Home » » Aku Ingin Itu, Tapi Tuhan Beri ini

Aku Ingin Itu, Tapi Tuhan Beri ini


Oleh : Sheila Febriyanti
Penyunting : Endri Mardiansyah

Dulu, aku pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Bukan dokter yang mengobati orang-orang dengan keluhan sakit panas, sakit gigi atau semacam dokter umum, melainkan dokter spesialis kejiwaan. Ya, aku selalu memimpikan suatu hari aku bisa mengobati mereka para penderita gangguan kejiwaan, yang kadang-kadang ku temukan mereka terlantar di jalan-jalan raya. Entah apa yang membuatku sangat berambisi menjadi dokter spesialis kejiwaan, ingin sekali aku menyembuhkan mereka atau setidaknya tidak ada lagi diantara mereka para penderita gangguan kejiwaan yang berkeliaran terlantar di jalan raya. Betapa sakitnya tak pernah mereka rasa.

Setiap hari selalu aku berdoa, semoga setelah SMA aku lulus dengan nilai yang cukup untuk masuk disalah satu perguruan tinggi negeri yang sudah ku targetkan sebelumnya. Aku memilih Universitas Indonesia (UI) Fakultas FMIPA jurusan Psikologi dan pilihan kedua Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Fakultas FMIPA jurusan Psikologi.

Sampai pada hari dimana jalur masuk perguruan tinggi negeri dibuka melalui SNMPTN. Aku langsung mendaftarkan diri melalui jalur tersebut dan dengan tujuan PTN yang sudah ku pilih.
Tapi, ketika pengumuman hasilnya keluar aku kaget karena pasword SNMPTN milikku salah dan tidak bisa dibuka.
Aku menangis seharian karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku tidak menyerah sampai disini, aku mencoba jalur kedua yaitu SBMPTN lewat tes tulis. Hari itu juga aku minta izin ibuku dan pulang ke rumah sebab mendaftar SBMPTN membutuhkan biaya. Aku bergegas pulang dari pondok pesantren. Yaa aku salah satu santri dari Assalafiat Babakan-Ciwaringin Cirebon, hari itu juga aku izin pulang kepada Nyai ku.

Setibanya di rumah aku memberi kabar kepada ibuku bahwa aku ingin mengikuti SBMPTN jalur tes. Tapi jawaban yang ku dapat dari ibuku membuat aku patah, semangat sebab ibuku tidak mengizinkanku kuliah di luar kota. Aku menangis sejadi-jadinya waktu itu tanpa ibuku mau perduli, aku menelefon salah satu sahabatku yang kini dia menjadi suamiku sendiri. Aku menelfon meminta bantuannya untuk menjemputku pergi ke warnet, karena saat itu aku belum punya android ataupun laptop. Lalu sahabatku datang menjemput dan mengantarkanku pergi ke warnet. Akhirnya langkah pertama selesai, yaitu mencetak nomor urut yang ku punya di SBMPTN dan membayar insurannya.
Tinggal menunggu hari dimana tes tulis dilakukan, aku mendapat lokasi yg lumayan jauh dari tempat tinggalku dan untuk mencapai daerah itu aku membutuhkan ongkos ekstra karena pasti disana aku juga butuh makan.

H-1 tes tulis tiba, aku bingung tidak punya uang simpanan sama sekali. Spontan saja aku menelfon sahabatku (suamiku) untuk memberiku solusi agar bisa pergi kesana. Kita berdiskusi dan memutuskan untuk "ngamen" karena diantara kedua sahabatku tidak ada yang punya simpanan uang. Malam harinya aku dan kedua sahabatku pergi "ngamen" di tempat wisata kota yang ramai pengunjung. Dan hasilnya mengejutkan, aku mendapat recehan lebih dari cukup, aku tersenyum dan kedua sahabatku merasa ikut lega.
Kita kembali ke rumah dengan senyum lebar, tapi ku ingat tepat hari itu juga sahabatku yang kini menjadi suamiku berulang tahun. Setelah ku hitung rasanya cukup untuk ku belikan satu buah kue ulang tahun untuknya, toh uang ini juga hasil bersama. Aku dan sahabat laki-lakiku yang satu lagi bergegas membelikan kue ulang tahun untuknya. Rasa bahagia, haru semua bercampur menjadi satu, aku merasa mempunyai keluarga yang istimewa seperti mereka berdua, aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka.

Hari tes tulis tiba, aku diantar dua sahabat laki-laki ku berangkat ke daerah dimana aku tes tulis. Kita menunggu bus pukul 06.00 wib, entah kenapa hari itu tidak ada satupun bus yang melintas.
Aku memutuskan untuk mencari omprengan dan waktu itu ada truk minyak melintas, spontan saja dua sahabatku melambai-lambaikan tangan kode bahwa kita mau menumpang. Dan nasib baik pagi itu supir truk mau memberikan tumpangan pada kami.

Perjalanan masih jauh waktu tes dimulai pukul 08.00 wib dan jam sudah pukul 07.30 wib. Aku panik dan hanya berdoa semoga aku tidak terlambat. Pukul 08.10 wib aku masih di jalan dengan jarak yang masih jauh dengan tempat tes ku. Sampai pukul 09.00 wib tepat aku baru sampai di tempat tes tulis, aku bergegas lari mengabaikan satpam yang berteriak-teriak memanggilku, aku langsung mencari ruangan dan tempat duduk dimana aku akan mengerjakan soal-soal yang di ujikan. Aku beruntung karena pengawas ruangan tempatku memperbolehkan aku tetap masuk meski sudah telat satu jam lebih.

Dengan nafas terengah-engah aku mengerjakan soal-soal dan tak lupa berdoa sebelum mengerjakannya. Aku teringat tidak ada izin dari ibuku hari itu, tapi ah kupikir sepeleh saja, toh kalau aku diterima pasti beliau mau membiayai kuliahku.
Tes selesai, waktunya kembali ke rumah.
Dengan wajah memelas kedua sahabat ku, aku tidak tega melihat mereka lesu, aku mengajak mereka mencari makan di warteg pinggir jalan.
Aku salut dengan kesetiaan kedua sahabat laki-laki ku ini, aku tidak tahu membalas jasa mereka dengan apa. Aku menganggap mereka seperti kedua kaka laki-lakiku sendiri.

Tiba juga hari pengumuman hasil seleksi tes tulis atau yang biasa di sebut SBMPTN.
Aku mengeceknya via warnet dengan teliti, aku bahagia diterima disalah satu perguruan tinggi negeri yang aku inginkan walaupun bukan pilihan yang pertama tapi aku tetap bahagia.
Aku memberitahu ibuku, tapi dengan jawaban yang sama ibuku tetap kukuh tidak mengizinkanku kuliah di luar kota.
Tanpa restu ibu aku bukan apa-apa, aku memutuskan mundur dan tidak melanjutkan kuliah dimanapun.

Hari-hari semakin murung, sampai pada suatu hari aku di hianati pacarku tepat didepan mataku dan sahabatku. Aku semakin hancur tidak ada semangat lagi yang ku rasa, tapi sahabatku selalu memberiku semangat dan menghiburku dengan ide-idenya yang gila. Sampai pada suatu moment, salah satu sahabat laki-lakiku mengutarakan sebuah perasaan yang dia anggap lebih dari sekedar sahabat. Aku terkejut, takut sekaligus mendadak nervous saat dia mengatakan sayang sebagai kekakasih padaku tapi ku jawab " yaa gue tau lo sayang gue so pasti kan elo sahabat terbaik gue" sambil nyengir aku menjawabnya.

Satu bulan lamanya kita lebih dekat dari sekedar sahabat, sampai kalimat yang tak aku duga terucap dari mulutnya "Sheil, gue pengen punya temen, gue sepi sendirian terus bosen. Gue pengen punya istri". Dia menatap ke arahku dan aku membalasnya dengan senyum dan menjawab "yaa, aku siap".

Ternyata bukan ucapan yang main-main satu minggu setelah itu sahabatku datang dengan bapak juga keluarganya, aku kaget dan sama sekali tidak menyangka bahwa ucapannya serius. Hari itu juga aku dilamar dan menentukan hari qabiltu (ijab qabul).
Tepat 1 Muharram 1436H atau 25 Oktober 2014 aku melangsungkan pernikahan di kediaman ku, seperti mimpi semua itu berlangsung haru bahagia aku melepas masa lajangku.

Setelah menikah kita sudah tinggal berdua tanpa ibuku atau ibu mertua. Aku tinggal di rumah peninggalan nenek suamiku.
Suamiku yang waktu itu masih pengangguran bergegas mencari info pekerjaan dan didapatnya info kerja sebagai sales bank harian yang tugasnya menagih hutang para nasabah dan aku mengajar di madrasah diniyah tempat bibi suamiku mengajar.

Satu tahun kemudian suamiku mendapat info kerja di Malaysia dan dia berminat berangkat kesana dan aku pun ikut mendaftar karena lowongan untuk pekerja perempuanpun ada.
Aku berangkat lebih dulu ke Malaysia, lalu 4 bulan kemudian suamiku menyusul dengan pekerjaan yang berbeda denganku juga tempat yang berbeda, aku di Senai dan suamiku di Pandan.

Setahun lamanya di Malaysia, tepat di hostel/asrama tempatku tinggal mengadakan sosialisasi pendidikan dari Universitas Terbuka Pokjar Johor yang kebetulan waktu itu aku juga mengisi salah satu acara selingan dengan bernyanyi sambil main gitar dan aku mengundang suamiku untuk hadir di acara itu.

Awalnya aku sempat ragu karena ku kira UT adalah Universitas swasta, tapi setelah ku tahu ternya UT termasuk PTN yang ada diseluruh pelosok Indonesia dan juga ada hampir diseluruh dunia dan aku tertarik kuliah kembali melihat kaka-kaka mahasiswa yang ikut sosialisasi waktu itu memakai almamater UT. Dan ketua hostelku sendiri salah satu mahasiswa UT yang sekarang menjabat sebagai ketua DPM di Universitas Terbuka Pokjar Johor, hari itu juga aku dan suamiku bertanya banyak tentang UT sampai aku benar-benar yakin untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Waktu itu suamiku tidak mau kuliah, dia bilang aku saja yang kuliah tapi aku memaksa dan meyakinkannya untuk bersama-sama melanjutkan kuliah sambil bekerja dan akhirnya suamiku mau.


Aku dan suamiku menjadi mahasiswa baru di 2016.2 Universitas Terbuka Pokjar Johor dengan mengambil jurusan yang berbeda, aku di Sastra Inggris dan suamiku di Ilmu Komunikasi. Cita-cita yang dulu menggebu dan sempat terabaikan kini kembali membakar semangatku, tapi ku tepikan menjadi dokter spesialis kejiwaan karena untuk mencapai semua itu aku perlu ridho suami serta ibuku. Aku tidak mau memusingkan kedua orang itu, orang yang aku sayang orang yang menjadi penentu surgaku. Ternyata Tuhan lebih tahu apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan. Dan aku yakin Tuhan memberi jalan bagi mahkluknya yang berikhtiar.

Tak lupa aku meminta izin kepada ibuku untuk melanjutkan kuliah di Malaysia bersama suamiku, dengan senyum bahagia ibuku terharu dan memberikan izin serta doanya padaku. Ya bu, walau aku sudah bersuami tapi doa ibu tetap ridho Allah.

Hampir satu semester berlalu aku mendapati kabar bahagia, aku hamil.
Betapa aku tidak bisa mengekspresikannya sebab kontrak kerjaku belum habis, ditambah aku punya tanggung jawab atas kuliahku.

Aku benar-benar bingung, tapi suamiku yang sekarang menjabat sebagai ketua jurusan Ilmu Komunikasi selalu menenangkanku dengan nasehat-nasehatnya. Bahagianya aku memiliki sahabat sekaligus pendamping hidup seperti suamiku.


Tiba dimana hari aku harus pulang ke Indonesia setelah UAS semester satu ku selesaikan. Betapa senangnya kuliah di Universitas Terbuka Pokjar Johor, aku tidak harus bertemu dengan dosen dan berangkat kuliah setiap harinya, UT ada diseluruh daerah Indonesia dengan sistem pembelajaran jarak jauh, UT juga ada hampir diseluruh negara. Tapi mungkin masih belum banyak yang mengenal Universitas Terbuka, aku harap aku bisa membawa nama UT agar lebih familiar dan banyak peminatnya, karena aku tahu pasti banyak lulusan SMA yang ingin lanjut kuliah tapi terkendala biaya juga mungkin waktu dan UT adalah solusi dari mereka yang ingin kuliah tanpa terbatas biaya juga waktu. Karena UT termasuk PTN yang ramah di ongkos dan terjangkau di waktu. Juga usia tidak menjadi batasan untuk menimba ilmu karena kita di wajibkan mencari ilmu/belajar sampai ke liang lahat.
Dan menurutku kuliah tidak harus di perguruan tinggi ternama atau terpopuler, karena dimana pun kita kuliah hanya wawasan dan skill yang menentukan rating kita sebagai mahasiswa.

Tepat hari ini dimana perutku semakin membuncit di usia kandunganku yang ke 34 minggu aku baru sempat menuliskan cerita atau lebih tepatnya memory tentang perjalananku menuju Universitas Terbuka. Aku mohon maaf apabila ada kesalahan kata yang kurang berkenan dihati para pembaca.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembacanya. (S.F)


Share this video :
Comments
0 Comments

0 comments: