Home » , » Aku Dan Semangat Juangku

Aku Dan Semangat Juangku

Hamdan Wahidi
Oleh : Hamdan Wahidi
Penyunting : Endri Mardiansyah

Namaku Hamdan Wahidi, umurku sudah masuk 26 tahun. Aku anak ketiga dari 6 bersaudara.
Aku tidaklah seberuntung kalian, aku lahir dari keluarga yang sangat sederhana, keluarga petani di pelosok desa. Hidupku sangat keras, karena sejak kecil aku sudah terbiasa diajar bekerja keras, dimasa kecil aku diajarkan mengembala dan bertani sejak belum masuk SD tahun 1997.
Masa-masa kecilku selalu ku habiskan dengan mengikuti orang tua ku ke sawah. Dikala teman-teman sebayaku asyik bermain aku sibuk mengembala, hampir tidak ada waktu untuk bermain. Ya saat kecil aku memang "kurang bahagia".

Kesempatan bermain dengan teman sepermainan tidak banyak, aku selalu dimarahi orang tua ku kalau sering pergi bermain lama-lama. Sepulang sekolah anak-anak lain biasanya akan bermain tetapi tidak denganku, sepulang sekolah aku harus mengembala.

Dengan keadaan seperti itu aku pernah hampir putus sekolah saat kelas 6 SD tahun 2002, karena saat itu aku berpikir tidak ada gunanya bersekolah "aku merajuk dengan keadaan ku". Hampir tiga bulan lamanya aku tidak masuk sekolah yang menyebabkan pihak sekolah datang ke rumah untuk membujuk agar mau menyelesaikan pendidikan dasar yang tinggal satu semester. Setelah mendapat nasihat, dari situlah semangatku untuk menuntut ilmu bangkit kembali, di sekolah aku sangat disayang guru-guru ku karena aku termasuk anak yang cerdas.

Setelah lulus SD, orang tua ku tidak mau lagi melanjutkan sekolah ku ke SMP karena kurangnya kesadaran bahwa pendidikan itu penting. Ayahku hanya sekolah sampai kelas 2 SD di zaman perang kemerdekaan sedangkan ibu sampai tamat SD. Selain tidak mampu karena ramai saudaraku yang harus di biayai.

Aku terpaksa harus menggeluti profesiku sebagai pengembala dan petani tanpa sekolah, tetapi keinginanku untuk menyambung pendidikan tidak pernah padam. Aku selalu merasa iri ketika anak-anak lain setiap pagi berangkat ke sekolah sedangkan aku setiap pagi harus berangkat ke sawah. Sambil berkerja aku terus berpikir bagaimana untuk bisa sekolah tanpa harus membebani orang tuaku, aku harus buktikan kalau aku bisa mandiri.

Waktu itu usiaku sudah 14 tahun, tapi aku masih belum bisa melanjutkan sekolah. Aku sudah ketinggalan 2 tahun dari teman sebayaku, tapi di usia itu aku sudah bisa dikatakan mandiri karena selain makan sudah bisa mengurus diri seperti cuci baju sendiri, beli keperluan pribadi seperti pakaian, alat mandi dan uang jajan dari hasil keringat sendiri. Sejak itulah aku mulai mandiri.

Singkat cerita, keinginanku untuk melanjutkan pendidikan akhirnya kesampaian ketika mendapat tawaran untuk masuk sekolah di SMP Terbuka tahun 2004, dari suami sepupuku yang kebetulan menjadi PNS di SMP favorit di desaku, jadi dari situ lah aku sudah mengenal institusi pendidikan terbuka sejak SMP. Ternyata disana banyak siswa yang latar belakangnya senasib denganku, selain ada siswa yang putus sekolah dan gagal lulus UN di SMP favorit itu. Kami sekolah setiap hujung minggu dan dikasih uang transport sebesar Rp.60.000 sekali pertemuan, uang yang didapat aku tabung dengan harapan bisa masuk SMA.

Selain sekolah di SMP Terbuka, aku juga ikut belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harapan Kita, yang merupakan sebuah program pendidikan masyarakat putus sekolah di awal pemerintahan SBY untuk mengejar paket B yang bernaung di sebuah sekolah swasta di kampungku. Di sekolah itu kami belajar setiap sore, dari hari senin hingga kamis, sedangkan di SMP Terbuka setiap sore hari sabtu dan minggu.

Setibanya tahun ujian, aku memilih ikut UN di SMP Terbuka dan meninggalkan PKBM. Selain legalitasnya sama dengan sekolah negeri aku juga bisa menyamakan kedudukan dengan teman sebayaku, jadi kami sama-sama lulus di SD dan SMP (yeee..  gak jadi ketinggalan pikirku).

Setelah tamat SMP, tidak disangka aku mendapat tawaran untuk sekolah di pondok pesantren terbesar dan terkenal di daerahku (NTB), ya di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darul Nahdlatain Nahdlatul Wathan (YPH PPD NW)  Pancor - Selong - Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pimpinan Gubernur NTB yang sekarang Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi. Lc MA. Aku sangat bersyukur sekali, aku teringat pesan guru ngajiku "siapa yg sungguh-sungguh mencari jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkannya". Benar saja aku masuk pesantren tanpa banyak biaya karena pesantren menanggung biaya pendidikanku sepenuhnya dari ujung rambut hingga hujung kaki alias "gratis".

Pesantren itu mengelola semua jenjang pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi yang banyak jenisnya. Di tingkat SLTA saja ada banyak jenis ada SMA,SMK,MA khusus laki-laki, MA khusus perempuan, ada MA khusus bidang agama dan ada MA + Keterampilan. Aku sempat bingung mau masuk yang mana, karena ada yang khusus laki-laki saja, ada yang khusus perempuan saja dan ada jug yang bercampur antara laki-laki dan perempuan dalam satu bumbung tapi kelasnya dipisahkan.

Akhirnya aku memilih masuk di MA + Keterampilan yang pada waktu itu adalah sekolah yang paling favorit dan berprestasi baik dibidang akademik maupun ekstrakurikuler, serta menyediakan jurusan keterampilan yang menyediakan kelas keterampilan seperti terampil bertani, berternak, tata busana dan bangunan atau per-meuble-lan.

Madrasah Aliyah itu menerapkan sistem pendidikan full day school dari pukul 7.00 pagi hingga pukul 2.00 siang dan masuk lagi pukul 3.00 petang hingga 10.00 malam (pada masa itu). Sedangkam aku tinggal di asrama yang menerapkan aturan yang sangat ketat dan keras. Kami menyebutnya "penjara suci", hanya santriwan dan santriwati yang punya jiwa dan semangat baja yang mampu bertahan.

Di Madrasah itu aku bersaing dengan para santri dari berbagai pelosok daerah. Pada awalnya aku tidak bisa menunjukkan prestasi apa-apa karena masih sangat terasing,  sebagai santri yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja (tidak banyak pengetahuan agama),sedangkan santri lain sudah punya basic pengetahuan agama yang kuat karena ada yang nyantrinya sejak MTs nya di situ.

Semester pertama di kelas X⁴ aku hanya memperoleh nilai standar kompeten, sebagai santri yang lulusan SMP Terbuka itu sudah untung. Kemudian aku mulai belajar dengan tekun, aku ingin menunjukkan kepada keluargaku bahwa aku bisa. Di asrama yang berpenghuni hampir seratus orang, aku juga termasuk santri yang rajin dan tekun serta disayang pengasuh. Aku pernah menjadi ketua kelompok di asrama laki-laki itu dan menjadi santri yang paling sering mendapat prestasi mewakili asrama di sekolah.

Di semester 2 kelas X aku mulai menunjukkan prestasi, aku sudah bisa masuk 10 besar diantara ratusan santri. Aku mendapat peringkat ke 8 dan membuatku semakin termotivasi karena untuk bersaing dengan orang-orang pilihan di sekolah itu tidak mudah. Kemudian setelah naik ke kelas XI aku sudah mulai mengambil jurusan dan Aku memilih jurusan IPS.

Di sekolah aku sangat antusias mengikuti setiap kegiatan ekstrakurikuler dan ekstrakurikuler yang paling aku minati adalah Ke-pramukaan dan pencak silat. Manakala kelas keterampilan aku memilih terampil tata busana yang notabene mayoritas perempuan, tapi karena ingin bisa menjahit aku tepis saja rasa malu itu.

Lanjut cerita, di semester pertama kelas XI² persaingan semakin sengit. Tapi "AKU DAN SEMANGAT JUANGKU" berhasil meraih peringkat ke 3 di jurusan IPS dan itu prestasi yang membanggakan orang tuaku. Namun perjuangan tidak selamanya mulus, di semester dua aku jatuh ke peringkat 5, walau sebenarnya nilai rapot ku lebih tinggi dari yang menggantikanku di peringkat 3. Mungkin gara-gara aku pernah dianggap tidak sopan oleh wali kelasku.

Naik ke kelas XII IPS, lagi-lagi "aku dan semangat juangku" kembali berkobar. Kali ini harus berada di puncak, gumamku, Alhamdulillah seperti sabda Nabi "man jadda wa jada" siapa yang bersungguh-sungguh pasti berjaya. "You can if you think you can" kamu bisa jika kamu pikir kamu bisa. Aku berhasil menjadi juara di jurusan IPS dari 160 lebih siswa IPS, hingga tamat sekolah.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku seorang anak kampung miskin yang hampir putus sekolah dan tidak ada harapan untuk sekolah seperti orang lain mampu meraih prestasi yang bagiku sangat mustahil di pesantren yang sangat populer dan di hormati itu.

Dari situlah harga diri dan keluargaku yang tadinya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kampung, kini mulai dilirik karena banyak orang kaya dikampung ku yang bangga bisa menyekolahkan anaknya tapi anaknya tidak bisa dibanggakan bahkan kelakuannya memalukan. Sedangkan aku tanpa membebani orang tuaku, aku bisa sekolah dan bisa menunjukkan prestasi serta mencari penghidupan sendiri.

Walau orang tuaku tidak mampu membiayaiku tapi tunjuk ajar mereka menjadi modal perjuanganku. "Banyak orang tua yang berpendidikan tinggi tapi tidak tahu bagaimana mengajar anaknya sendiri", sedangkan orang tua ku walau tidak berpendidikan tinggi tapi bisa mengajarkanku budi pekerti.

Malaysia..!!

Aku tidak pernah bermimpi berencana apalagi bercita-cita untuk merantau ke Malaysia. Waktu itu setelah selesai ujian nasional, pengumuman kelulusan di siarkan melalui radio pesantren. Gelombang frekwensinya hampir menjangkau seluruh daerah NTB dan Bali, sekolah ku satu-satunya yang menyiarkan kelulusan lewat radio sebelum memberikan surat kelulusan resmi kepada para orang tua atau wali santri. Dari ratusan peserta UN di sekolah ku hanya 4 orang yang dinyatakan tidak lulus, dan kami adalah angkatan terakhir yang mengikuti ujian nasional pada tahun ajaran 2008/2009 sebelum UN dihapus dari sistem pendidikan nasional oleh presiden SBY melalui Kementrian Pendidikan.

Setelah aku dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku ditawari hadiah berupa kelengkapan kuliah seperti sepasang pakaian, tas dan sepatu oleh wali kelas ku yang juga seorang dosen senior di Perguruan Tinggi di pesantren itu, tapi aku menolaknya karena sebelum itu aku sudah mendapat kabar akan ke Malaysia. Ketika aku ke sekolah untuk menyelesaikan urusan pengambilan rapot dan ijazah aku terpaksa harus berbohong ketika ditanya mau kuliah di universitas mana oleh guru-guruku yang kebanyakannya adalah juga sebagai dosen. Sampai sekarang belum ada seorang guru ku yang tahu kalau aku menjadi TKI, karena aku yang dinilai berprestasi tiba-tiba akan menjadi TKI dan menjadi TKI waktu itu sesuatu yg dipandang rendah. Karena menurut sebagian orang di daerahku, menjadi TKI adalah bagi orang-orang yang tidak berpendidikan, golongan prustasi, tidak punya masa depan, dan hanya menjadi babu di negeri orang. Bahkan didalam pidato perpisahan kami di pesan oleh kepala asrama agar sekeluarnya dari pesantren jangan sampai ada yang menjadi TKI. Minimal kami harus bisa menjadi Imam atau khatib masjid di kampung masing-masing. Karena waktu itu sedang panas-panasnya berita tentang TKI dan permasalahan buruknya.

Lanjut cerita, waktu itu aku belum resmi keluar dari pesantren masih ada pembekalan keterampilan hidup sebelum diserahkan kepada orang tua atau wali masing-masing. Pihak asrama bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui dinas industri dan perdagangan Kabupaten Lombok Timur. Menyelenggarakan kursus selama beberapa hari dibidang keusahawanan dan pangan. Kami diajarkan tata boga dan cara membuat tahu/tempe dan kemudian dilanjutkan dengan study tour keliling pulau Lombok dan berakhir dengan acara perpisahan dan penyerahan santri secara simbolik kepada wali pada bulan Juli 2009.

Di kesempatan itu juga aku diberi penghargaan untuk pertama kalinya sebagai santri terbaik versi asrama yang dihuni oleh hampir 200 orang putra dan putri, yang disampaikan langsung oleh Immi Dr. Ir. Siti Rohmi Jalilah yang merupakan salah seorang pejabat tinggi pesantren yang juga ketua DPRD Kabupaten Lombok Timur dan sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Hamzanwadi Selong.

Aku masih belum pulang ke rumah karena sebelumnya aku menyempatkan diri untuk berlibur di rumah bibi. Lalu datanglah utusan yang juga sepupu yang akan membawaku ke Malaysia. Dia menyatakan bahwa orang tua ku meminta aku untuk ikut merantau, aku masih bengong karena tidak pernah berpikir akan ke Malaysia, yang aku pikirkan waktu itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa kuliah seperti teman-teman ku yang lain dan mencari cara untuk mendapatkan beasiswa.

Waktu itu aku benar-benar galau, tapi disamping itu juga aku penasaran tentang negara Malaysia yang di sebut-sebut itu. Sampai menjadi pepatah daerah dan masuk ke lirik-lirik lagu, sedikit-dikit Malaysia.
Perasaanku bercampur aduk, selain malu juga penasaran seperti apa sih pekerjaan di Malaysia yang kedengaran sangat menggiurkan itu. Karena orang-orang yang pulang dari Malaysia itu sangat bergaya, tapi tak lama kere lagi, masuk lagi ke Malaysia.

Sebagai seorang santri, taat kepada kedua orang tua adalah wajib setelah Allah dan Rosul. Karena orang tua adalah wali Allah diatas muka bumi ini, Ridho Allah terletak pada ridhonya kedua orang tua. Dengan bismillah aku akur dengan kehendak orang tuaku, pasti ada hikmah disebaliknya.

Singka cerita setelah menunggu proses hampir setengah tahun lamanya, hari yang dinanti tiba juga akhirnya. Tanggal 2 Januari 2010 malamnya aku awali dengan sholat hajat  2 rokaat, meminta kepada Allah agar dilindungi dan tidak tersesat jalan ditengah derasnya arus kehidupan dan liarnya pergaulan.

Mobil calo yang akan membawaku pun tiba. Dengan membaca bismillah lalu mencium tangan dan kaki kedua orang tuaku, aku melangkah keluar dari pintu rumah dan berpamitan serta bersalaman dengan seluruh keluarga besar yang turut meratapi dan mendoakanku. Perasaan sedih dan bimbang bercampur baur, apakah aku masih bisa pulang kembali ke pangkuan keluarga dengan selamat dan membawa secercah harapan, atau sebaliknya hanya pulang tanpa nama. Karena ini adalah pertama kalinya aku akan meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman bahkan negara tercinta dalam waktu yang lama untuk merantau jauh ke negeri orang. Orang tua ku melepaskanku dengan penuh ridho dan tawakal apakah aku hidup atau mati.

Aku meninggalkan rumah hanya berbekal semangat dan tekad yang kuat serta sedikit ilmu pengetahuan umum dan agama sebagai penjaga agar tidak hanyut mengikuti arus pergaulan dan gejolak jiwa remaja. Niat terbesarku waktu itu adalah mencari modal selama dua tahun untuk kuliah atau untuk masuk militer karena sebelumnya aku juga pernah ditawarkan oleh sepupuku yg berpangkat Sersan Mayor (SERMA) TNI AD untuk daftar militer jika tak bisa kuliah karena dulu di sekolah sangat aktif di saka wirakartika pramuka yg dilatih langsung oleh anggota militer TNI AD. Aku disuruh menyiapkan uang minimal 25 juta batas umur 22 tahun dan tinggi minimal 165 cm. Akupun menyanggupinya, umurku waktu itu baru 18 tahun, tapi seiring waktu berjalan aku berfikir badanku bisa gemuk dan tinggi sesudah masuk ke Malaysia karena kebanyakan orang yang masuk Malaysia pulangnya berambut gondrong, body besar dan tinggi. Ternyata tidak denganku, mungkin karena sudah ditempa dengan kerja keras dan pikiran keras jadi badanku sudah tidak bisa tumbuh lagi.

Sebelum diberangkatkan ke Malaysia aku dan teman-temanku di karantina selama 2 hari di sebuah PT PJTKI di kota Mataram. Kemudian diberangkatkan tanggal 4 Januari 2010, sesampai di bandara aku dipercayai oleh agen sebagai ketua dan membawa sebuah berkas tebal dalam sampul besar yg entah apa isinya. Persaan gembira muncul apabila untuk pertama kalinya akan menaiki pesawat, Merpati adalah pesawat yang ku naiki yang ketika itu masih beroperasi. Kami transit di Bali dan menginap satu malam lalu paginya kembali menaiki pesawat, kali ini pesawat Malaysia Air Line Sistem (MAS) dari bandara internasional Ngurah Rai Bali menuju Kuala Lumpur Malaysia. Sesampainya di Malaysia sudah tanggal 6 Januari 2010. Sebagai orang kampung aku cukup kagum melihat kemajuan Negara Malaysia, hati bertanya-tanya aku akan bekerja dimana?

Ayer Manis Estate yang dikelolah oleh Sime Darby Plantation Sdn Bhd, sebuah Perusahaan ladang kelapa sawit terbesar di Malaysia iniblah aku di pekerjakan. Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat pohon dan buah kelapa sawit.

Hari demi hari ku lalui di rantauan ini. Tidak banyak keluh kesah karena aku sudah terbiasa kerja berat dan hidup susah. Perasaan juga tenang-tenang saja karena sudah terbiasa jauh dari keluarga dalam waktu yang lama. Di pesantren dulu kami hanya diizinkan pulang sekali dalam setahun yang diatur secara resmi, aku sangat menikmati apapun pekerjaanku. Hari-hari ku lalui dengan semangat, keluh kesah dan menyerah apa lagi berputus asa tidak pernah ada dalam kamus hidupku.

Dua tahun sudah berlalu kontrak kerjapun habis. Tapi aku tidak di izinkan pulang oleh majikan karena di sayang juga karena termasuk pekerja andalan. Aku pernah mau lari tapi berpikir dua kali, badanku sudah tidak bisa tumbuh lagi, tinggiku mentok di 157cm saja, cuma umur dan berat badan yg berubah ubah. Akupun membatalkan hasratku untuk masuk militer, kemudian mengkonfirmasi sepupuku itu, tapi untuk melanjutkan pendidikan semangat itu masih ada.

Pulang belum bisa kuliah sudah tentu tertunda, uang hasil kerja kerasku selain untuk kebutuhan keluarga juga dipakai untuk membangun rumah selangkah demi selangkah, kontrak kerja pun di sambung ketahun berikutnya. Seiring waktu berjalan 3 orang adik-adikku beranjak besar dan sudah sekolah, ada yang baru duduk dibangku SD, SMP dan SMA. Aku tidak ingin mereka mengalami keperitan hidup seperti yang ku alami, pendidikan mereka harus tuntas minimal wajib belajar 12 tahun. Lalu ku putuskan untuk membiayai mereka semua sepenuhnya. Untuk menggantikan tanggung jawab orang tua ku dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang kakak dan anak laki-laki. Mereka juga besar dalam jagaanku saat kami ditinggal kerja orang tua, aku sangat menyayangi mereka, demi mereka aku sanggup bertahan di Malaysia hingga hari ini.

Bagiku dapat membiayai adik-adikku sekolah adalah hasil terbesarku selama menjadi TKI, selain sebuah rumah dan kendaraan dengan hasil kerja yang lumayan selama bertahun-tahun yang seharusnya aku bisa kuliah di universitas favorit di daerahku. Tapi semakin bertambahnya usia pemikiranku juga berubah, aku menghamburkan sebagian hasil kerjaku untuk membahagiakan keluargaku.

Kini sudah masuk delapan tahun aku hidup merantau di Malaysia, hanya pernah dikasih pulang cuti sekali selama 4 bulan di tahun 2014. Masa depanku sudah samar-samar, apakah akan menikah dulu atau kuliah dulu? Lalu ku menemukan solusinya.

Ya Universitas Terbuka. Satu-satunya Universitas yang mampu memberikan solusi yang tepat, kuliah tanpa harus berhenti kerja dan kehilangan pendapatan. Adalah sebuah kebanggan bisa menjadi bagian dari Universitas Terbuka Pokjar Johor. Kami bangga bahwa pemerintah dalam hal ini Konsulat Jenderal RI Johor Bahru berkerjasama dengan UPBJJ UT Batam melalui perluasan UPBJJ nya ke Malaysia menghadirkan Universitas Terbuka Pokjar Johor sebagai solusi bagi kami para TKI yang punya semangat dan cita-cita besar untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, yang merupakan tanggung jawab Negara yang diamanatkan di dalam pembukaan UUD 45, yang termasuk dialenia ke empat,dalam tanda kutip "mencerdaskan kehidupan bangsa".

Perjuangan kembali dimulai, sejarah membuktikan bahwa banyak orang-orang besar yang lahir dari orang orang kecil. Semangat..!!!!


SEKIAN


CATATAN : Aku tidak bermaksud untuk menonjolkan diri, tapi aku yakin mungkin ada diantara kita yang cerita hidupnya hampir sama dengan ku. Aku merasa lega karena dapat melepaskan uneg-uneg yang selama ini bersarang dalam pikiran, yang tidak tahu harus curhat ke siapa. Aku bersyukur ada kesempatan untuk menulis cerita disini. 

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca, juga atas tata bahasa nya yang jauh dari kata sempurna. Aku hanya menggunakan bahasa yang polos tanpa banyak istilah karena aku cinta bahasa Indonesia. Dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya karena telah sudi membacanya sampai selesai.


Pesan positif yang ingin aku sampaikan adalah, jangan bernah berhenti berharap, teruskan berjuang. Allah SWT telah berfirman "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka berusaha merubah nasibnya sendiri" .

Rasulullah SAW bersabda "Jika kamu ingin bahagia di dunia hendaklah dengan ilmu, jika ingin bahagia di akhirat hendaklah dengan ilmu dan jika ingin bahagi di dunia dan di akhirat sekaligus juga harus dengan ilmu".

Juga dalam sabdanya manjadda wa jada "siapa yang berusaha bersungguh-sungguh pasti berjaya".

"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan hidup abadi dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan mati esok pagi"

Imam Al Gozali rahimahullah telah berkata.
Dengan seni hidup itu indah.
Dengan ilmu hidup itu mudah.
Dengan agama hidup akan menjadi lebih terarah.

 Bung Karno pernah berkata "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit niscaya kamu akan menggapainya".

Pendidikan adalah modal utama untuk merubah kehidupan. #NelsonMandela

Kepuasan itu terletak pada usaha bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. #MahatmaGandi

Dalam islam yang dinikmati dan dinilai disisi Allah itu adalah proses. Sedangkan Hasilnya adalah bonus. #UstadAAGym

Optimisme adalah gelora jiwa sedangkan riak dan gelombangnya adalah kebahagiaan.  #AnisMattta

Jangan pernah putus harapan pasti ada jalan dibalik kemahuan. #pepatah

Aku mengucapkan jutaan terima kasih kepada KJRI Johor Bahru dan UT, khususnya kepada admin UT Pokjar Johor Kak Endri Mardiansyah dan Mas Kiswanto Sugeng yang telah memberikan informasinya sehingga aku bisa bergabung bersama kalian.


Salam UT POKJAR JOHOR

Salam Mahasiswa

Hidup TKI....!!! 
Share this video :
Comments
0 Comments

0 comments: