Home » » PENA PERANTAU : Secercah Harapan Dalam Samar

PENA PERANTAU : Secercah Harapan Dalam Samar

Gupran
Oleh : Gupran
Penyunting : Endri Mardiansyah

Kehidupan para petani sepertinya sudah terdesak dengan ketidak stabilan harga hasil pertanian, sehingga para buruh tani seperti ayahku dan juga aku mendapatkan dampaknya, dan dari dampak itulah maka tertular kepadaku.

Aku tidak bisa kuliah karena keadaan ekonomi petani saat itu, apa lagi jika kegagalan panen yang ditanggung petani tanpa perhatian pemerintah.
Sistem pertanian tradisional yang ada di masyarakat yang hanya memakai cara ikut-ikutan bertani orang terdahulu, minimnya teknologi dan pengetahuan petani membuat petani kewalahan juga karena tidak mampunya mengendalikan hama tanaman dan penyuluhan yang kurang dari dinas pertanian juga membuat petani serba salah.  Keadaan seperti itu juga telah membuat aku sebagai anak sulung merasa terpanggil untuk membantu orangtua terutama agar bisa mengenyam pendidikan.

Tidak dinafikan bahwa pertanian ketika itu tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup keluargaku, maka aku berusaha untuk menyekolahkan adik-adikku agar bisa merubah kehidupan keluarga khususnya juga untuk pertanian.

Ditahun 1998 aku mencoba mengadu nasib untuk bekerja di luar negeri, aku mendaftar di PJTKI untuk bekerja di Brunei Darussalam sebagai pekerja kontruksi. Berbekal pengalaman kerja jadi buruh pertukangan rumah, aku memberanikan diri untuk bekerja dengan biaya adminitrasi dan perjalanan sebesar Rp.3.500.000, biaya itu didapatkan dari meminjam uang pada tetangga dengan bunga 100%. Lalu aku berangkat dari Lombok ke Jakarta untuk melakukan penyeleksian penerimaan pekerja, namun ternyata nasibku tidak berpihak kepadaku, aku gagal karena belum cukup umur dan belum memiliki spesifikasi pengalaman kerja yang diperlukan oleh perusahaan di Brunei Darussalam, maka dengan itu aku harus kembali pulang ke Lombok dan bertambahlah bebanku yaitu hutang.

Tetangga yang memberiku pinjaman uang itu karena tahu aku gagal, dia langsung ingin mengambil dan menyita rumahku karena takut hutangku tidak bisa ku bayar.
Keluargaku tertekan dengan keadaan itu dan lebih-lebih aku adalah harapan keluarga, dan ditambah beban moral dari warga yang menagih hutang.

Beberapa hari kemudian aku ditawari bekerja ke Malaysia sebagai buruh di sektor perkebunan kelapa sawit tepatnya di Serawak, Malaysia Timur.

Dari Lombok kami berangkat bersama dua ratus calon TKI yang akan ditempatkan di berbagai kawasan perkebunan di Serawak.
Perjalanan memakai bis dari terminal Mandalika Lombok menuju Surabaya untuk selanjutnya ke Tanjung Perak, saat akan sampai pelabuhan Tanjung Perak ternyata kapal tujuan Pontianak sudah berangkat. Lalu kami berinisiatif untuk menggunakan bis menuju pelabuhan Tanjung Emas, lalu dari sana lah kami berangkat menggunakan kapal Pelni. Namun sesampai di Pontianak, kami ditampung dirumah penampungan selama dua minggu sebelum menunggu proses adminitrasi dan visa.

Dan akhirnya, tiba saatnya aku pergi ke Malaysia, untuk pertama kalinya aku menapakan kaki di negeri orang dan aku mendapatkan pekerjaan di kebun kelapa sawit yang baru diolah.

Setelah tiga tahun di Serawak aku berpindah ke Serian daerah perbatasan dengan Kalimantan dan tidak jauh dari pintu masuk Tedebu. Disini aku bekerja sebagai tukang potong atau menebang hutan untuk dijadikan ladang atau perkebunan kelapa sawit. Diperbatasan itu aku melihat batu tiang besar batas Indonesia dan Malaysia, aku berpikir hutan Malaysia sudah mau menjadi kebun tapi kenapa hutan Indonesia masih berdiri megah pohon-pohon besar yang jadi ajang pencurian kayu. Saat itu aku kaget mendengar suara bak ombak gelombang kayu-kayu yang sudah digeret (istilah penebang pohon), setengah hektar pohon sudah digeret bertumbangan karet dihempap dengan pohon yang lebih besar dari atas bukit.

Hidup didalam hutan dengan tempat tinggal tenda buatan sendiri, menghadapi tantangan ketika bekalan air sudah habis dan dari situ aku belajar dan mencoba meminum air dari tali-tali seperti akar pohon yang menjalar yang ternyata menyimpan air.
Karena saat itu peraturan perusahaan berubah, saya putuskan untuk kembali ke Lombok dan membeli lahan sawah seluas 1 2 are dari hasil jerih payah ku sendiri selama 3 tahun lebih.

Kemudian setelah itu aku memutuskan untuk ke Batam mengurus visa dan dokumen lainnya untuk berangkat kembali ke Malaysia, dan karena belum disahkan permohohan permit yang dibuat oleh calon managerku, maka aku pun terpaksa harus menunggu dipenampungan bersama ratusan calon TKI lainnya di Tanjung Balai, Karimun selama 1 bulan sekaligus menunggu permit yang sedang diproses oleh managerku. Saat di penampungan itu, aku benar-benar merasa bosan dan pasrah seperti menunggu ketidakjelasan,  aku melihat teman-teman seperjuangan dimana saat itu kami makan secukupnya terkadang nasi dicampur jagung dan jumlah takaran nasi serba kecukupan untuk mengganjal perut. Di penampungan juga tidak jarang terjadi perkelahian karena di penampungan seperti ada tekanan batin atau perasaan yang marah tapi tidak tahu mau marah dengan siapa yang saat itu emosi para calon TKI susah dimengerti, ada yang sudah tiga bulan, lima bulan bahkan sampai satu tahun belum juga berangkat sehingga keadaan di penampungan memang penuh dengan wajah-wajah muram menunggu akan nasib mereka untuk bisa berangkat dan bekerja di Malaysia. Maka seperti itulah ternyata rasanya di penampungan, disaat aku bingung harus ngapain, tidak ada yang bisa diperbuat saat itu kecuali sabar menunggu.

Lalu setelah menunggu sebulan di penampungan Tanjung Balai Karimun, akhirnya visa dan dokumenku telah selesai dan aku memulai kembali bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit di Ladang Sindora Batu Pahat, Johor Bahru, disini aku banyak berinteraksi dengan masyarakat Malaysia. Berbeda di perkebunan sebelumnya yang sebagian besar pekerjanya adalah masyarakat Indonesia.

Dari pengalaman inilah aku mencoba mendengar tanggapan dan penilaian warga Malaysia tentang Indonesia. Tanggapan negative dan positif aku rangkum dikepala ini, dari banyaknya penilaian, satu yang aku merasa tertekan malu saat dikatakan warga Negara Indonesia itu suka merampok dan mencuri di daerah itu.

Secercah harapan dari pengalaman itulah aku membuat azam untuk mengurangi sisi negative TKI dimata masyarakat Malaysia membawa langkahku untuk memperbaiki diri dan menjaga serta berusaha memberikan yang terbaik untuk nama bangsa dan negara Indonesia.

Dan langkahku menuju Universitas Terbuka Pokjar Johor untuk melanjutkan pendidikan begitu bersemangat. Aku tidak peduli dengan usiaku yang sudah kepala tiga, namun walaupun aku keluarga petani tapi itu justru yang memotivasiku, setidaknya aku bisa bergelar sarjana dan mendapatkan ilmu bersama teman-teman mahasiswa dan membahagiakan semua keluargaku, bahwa seorang anak petani yang sudah tua pun masih bersemangat untuk kuliah.

Banyak kalimat sumbang yang aku dengar dari teman-teman seperjuanganku "ah kuliah buat apa?, diusia yang sudah lanjut seharusnya sudah memasuki dunia kerja kok malah masih memaksa diri untuk kuliah yang tidak menjanjikan apa-apa, lihat aja tuh para pengangguran lulusan sarjana hanya mampu memeluk lutut karena lapangan pekerjaan kurang".
Dalam menanggapi kalimat tersebut aku hanya tersenyum dan berkata "yah setidaknya sarjana nganggur itu sudah menuntut ilmu yang menjadi tuntutan dalam kehidupan berbangsa, beragama dan bersosial".

Demikian kisah singkat hidupku, semoga kedepannya nasib saudara-saudara petani di Indonesia bisa lebih baik lagi.
Share this video :
Comments
0 Comments

0 comments: