasta. Dengan perasaan mulai galau aku ikuti lagi kehendak orang tua untuk mendaftar di sekolah negeri. Aku terdaftar sebagai siswi di SMAN 1 Gambiran.

Perasaan galau berangsur hilang dengan berbagai kegiatan organisasi yang aku ikuti di sekolahku diantaranya SKI (Studi Kerohanian Islam), PA ANDALAS (Pecinta Alam Anak Didik Daerah Lingkungan Srawet), kemudian terpilih sebagai anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Organisasi Kepramukaan BANTARA-LAKSANA. Dan kembali aku dapatkan prestasi. Pernah dapat beasiswa GNOTA jalur prestasi. Hingga pada kenaikan kelas 3 SMA ibu menyuruhku untuk masuk jurusan IPA yang bagiku sebenarnya banyak pelajaran yang kurang aku fahami. Walaupun demikian, usahaku tetap membuahkan hasil hingga pada akhir kelulusan aku mendapat urutan nilai 4 besar pararel kelas jurusan IPA yang pada waktu itu ada dua kelas yang jumlah seluruhnya lebih kurang dalam 90 siswa. Aku sangat gembira waktu itu berharap untuk bisa melanjutkan pendidikanku sesuai keinginanku. Kebetulan waktu itu aku mendapatkan beasiswa berupa tabungan Bank dan beasiswa dari salah satu perusahaan perikanan milik salah satu anak mantan Presiden Soeharto (Alm) untuk masuk ke STTN (Sekolah Tinggi Tekhnik Nuklir) Yogyakarta, atas jerih payah bapak ibu guru dalam mendapatkan beasiswa kemitraan tersebut.

Tapi sungguh rezki ditangan Sang Maha Kuasa, serasa terhenti duniaku. Marah, sedih, kecewa dan entah apa saja yang aku rasa saat itu. Ketika aku dapat jawaban dari orang tuaku, “Maafkan bapak-ibu mu anakku, karena sudah tidak mampu lagi membiayai pendidikanmu sesuai harapanmu, kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rumah dan sawah pun sudah terjual. Hanya sampai disini kemampuan kami untuk pendidikanmu, semoga kamu mengerti. Rp25 juta untuk bayar uang muka pendidikanmu bukanlah jumlah yang sedikit, Nak . Dari mana kami dapatkan semua itu, belum lagi uang sakumu disana nanti, karena beasiswa kamu baru akan dicairkan setelah semester 1”. Lemah rasa badanku seakan tak bertulang, aku hanya bisa menangis dan merenungi nasib, berfikir bagaimana aku bisa mendapat kerja sementara aku tidak memiliki ijazah keterampilan sebagai bukti untuk melamar pekerjaan yang baik. Beasiswa yang berupa tabunganpun sudah habis aku bayarkan untuk kursus komputer yang terpaksa aku hentikan karena alasan keselamatan.

Seiring waktu aku berjalan mengikuti arus takdir kehidupan yang telah digariskan untukku. Memang dibalik segala sesuatu yang terjadi semua ada hikmah yang tersembunyi. Di usiaku yang sekarang, aku bukan lagi seorang gadis tapi seorang wanita single bergelar ibu dari dua orang anak lelaki yang sudah duduk di bangku SD. Dengan berbagai liku-liku perjalanan hidup akhirnya langkahku terhenti di Negeri Jiran yaitu Malaysia. Aku mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik besar yang merupakan cabang dari salah satu perusahaan di Canada.
Karena mengingat prestasi yang pernah aku dapatkan, berkobar kembali semangat belajarku yang sebenarnya dari dulu tidak pernah padam. Aku masih ingin terus maju dengan pendidikan hingga akhirnya aku temukan Universitas Terbuka di Konsulat Jendral Republik Indonesia Johor Bahru, Malaysia.

Dengan berbagai upaya aku berusaha supaya terdaftar di UT. Dengan bantuan ibuku yang mengirimkan dokumen legalisir, aku terdaftar kembali di UT. Kenapa aku katakan terdaftar kembali? Karena sebelum menjadi TKI di Malaysia, aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa UT namun sempat terhenti karena waktu ujian semester pertama aku tidak dapat menemukan KJRI untuk menumpang ujian. Dan berlanjut dengan sakitku yang mengharuskan aku check up dengan biaya yang tidak sedikit bagiku di salah satu rumah sakit Kerajaan Malaysia. Sehingga aku terpaksa berhenti kuliah karena tidak cukup biaya.
Sekarang aku masih sebagai mahasiswi di UT Pokjar Johor, Malaysia. Bersyukur pendapatanku cukup untuk keperluan, cukup untuk keluargaku, aku dan biaya kuliahku.

Rapat Program Kerja Bersama Konsul Jenderal RI-JB Dan Pembina UT Pokjar Johor

Paskibra KJRI Johor Bahru 2016
Terima kasih kepada orang tuaku atas pengorbanan dan ketulusan yang diberikan padaku, maafkan karena belum cukup aku membalas semua itu. Terima kasih kepada para Guru yang telah mendidikku, mengusahakan supaya aku mendapat beasiswa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena aku tidak dapat menjadi anak didik kebanggaan kalian, tidak mampu mengharumkan nama sekolah. Semua itu bukan karena tidak menghargai jerih payah Bapak serta Ibu sekalian, tapi semua karena keterbatasan ekonomi orang tua.
Hanya itu yang dapat aku sampaikan disamping aku tunjukkan inilah realita diriku di lingkungan pendidikanku yang sekarang

Aku berada di antara mereka. Alhamdulillah, terima kasih UT Pokjar Johor dan KJRI Johor Bahru atas kesempatan yang diberikan kepada ku. Semoga semua itu menjadi celah masa depan yang cemerlang bagiku dalam mewujudkan cita-cita dan harapan yang tertunda.


Share this video :
Comments
0 Comments

0 comments: