Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Selasa, 28 Februari 2017

Cerita Gagak Ditengah Malam

boombastis.com

 Oleh : V.V.L

Cerita gagak ditengah malam, penyampai rasa kegundahan.
Adakah kabar membawa kematian?
24 jam ia mengintai.
24 jam tanpa disadar.

Cerita gagak malam, ditengah malam.
Serigala galak menggungggung dibalik gunung yang gelap.
24 jam napas terengah-engah.
24 jam seakan panjang.

Bumi panas seakan tak nyaman, katanya kiamat kian dekat.
Perubahan global membuat takut.
Takut mati, takut miskin dan takut untuk semua hal.

Ricuh, porak poranda diberbagai negeri dibelahan dunia.
Mungkin sudah kehendak Tuhan.
Tapi manusia berkedok kebohongan mengatas namakan kemiskinan.
Namun hanya menyenangkan dirinya saja.

Oh, gagak ditengah malam, janganlah lagi
menyampaikan kegundahan.
Selalu bertanya pada manusia lain
Sudakah memperlakukan orang lain layaknya manusia?
Tapi pernahkah bercermin pada diri?
Pernahkah meringankan beban sesama saudara?
Karna seteguk air putih saja pun sudah bisa melegakan kerongkongan yang haus.

Lalu, haruskah menunggu kaya?
Haruskah menunggu lapang?
Sampai pada akhirnya merasakan sempit rezeki, Tuhan.

Untuk seorang yang pelit. (V . V . L)

Wajah-Wajah Pejuang

Aim Matul Khana

Oleh : Aim Matul Khana
Penyunting : Endri Mardiansyah

Entah sudah berapa cangkir kopi yang ku habiskan bersama sang waktu. Entah berapa mangkuk maggi yang biasa ku santap disaat kemalasan menyapa.
Entah berapa judul buku yang kadang hanya ku bolak balik lembarannya.
Entah berapa bait puisi palsu, puisi rahasian dan puisi yang ku buat kemudian ku koyak lalu ku buang.

Aaahhh, entahlah kenapa seperti ini. Terkadang memang tak masuk akal, kenapa seseorang bisa menghabiskan waktu hanya dengan memegang buku tanpa membuka lembarannya, duduk termangu didepan tv berlama-lama, tapi tak tahu apa yang ditontonnya.

Duduk di toilet berjam-jam pun juga ada. Terpaku menatap layar monitor dengan jari-jari siap menari diatas keyboard. Tapi apa?, tak ada satu huruf pun yang tertera dilayar. Kenapa? adakah seseorang yang mampu menjabarkannya.

Aku sendiri pun seperti sudah kehabisan cara untuk bisa menolak yang tidak ku suka. Karena semakin ia ku tolak serasa semakin dekat dan tidak nyaman dengan ku. Ahhhh, entahlah.
Ku coba meresapi bersama sang waktu yang membawaku ke berbagai penjuru. Tak ingin ku berdiri mematung, hanya bisa menyimpan mimpi tanpa ada usaha mewujudkannya. Atau sekedar membaca buku tentang perjuangan, sekedar melihat mereka yang bergegas bersama ransel keyakinan yang kuat bahwa mereka mampu mewujudkan angannya.

Tidaaak, aku tak ingin hanya bermimpi.
Aku ingin mewujudkan mimpi  yang sederhana ini. Mimpi yang tiada seorangpun yang tahu, Ya Rabb mudahkanlah jangan sulitkan. Sekecil apapun mimpi itu apabila sudah pernah ada usaha mewujudkannya, namun tak berhasil jua, tak mengapa, yang terpenting kita sudah berusaha berjuang. Mungkin hari ini GAGAL, tapi tidak untuk besok. Keep on doing your best sampai tiba waktunya untuk pulang.

Semangat yang sesungguhnya itu adalah semangat yang kian membakar jiwa yang istiqomah dengan usaha. Bukan semangat yang muncul ketika atau saat dilihat orang-orang tanpa adanya usaha yang berkesinambungan. Lindungi SEMANGATMU dengan do'a. Minta kepadaNya dengan kerendahan hati, bahwa tanpaNya, aku, kamu dan kita bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa- siapa.

Tak perlu memelihara kotak congkak didalam diri. Tak perlu memelihara koper yang isinya hanya kata ''benci" dan saling ''mencaci'', karna semua itu hanya akan membawamu kepada kehancuran yang nyata. Peliharalah jiwa yang pengasih dan hati yang tulus walaupun itu susah. Tetaplah berusaha, jangan menyerah hanya karna mendengar ocehan yang tak memotivasi.

Bagiku, sebuah perjuangan tanpa ketulusan itu ibarat makan mendoan tanpa balutan tepung (berarti bukan mendoan, ya kan).

Kawan, dimanapun aku, kamu dan kita berada, tetaplah berjuang, tetap semangat tanpa ada kata berhenti atau menyerah sebelum berjuang. Jalan terjal telahpun siap menyambut kaki para pejuang sejati. Jurang yang curam siap menjadi penonton yang menyaksikan kaki yang menari diatas kerikil tajam. Hingga akhirnya benar-benar bisa menyuguhkan tarian yang indah.

Sakit, sedih, perih, lelah, senyum dan tawa hanya benar-benar bisa diresapi oleh seseorang yang berhati tulus. Mereka paham kapan dan dimana ia harus benar-benar meletakkan itu semua.
Tanpa adanya bumbu kepura-puraan, jujur dan apa adanya adalah modal pelajar dan pejuang selain dari pada ''SEMANGAT".

Tak perlu malu bila papa, dan tak perlu minder bila memang belom tahu. Don't be shy to ask and keep on doing it everyone has flaws.

So, jangan takut, yang terpenting adalah tetap bergerak, berusaha dan menghindar dari kata monoton. (A.M.K)

Selamat Berjuang kawan.

Salam semangat, ''Bersatu kita teguh bercerai kita bersatu Lagi"


Untuk mu Indonesia.
kami pejuang di negeri jiran.
Untuk mu Indonesia.
Kami Tulus belajar.
Demi masa depan.
Demi generasi cemerlang.
Demi Indonesia.
Demi cinta ibu pertiwi.

Internet Gratis Untuk Mahasiswa UT

Oleh : Endri Mardiansyah

Universitas Terbuka (UT) sejak beberapa tahun terakhir telah memberikan jaringan internet nirkabel secara gratis bagi mahasiwa UT yang berada di Indonesia guna memudahkan mahasiswa dalam mengakses materi pembelajaran melalui situs-situs UT seperti Tutorial Online (TUTON), Ruang Baca Virtual (RBV) dan lain sebagainya.

Dalam pemberian jaringan internet gratis bagi mahasiswa ini, UT bekerjasama dengan PT Telkom Indonesia selaku penyedia layanan @wifi.id, jadi hanya mahasiswa UT yang berada Indonesia saja yang dapat mengakses @wifi.id ini.

Berikut langkah-langkah untuk mengakses wifi.id secara gratis bagi mahasiswa UT.


1. Pastikan mendapatkan jaringan @wifi.id yang benar dan statusnya connected/terhubung.
Jaringan nirkabel wifi.id biasanya terdapat di @wifi.id Corner yang disediakan oleh PT. Telkom
Indonesia dan di pusat keramaian, seperti mall, bandara, stasiun, dll. Berhati-hatilah terhadap
jaringan nirkabel yang memakai nama @wifi.id, yang tidak terhubung dengan internet. Setelah muncul halaman depan, Anda klik "KLIK DISINI" (bagian kanan atas).


2. Setelah terhubung/connected dengan jaringan nirkabel @wifi.id, bukalah browser (chrome,
firefox, dll.). Untuk pertama kali anda akan mendapatkan tampilan halaman seperti diatas, lalu klik tautan Komunitas, kemudian klik pada tautan komunitas kampus.



3. Setelah memilih komunitas kampus, maka akan tampil halaman User Login. Mahasiswa aktif
UT, masukkan NIM Anda, ditambahkan “@ut.ac.id” (contoh: 123456789@ut.ac.id) pada
kolom Username.
Pada kolom Password, masukkan masa registrasi awal Anda di UT
ditambahkan tanggal lahir Anda, contohnya; jika Anda registrasi awal di UT pada 2011.2 dan
tanggal lahir Anda 4 September 1984, maka password-nya 2011204091984.
Lalu klik LOGIN
untuk melanjutkan.

4. Jika proses User Login berhasil, selanjutnya Anda tinggal menikmati jaringan internet gratis melalui @wifi.id.

Jika tidak ada kendala dari tahap awal, maka Anda telah dapat menggunakan fasilitas jaringan internet nirkabel @wifi.id untuk mengakses informasi dan materi belajar dari www.ut.ac.id ataupun sumber lainnya di internet. (E.M)

 Selamat belajar..!!!!

Senin, 27 Februari 2017

Aku Ingin Itu, Tapi Tuhan Beri ini


Oleh : Sheila Febriyanti
Penyunting : Endri Mardiansyah

Dulu, aku pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Bukan dokter yang mengobati orang-orang dengan keluhan sakit panas, sakit gigi atau semacam dokter umum, melainkan dokter spesialis kejiwaan. Ya, aku selalu memimpikan suatu hari aku bisa mengobati mereka para penderita gangguan kejiwaan, yang kadang-kadang ku temukan mereka terlantar di jalan-jalan raya. Entah apa yang membuatku sangat berambisi menjadi dokter spesialis kejiwaan, ingin sekali aku menyembuhkan mereka atau setidaknya tidak ada lagi diantara mereka para penderita gangguan kejiwaan yang berkeliaran terlantar di jalan raya. Betapa sakitnya tak pernah mereka rasa.

Setiap hari selalu aku berdoa, semoga setelah SMA aku lulus dengan nilai yang cukup untuk masuk disalah satu perguruan tinggi negeri yang sudah ku targetkan sebelumnya. Aku memilih Universitas Indonesia (UI) Fakultas FMIPA jurusan Psikologi dan pilihan kedua Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Fakultas FMIPA jurusan Psikologi.

Sampai pada hari dimana jalur masuk perguruan tinggi negeri dibuka melalui SNMPTN. Aku langsung mendaftarkan diri melalui jalur tersebut dan dengan tujuan PTN yang sudah ku pilih.
Tapi, ketika pengumuman hasilnya keluar aku kaget karena pasword SNMPTN milikku salah dan tidak bisa dibuka.
Aku menangis seharian karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku tidak menyerah sampai disini, aku mencoba jalur kedua yaitu SBMPTN lewat tes tulis. Hari itu juga aku minta izin ibuku dan pulang ke rumah sebab mendaftar SBMPTN membutuhkan biaya. Aku bergegas pulang dari pondok pesantren. Yaa aku salah satu santri dari Assalafiat Babakan-Ciwaringin Cirebon, hari itu juga aku izin pulang kepada Nyai ku.

Setibanya di rumah aku memberi kabar kepada ibuku bahwa aku ingin mengikuti SBMPTN jalur tes. Tapi jawaban yang ku dapat dari ibuku membuat aku patah, semangat sebab ibuku tidak mengizinkanku kuliah di luar kota. Aku menangis sejadi-jadinya waktu itu tanpa ibuku mau perduli, aku menelefon salah satu sahabatku yang kini dia menjadi suamiku sendiri. Aku menelfon meminta bantuannya untuk menjemputku pergi ke warnet, karena saat itu aku belum punya android ataupun laptop. Lalu sahabatku datang menjemput dan mengantarkanku pergi ke warnet. Akhirnya langkah pertama selesai, yaitu mencetak nomor urut yang ku punya di SBMPTN dan membayar insurannya.
Tinggal menunggu hari dimana tes tulis dilakukan, aku mendapat lokasi yg lumayan jauh dari tempat tinggalku dan untuk mencapai daerah itu aku membutuhkan ongkos ekstra karena pasti disana aku juga butuh makan.

H-1 tes tulis tiba, aku bingung tidak punya uang simpanan sama sekali. Spontan saja aku menelfon sahabatku (suamiku) untuk memberiku solusi agar bisa pergi kesana. Kita berdiskusi dan memutuskan untuk "ngamen" karena diantara kedua sahabatku tidak ada yang punya simpanan uang. Malam harinya aku dan kedua sahabatku pergi "ngamen" di tempat wisata kota yang ramai pengunjung. Dan hasilnya mengejutkan, aku mendapat recehan lebih dari cukup, aku tersenyum dan kedua sahabatku merasa ikut lega.
Kita kembali ke rumah dengan senyum lebar, tapi ku ingat tepat hari itu juga sahabatku yang kini menjadi suamiku berulang tahun. Setelah ku hitung rasanya cukup untuk ku belikan satu buah kue ulang tahun untuknya, toh uang ini juga hasil bersama. Aku dan sahabat laki-lakiku yang satu lagi bergegas membelikan kue ulang tahun untuknya. Rasa bahagia, haru semua bercampur menjadi satu, aku merasa mempunyai keluarga yang istimewa seperti mereka berdua, aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka.

Hari tes tulis tiba, aku diantar dua sahabat laki-laki ku berangkat ke daerah dimana aku tes tulis. Kita menunggu bus pukul 06.00 wib, entah kenapa hari itu tidak ada satupun bus yang melintas.
Aku memutuskan untuk mencari omprengan dan waktu itu ada truk minyak melintas, spontan saja dua sahabatku melambai-lambaikan tangan kode bahwa kita mau menumpang. Dan nasib baik pagi itu supir truk mau memberikan tumpangan pada kami.

Perjalanan masih jauh waktu tes dimulai pukul 08.00 wib dan jam sudah pukul 07.30 wib. Aku panik dan hanya berdoa semoga aku tidak terlambat. Pukul 08.10 wib aku masih di jalan dengan jarak yang masih jauh dengan tempat tes ku. Sampai pukul 09.00 wib tepat aku baru sampai di tempat tes tulis, aku bergegas lari mengabaikan satpam yang berteriak-teriak memanggilku, aku langsung mencari ruangan dan tempat duduk dimana aku akan mengerjakan soal-soal yang di ujikan. Aku beruntung karena pengawas ruangan tempatku memperbolehkan aku tetap masuk meski sudah telat satu jam lebih.

Dengan nafas terengah-engah aku mengerjakan soal-soal dan tak lupa berdoa sebelum mengerjakannya. Aku teringat tidak ada izin dari ibuku hari itu, tapi ah kupikir sepeleh saja, toh kalau aku diterima pasti beliau mau membiayai kuliahku.
Tes selesai, waktunya kembali ke rumah.
Dengan wajah memelas kedua sahabat ku, aku tidak tega melihat mereka lesu, aku mengajak mereka mencari makan di warteg pinggir jalan.
Aku salut dengan kesetiaan kedua sahabat laki-laki ku ini, aku tidak tahu membalas jasa mereka dengan apa. Aku menganggap mereka seperti kedua kaka laki-lakiku sendiri.

Tiba juga hari pengumuman hasil seleksi tes tulis atau yang biasa di sebut SBMPTN.
Aku mengeceknya via warnet dengan teliti, aku bahagia diterima disalah satu perguruan tinggi negeri yang aku inginkan walaupun bukan pilihan yang pertama tapi aku tetap bahagia.
Aku memberitahu ibuku, tapi dengan jawaban yang sama ibuku tetap kukuh tidak mengizinkanku kuliah di luar kota.
Tanpa restu ibu aku bukan apa-apa, aku memutuskan mundur dan tidak melanjutkan kuliah dimanapun.

Hari-hari semakin murung, sampai pada suatu hari aku di hianati pacarku tepat didepan mataku dan sahabatku. Aku semakin hancur tidak ada semangat lagi yang ku rasa, tapi sahabatku selalu memberiku semangat dan menghiburku dengan ide-idenya yang gila. Sampai pada suatu moment, salah satu sahabat laki-lakiku mengutarakan sebuah perasaan yang dia anggap lebih dari sekedar sahabat. Aku terkejut, takut sekaligus mendadak nervous saat dia mengatakan sayang sebagai kekakasih padaku tapi ku jawab " yaa gue tau lo sayang gue so pasti kan elo sahabat terbaik gue" sambil nyengir aku menjawabnya.

Satu bulan lamanya kita lebih dekat dari sekedar sahabat, sampai kalimat yang tak aku duga terucap dari mulutnya "Sheil, gue pengen punya temen, gue sepi sendirian terus bosen. Gue pengen punya istri". Dia menatap ke arahku dan aku membalasnya dengan senyum dan menjawab "yaa, aku siap".

Ternyata bukan ucapan yang main-main satu minggu setelah itu sahabatku datang dengan bapak juga keluarganya, aku kaget dan sama sekali tidak menyangka bahwa ucapannya serius. Hari itu juga aku dilamar dan menentukan hari qabiltu (ijab qabul).
Tepat 1 Muharram 1436H atau 25 Oktober 2014 aku melangsungkan pernikahan di kediaman ku, seperti mimpi semua itu berlangsung haru bahagia aku melepas masa lajangku.

Setelah menikah kita sudah tinggal berdua tanpa ibuku atau ibu mertua. Aku tinggal di rumah peninggalan nenek suamiku.
Suamiku yang waktu itu masih pengangguran bergegas mencari info pekerjaan dan didapatnya info kerja sebagai sales bank harian yang tugasnya menagih hutang para nasabah dan aku mengajar di madrasah diniyah tempat bibi suamiku mengajar.

Satu tahun kemudian suamiku mendapat info kerja di Malaysia dan dia berminat berangkat kesana dan aku pun ikut mendaftar karena lowongan untuk pekerja perempuanpun ada.
Aku berangkat lebih dulu ke Malaysia, lalu 4 bulan kemudian suamiku menyusul dengan pekerjaan yang berbeda denganku juga tempat yang berbeda, aku di Senai dan suamiku di Pandan.

Setahun lamanya di Malaysia, tepat di hostel/asrama tempatku tinggal mengadakan sosialisasi pendidikan dari Universitas Terbuka Pokjar Johor yang kebetulan waktu itu aku juga mengisi salah satu acara selingan dengan bernyanyi sambil main gitar dan aku mengundang suamiku untuk hadir di acara itu.

Awalnya aku sempat ragu karena ku kira UT adalah Universitas swasta, tapi setelah ku tahu ternya UT termasuk PTN yang ada diseluruh pelosok Indonesia dan juga ada hampir diseluruh dunia dan aku tertarik kuliah kembali melihat kaka-kaka mahasiswa yang ikut sosialisasi waktu itu memakai almamater UT. Dan ketua hostelku sendiri salah satu mahasiswa UT yang sekarang menjabat sebagai ketua DPM di Universitas Terbuka Pokjar Johor, hari itu juga aku dan suamiku bertanya banyak tentang UT sampai aku benar-benar yakin untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Waktu itu suamiku tidak mau kuliah, dia bilang aku saja yang kuliah tapi aku memaksa dan meyakinkannya untuk bersama-sama melanjutkan kuliah sambil bekerja dan akhirnya suamiku mau.


Aku dan suamiku menjadi mahasiswa baru di 2016.2 Universitas Terbuka Pokjar Johor dengan mengambil jurusan yang berbeda, aku di Sastra Inggris dan suamiku di Ilmu Komunikasi. Cita-cita yang dulu menggebu dan sempat terabaikan kini kembali membakar semangatku, tapi ku tepikan menjadi dokter spesialis kejiwaan karena untuk mencapai semua itu aku perlu ridho suami serta ibuku. Aku tidak mau memusingkan kedua orang itu, orang yang aku sayang orang yang menjadi penentu surgaku. Ternyata Tuhan lebih tahu apa yang aku butuhkan bukan apa yang aku inginkan. Dan aku yakin Tuhan memberi jalan bagi mahkluknya yang berikhtiar.

Tak lupa aku meminta izin kepada ibuku untuk melanjutkan kuliah di Malaysia bersama suamiku, dengan senyum bahagia ibuku terharu dan memberikan izin serta doanya padaku. Ya bu, walau aku sudah bersuami tapi doa ibu tetap ridho Allah.

Hampir satu semester berlalu aku mendapati kabar bahagia, aku hamil.
Betapa aku tidak bisa mengekspresikannya sebab kontrak kerjaku belum habis, ditambah aku punya tanggung jawab atas kuliahku.

Aku benar-benar bingung, tapi suamiku yang sekarang menjabat sebagai ketua jurusan Ilmu Komunikasi selalu menenangkanku dengan nasehat-nasehatnya. Bahagianya aku memiliki sahabat sekaligus pendamping hidup seperti suamiku.


Tiba dimana hari aku harus pulang ke Indonesia setelah UAS semester satu ku selesaikan. Betapa senangnya kuliah di Universitas Terbuka Pokjar Johor, aku tidak harus bertemu dengan dosen dan berangkat kuliah setiap harinya, UT ada diseluruh daerah Indonesia dengan sistem pembelajaran jarak jauh, UT juga ada hampir diseluruh negara. Tapi mungkin masih belum banyak yang mengenal Universitas Terbuka, aku harap aku bisa membawa nama UT agar lebih familiar dan banyak peminatnya, karena aku tahu pasti banyak lulusan SMA yang ingin lanjut kuliah tapi terkendala biaya juga mungkin waktu dan UT adalah solusi dari mereka yang ingin kuliah tanpa terbatas biaya juga waktu. Karena UT termasuk PTN yang ramah di ongkos dan terjangkau di waktu. Juga usia tidak menjadi batasan untuk menimba ilmu karena kita di wajibkan mencari ilmu/belajar sampai ke liang lahat.
Dan menurutku kuliah tidak harus di perguruan tinggi ternama atau terpopuler, karena dimana pun kita kuliah hanya wawasan dan skill yang menentukan rating kita sebagai mahasiswa.

Tepat hari ini dimana perutku semakin membuncit di usia kandunganku yang ke 34 minggu aku baru sempat menuliskan cerita atau lebih tepatnya memory tentang perjalananku menuju Universitas Terbuka. Aku mohon maaf apabila ada kesalahan kata yang kurang berkenan dihati para pembaca.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembacanya. (S.F)


Jumat, 17 Februari 2017

Aku Dan Semangat Juangku

Hamdan Wahidi
Oleh : Hamdan Wahidi
Penyunting : Endri Mardiansyah

Namaku Hamdan Wahidi, umurku sudah masuk 26 tahun. Aku anak ketiga dari 6 bersaudara.
Aku tidaklah seberuntung kalian, aku lahir dari keluarga yang sangat sederhana, keluarga petani di pelosok desa. Hidupku sangat keras, karena sejak kecil aku sudah terbiasa diajar bekerja keras, dimasa kecil aku diajarkan mengembala dan bertani sejak belum masuk SD tahun 1997.
Masa-masa kecilku selalu ku habiskan dengan mengikuti orang tua ku ke sawah. Dikala teman-teman sebayaku asyik bermain aku sibuk mengembala, hampir tidak ada waktu untuk bermain. Ya saat kecil aku memang "kurang bahagia".

Kesempatan bermain dengan teman sepermainan tidak banyak, aku selalu dimarahi orang tua ku kalau sering pergi bermain lama-lama. Sepulang sekolah anak-anak lain biasanya akan bermain tetapi tidak denganku, sepulang sekolah aku harus mengembala.

Dengan keadaan seperti itu aku pernah hampir putus sekolah saat kelas 6 SD tahun 2002, karena saat itu aku berpikir tidak ada gunanya bersekolah "aku merajuk dengan keadaan ku". Hampir tiga bulan lamanya aku tidak masuk sekolah yang menyebabkan pihak sekolah datang ke rumah untuk membujuk agar mau menyelesaikan pendidikan dasar yang tinggal satu semester. Setelah mendapat nasihat, dari situlah semangatku untuk menuntut ilmu bangkit kembali, di sekolah aku sangat disayang guru-guru ku karena aku termasuk anak yang cerdas.

Setelah lulus SD, orang tua ku tidak mau lagi melanjutkan sekolah ku ke SMP karena kurangnya kesadaran bahwa pendidikan itu penting. Ayahku hanya sekolah sampai kelas 2 SD di zaman perang kemerdekaan sedangkan ibu sampai tamat SD. Selain tidak mampu karena ramai saudaraku yang harus di biayai.

Aku terpaksa harus menggeluti profesiku sebagai pengembala dan petani tanpa sekolah, tetapi keinginanku untuk menyambung pendidikan tidak pernah padam. Aku selalu merasa iri ketika anak-anak lain setiap pagi berangkat ke sekolah sedangkan aku setiap pagi harus berangkat ke sawah. Sambil berkerja aku terus berpikir bagaimana untuk bisa sekolah tanpa harus membebani orang tuaku, aku harus buktikan kalau aku bisa mandiri.

Waktu itu usiaku sudah 14 tahun, tapi aku masih belum bisa melanjutkan sekolah. Aku sudah ketinggalan 2 tahun dari teman sebayaku, tapi di usia itu aku sudah bisa dikatakan mandiri karena selain makan sudah bisa mengurus diri seperti cuci baju sendiri, beli keperluan pribadi seperti pakaian, alat mandi dan uang jajan dari hasil keringat sendiri. Sejak itulah aku mulai mandiri.

Singkat cerita, keinginanku untuk melanjutkan pendidikan akhirnya kesampaian ketika mendapat tawaran untuk masuk sekolah di SMP Terbuka tahun 2004, dari suami sepupuku yang kebetulan menjadi PNS di SMP favorit di desaku, jadi dari situ lah aku sudah mengenal institusi pendidikan terbuka sejak SMP. Ternyata disana banyak siswa yang latar belakangnya senasib denganku, selain ada siswa yang putus sekolah dan gagal lulus UN di SMP favorit itu. Kami sekolah setiap hujung minggu dan dikasih uang transport sebesar Rp.60.000 sekali pertemuan, uang yang didapat aku tabung dengan harapan bisa masuk SMA.

Selain sekolah di SMP Terbuka, aku juga ikut belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harapan Kita, yang merupakan sebuah program pendidikan masyarakat putus sekolah di awal pemerintahan SBY untuk mengejar paket B yang bernaung di sebuah sekolah swasta di kampungku. Di sekolah itu kami belajar setiap sore, dari hari senin hingga kamis, sedangkan di SMP Terbuka setiap sore hari sabtu dan minggu.

Setibanya tahun ujian, aku memilih ikut UN di SMP Terbuka dan meninggalkan PKBM. Selain legalitasnya sama dengan sekolah negeri aku juga bisa menyamakan kedudukan dengan teman sebayaku, jadi kami sama-sama lulus di SD dan SMP (yeee..  gak jadi ketinggalan pikirku).

Setelah tamat SMP, tidak disangka aku mendapat tawaran untuk sekolah di pondok pesantren terbesar dan terkenal di daerahku (NTB), ya di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darul Nahdlatain Nahdlatul Wathan (YPH PPD NW)  Pancor - Selong - Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pimpinan Gubernur NTB yang sekarang Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi. Lc MA. Aku sangat bersyukur sekali, aku teringat pesan guru ngajiku "siapa yg sungguh-sungguh mencari jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkannya". Benar saja aku masuk pesantren tanpa banyak biaya karena pesantren menanggung biaya pendidikanku sepenuhnya dari ujung rambut hingga hujung kaki alias "gratis".

Pesantren itu mengelola semua jenjang pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi yang banyak jenisnya. Di tingkat SLTA saja ada banyak jenis ada SMA,SMK,MA khusus laki-laki, MA khusus perempuan, ada MA khusus bidang agama dan ada MA + Keterampilan. Aku sempat bingung mau masuk yang mana, karena ada yang khusus laki-laki saja, ada yang khusus perempuan saja dan ada jug yang bercampur antara laki-laki dan perempuan dalam satu bumbung tapi kelasnya dipisahkan.

Akhirnya aku memilih masuk di MA + Keterampilan yang pada waktu itu adalah sekolah yang paling favorit dan berprestasi baik dibidang akademik maupun ekstrakurikuler, serta menyediakan jurusan keterampilan yang menyediakan kelas keterampilan seperti terampil bertani, berternak, tata busana dan bangunan atau per-meuble-lan.

Madrasah Aliyah itu menerapkan sistem pendidikan full day school dari pukul 7.00 pagi hingga pukul 2.00 siang dan masuk lagi pukul 3.00 petang hingga 10.00 malam (pada masa itu). Sedangkam aku tinggal di asrama yang menerapkan aturan yang sangat ketat dan keras. Kami menyebutnya "penjara suci", hanya santriwan dan santriwati yang punya jiwa dan semangat baja yang mampu bertahan.

Di Madrasah itu aku bersaing dengan para santri dari berbagai pelosok daerah. Pada awalnya aku tidak bisa menunjukkan prestasi apa-apa karena masih sangat terasing,  sebagai santri yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja (tidak banyak pengetahuan agama),sedangkan santri lain sudah punya basic pengetahuan agama yang kuat karena ada yang nyantrinya sejak MTs nya di situ.

Semester pertama di kelas X⁴ aku hanya memperoleh nilai standar kompeten, sebagai santri yang lulusan SMP Terbuka itu sudah untung. Kemudian aku mulai belajar dengan tekun, aku ingin menunjukkan kepada keluargaku bahwa aku bisa. Di asrama yang berpenghuni hampir seratus orang, aku juga termasuk santri yang rajin dan tekun serta disayang pengasuh. Aku pernah menjadi ketua kelompok di asrama laki-laki itu dan menjadi santri yang paling sering mendapat prestasi mewakili asrama di sekolah.

Di semester 2 kelas X aku mulai menunjukkan prestasi, aku sudah bisa masuk 10 besar diantara ratusan santri. Aku mendapat peringkat ke 8 dan membuatku semakin termotivasi karena untuk bersaing dengan orang-orang pilihan di sekolah itu tidak mudah. Kemudian setelah naik ke kelas XI aku sudah mulai mengambil jurusan dan Aku memilih jurusan IPS.

Di sekolah aku sangat antusias mengikuti setiap kegiatan ekstrakurikuler dan ekstrakurikuler yang paling aku minati adalah Ke-pramukaan dan pencak silat. Manakala kelas keterampilan aku memilih terampil tata busana yang notabene mayoritas perempuan, tapi karena ingin bisa menjahit aku tepis saja rasa malu itu.

Lanjut cerita, di semester pertama kelas XI² persaingan semakin sengit. Tapi "AKU DAN SEMANGAT JUANGKU" berhasil meraih peringkat ke 3 di jurusan IPS dan itu prestasi yang membanggakan orang tuaku. Namun perjuangan tidak selamanya mulus, di semester dua aku jatuh ke peringkat 5, walau sebenarnya nilai rapot ku lebih tinggi dari yang menggantikanku di peringkat 3. Mungkin gara-gara aku pernah dianggap tidak sopan oleh wali kelasku.

Naik ke kelas XII IPS, lagi-lagi "aku dan semangat juangku" kembali berkobar. Kali ini harus berada di puncak, gumamku, Alhamdulillah seperti sabda Nabi "man jadda wa jada" siapa yang bersungguh-sungguh pasti berjaya. "You can if you think you can" kamu bisa jika kamu pikir kamu bisa. Aku berhasil menjadi juara di jurusan IPS dari 160 lebih siswa IPS, hingga tamat sekolah.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku seorang anak kampung miskin yang hampir putus sekolah dan tidak ada harapan untuk sekolah seperti orang lain mampu meraih prestasi yang bagiku sangat mustahil di pesantren yang sangat populer dan di hormati itu.

Dari situlah harga diri dan keluargaku yang tadinya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kampung, kini mulai dilirik karena banyak orang kaya dikampung ku yang bangga bisa menyekolahkan anaknya tapi anaknya tidak bisa dibanggakan bahkan kelakuannya memalukan. Sedangkan aku tanpa membebani orang tuaku, aku bisa sekolah dan bisa menunjukkan prestasi serta mencari penghidupan sendiri.

Walau orang tuaku tidak mampu membiayaiku tapi tunjuk ajar mereka menjadi modal perjuanganku. "Banyak orang tua yang berpendidikan tinggi tapi tidak tahu bagaimana mengajar anaknya sendiri", sedangkan orang tua ku walau tidak berpendidikan tinggi tapi bisa mengajarkanku budi pekerti.

Malaysia..!!

Aku tidak pernah bermimpi berencana apalagi bercita-cita untuk merantau ke Malaysia. Waktu itu setelah selesai ujian nasional, pengumuman kelulusan di siarkan melalui radio pesantren. Gelombang frekwensinya hampir menjangkau seluruh daerah NTB dan Bali, sekolah ku satu-satunya yang menyiarkan kelulusan lewat radio sebelum memberikan surat kelulusan resmi kepada para orang tua atau wali santri. Dari ratusan peserta UN di sekolah ku hanya 4 orang yang dinyatakan tidak lulus, dan kami adalah angkatan terakhir yang mengikuti ujian nasional pada tahun ajaran 2008/2009 sebelum UN dihapus dari sistem pendidikan nasional oleh presiden SBY melalui Kementrian Pendidikan.

Setelah aku dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku ditawari hadiah berupa kelengkapan kuliah seperti sepasang pakaian, tas dan sepatu oleh wali kelas ku yang juga seorang dosen senior di Perguruan Tinggi di pesantren itu, tapi aku menolaknya karena sebelum itu aku sudah mendapat kabar akan ke Malaysia. Ketika aku ke sekolah untuk menyelesaikan urusan pengambilan rapot dan ijazah aku terpaksa harus berbohong ketika ditanya mau kuliah di universitas mana oleh guru-guruku yang kebanyakannya adalah juga sebagai dosen. Sampai sekarang belum ada seorang guru ku yang tahu kalau aku menjadi TKI, karena aku yang dinilai berprestasi tiba-tiba akan menjadi TKI dan menjadi TKI waktu itu sesuatu yg dipandang rendah. Karena menurut sebagian orang di daerahku, menjadi TKI adalah bagi orang-orang yang tidak berpendidikan, golongan prustasi, tidak punya masa depan, dan hanya menjadi babu di negeri orang. Bahkan didalam pidato perpisahan kami di pesan oleh kepala asrama agar sekeluarnya dari pesantren jangan sampai ada yang menjadi TKI. Minimal kami harus bisa menjadi Imam atau khatib masjid di kampung masing-masing. Karena waktu itu sedang panas-panasnya berita tentang TKI dan permasalahan buruknya.

Lanjut cerita, waktu itu aku belum resmi keluar dari pesantren masih ada pembekalan keterampilan hidup sebelum diserahkan kepada orang tua atau wali masing-masing. Pihak asrama bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui dinas industri dan perdagangan Kabupaten Lombok Timur. Menyelenggarakan kursus selama beberapa hari dibidang keusahawanan dan pangan. Kami diajarkan tata boga dan cara membuat tahu/tempe dan kemudian dilanjutkan dengan study tour keliling pulau Lombok dan berakhir dengan acara perpisahan dan penyerahan santri secara simbolik kepada wali pada bulan Juli 2009.

Di kesempatan itu juga aku diberi penghargaan untuk pertama kalinya sebagai santri terbaik versi asrama yang dihuni oleh hampir 200 orang putra dan putri, yang disampaikan langsung oleh Immi Dr. Ir. Siti Rohmi Jalilah yang merupakan salah seorang pejabat tinggi pesantren yang juga ketua DPRD Kabupaten Lombok Timur dan sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Hamzanwadi Selong.

Aku masih belum pulang ke rumah karena sebelumnya aku menyempatkan diri untuk berlibur di rumah bibi. Lalu datanglah utusan yang juga sepupu yang akan membawaku ke Malaysia. Dia menyatakan bahwa orang tua ku meminta aku untuk ikut merantau, aku masih bengong karena tidak pernah berpikir akan ke Malaysia, yang aku pikirkan waktu itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa kuliah seperti teman-teman ku yang lain dan mencari cara untuk mendapatkan beasiswa.

Waktu itu aku benar-benar galau, tapi disamping itu juga aku penasaran tentang negara Malaysia yang di sebut-sebut itu. Sampai menjadi pepatah daerah dan masuk ke lirik-lirik lagu, sedikit-dikit Malaysia.
Perasaanku bercampur aduk, selain malu juga penasaran seperti apa sih pekerjaan di Malaysia yang kedengaran sangat menggiurkan itu. Karena orang-orang yang pulang dari Malaysia itu sangat bergaya, tapi tak lama kere lagi, masuk lagi ke Malaysia.

Sebagai seorang santri, taat kepada kedua orang tua adalah wajib setelah Allah dan Rosul. Karena orang tua adalah wali Allah diatas muka bumi ini, Ridho Allah terletak pada ridhonya kedua orang tua. Dengan bismillah aku akur dengan kehendak orang tuaku, pasti ada hikmah disebaliknya.

Singka cerita setelah menunggu proses hampir setengah tahun lamanya, hari yang dinanti tiba juga akhirnya. Tanggal 2 Januari 2010 malamnya aku awali dengan sholat hajat  2 rokaat, meminta kepada Allah agar dilindungi dan tidak tersesat jalan ditengah derasnya arus kehidupan dan liarnya pergaulan.

Mobil calo yang akan membawaku pun tiba. Dengan membaca bismillah lalu mencium tangan dan kaki kedua orang tuaku, aku melangkah keluar dari pintu rumah dan berpamitan serta bersalaman dengan seluruh keluarga besar yang turut meratapi dan mendoakanku. Perasaan sedih dan bimbang bercampur baur, apakah aku masih bisa pulang kembali ke pangkuan keluarga dengan selamat dan membawa secercah harapan, atau sebaliknya hanya pulang tanpa nama. Karena ini adalah pertama kalinya aku akan meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman bahkan negara tercinta dalam waktu yang lama untuk merantau jauh ke negeri orang. Orang tua ku melepaskanku dengan penuh ridho dan tawakal apakah aku hidup atau mati.

Aku meninggalkan rumah hanya berbekal semangat dan tekad yang kuat serta sedikit ilmu pengetahuan umum dan agama sebagai penjaga agar tidak hanyut mengikuti arus pergaulan dan gejolak jiwa remaja. Niat terbesarku waktu itu adalah mencari modal selama dua tahun untuk kuliah atau untuk masuk militer karena sebelumnya aku juga pernah ditawarkan oleh sepupuku yg berpangkat Sersan Mayor (SERMA) TNI AD untuk daftar militer jika tak bisa kuliah karena dulu di sekolah sangat aktif di saka wirakartika pramuka yg dilatih langsung oleh anggota militer TNI AD. Aku disuruh menyiapkan uang minimal 25 juta batas umur 22 tahun dan tinggi minimal 165 cm. Akupun menyanggupinya, umurku waktu itu baru 18 tahun, tapi seiring waktu berjalan aku berfikir badanku bisa gemuk dan tinggi sesudah masuk ke Malaysia karena kebanyakan orang yang masuk Malaysia pulangnya berambut gondrong, body besar dan tinggi. Ternyata tidak denganku, mungkin karena sudah ditempa dengan kerja keras dan pikiran keras jadi badanku sudah tidak bisa tumbuh lagi.

Sebelum diberangkatkan ke Malaysia aku dan teman-temanku di karantina selama 2 hari di sebuah PT PJTKI di kota Mataram. Kemudian diberangkatkan tanggal 4 Januari 2010, sesampai di bandara aku dipercayai oleh agen sebagai ketua dan membawa sebuah berkas tebal dalam sampul besar yg entah apa isinya. Persaan gembira muncul apabila untuk pertama kalinya akan menaiki pesawat, Merpati adalah pesawat yang ku naiki yang ketika itu masih beroperasi. Kami transit di Bali dan menginap satu malam lalu paginya kembali menaiki pesawat, kali ini pesawat Malaysia Air Line Sistem (MAS) dari bandara internasional Ngurah Rai Bali menuju Kuala Lumpur Malaysia. Sesampainya di Malaysia sudah tanggal 6 Januari 2010. Sebagai orang kampung aku cukup kagum melihat kemajuan Negara Malaysia, hati bertanya-tanya aku akan bekerja dimana?

Ayer Manis Estate yang dikelolah oleh Sime Darby Plantation Sdn Bhd, sebuah Perusahaan ladang kelapa sawit terbesar di Malaysia iniblah aku di pekerjakan. Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat pohon dan buah kelapa sawit.

Hari demi hari ku lalui di rantauan ini. Tidak banyak keluh kesah karena aku sudah terbiasa kerja berat dan hidup susah. Perasaan juga tenang-tenang saja karena sudah terbiasa jauh dari keluarga dalam waktu yang lama. Di pesantren dulu kami hanya diizinkan pulang sekali dalam setahun yang diatur secara resmi, aku sangat menikmati apapun pekerjaanku. Hari-hari ku lalui dengan semangat, keluh kesah dan menyerah apa lagi berputus asa tidak pernah ada dalam kamus hidupku.

Dua tahun sudah berlalu kontrak kerjapun habis. Tapi aku tidak di izinkan pulang oleh majikan karena di sayang juga karena termasuk pekerja andalan. Aku pernah mau lari tapi berpikir dua kali, badanku sudah tidak bisa tumbuh lagi, tinggiku mentok di 157cm saja, cuma umur dan berat badan yg berubah ubah. Akupun membatalkan hasratku untuk masuk militer, kemudian mengkonfirmasi sepupuku itu, tapi untuk melanjutkan pendidikan semangat itu masih ada.

Pulang belum bisa kuliah sudah tentu tertunda, uang hasil kerja kerasku selain untuk kebutuhan keluarga juga dipakai untuk membangun rumah selangkah demi selangkah, kontrak kerja pun di sambung ketahun berikutnya. Seiring waktu berjalan 3 orang adik-adikku beranjak besar dan sudah sekolah, ada yang baru duduk dibangku SD, SMP dan SMA. Aku tidak ingin mereka mengalami keperitan hidup seperti yang ku alami, pendidikan mereka harus tuntas minimal wajib belajar 12 tahun. Lalu ku putuskan untuk membiayai mereka semua sepenuhnya. Untuk menggantikan tanggung jawab orang tua ku dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang kakak dan anak laki-laki. Mereka juga besar dalam jagaanku saat kami ditinggal kerja orang tua, aku sangat menyayangi mereka, demi mereka aku sanggup bertahan di Malaysia hingga hari ini.

Bagiku dapat membiayai adik-adikku sekolah adalah hasil terbesarku selama menjadi TKI, selain sebuah rumah dan kendaraan dengan hasil kerja yang lumayan selama bertahun-tahun yang seharusnya aku bisa kuliah di universitas favorit di daerahku. Tapi semakin bertambahnya usia pemikiranku juga berubah, aku menghamburkan sebagian hasil kerjaku untuk membahagiakan keluargaku.

Kini sudah masuk delapan tahun aku hidup merantau di Malaysia, hanya pernah dikasih pulang cuti sekali selama 4 bulan di tahun 2014. Masa depanku sudah samar-samar, apakah akan menikah dulu atau kuliah dulu? Lalu ku menemukan solusinya.

Ya Universitas Terbuka. Satu-satunya Universitas yang mampu memberikan solusi yang tepat, kuliah tanpa harus berhenti kerja dan kehilangan pendapatan. Adalah sebuah kebanggan bisa menjadi bagian dari Universitas Terbuka Pokjar Johor. Kami bangga bahwa pemerintah dalam hal ini Konsulat Jenderal RI Johor Bahru berkerjasama dengan UPBJJ UT Batam melalui perluasan UPBJJ nya ke Malaysia menghadirkan Universitas Terbuka Pokjar Johor sebagai solusi bagi kami para TKI yang punya semangat dan cita-cita besar untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi, yang merupakan tanggung jawab Negara yang diamanatkan di dalam pembukaan UUD 45, yang termasuk dialenia ke empat,dalam tanda kutip "mencerdaskan kehidupan bangsa".

Perjuangan kembali dimulai, sejarah membuktikan bahwa banyak orang-orang besar yang lahir dari orang orang kecil. Semangat..!!!!


SEKIAN


CATATAN : Aku tidak bermaksud untuk menonjolkan diri, tapi aku yakin mungkin ada diantara kita yang cerita hidupnya hampir sama dengan ku. Aku merasa lega karena dapat melepaskan uneg-uneg yang selama ini bersarang dalam pikiran, yang tidak tahu harus curhat ke siapa. Aku bersyukur ada kesempatan untuk menulis cerita disini. 

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca, juga atas tata bahasa nya yang jauh dari kata sempurna. Aku hanya menggunakan bahasa yang polos tanpa banyak istilah karena aku cinta bahasa Indonesia. Dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya karena telah sudi membacanya sampai selesai.


Pesan positif yang ingin aku sampaikan adalah, jangan bernah berhenti berharap, teruskan berjuang. Allah SWT telah berfirman "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka berusaha merubah nasibnya sendiri" .

Rasulullah SAW bersabda "Jika kamu ingin bahagia di dunia hendaklah dengan ilmu, jika ingin bahagia di akhirat hendaklah dengan ilmu dan jika ingin bahagi di dunia dan di akhirat sekaligus juga harus dengan ilmu".

Juga dalam sabdanya manjadda wa jada "siapa yang berusaha bersungguh-sungguh pasti berjaya".

"Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan hidup abadi dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan mati esok pagi"

Imam Al Gozali rahimahullah telah berkata.
Dengan seni hidup itu indah.
Dengan ilmu hidup itu mudah.
Dengan agama hidup akan menjadi lebih terarah.

 Bung Karno pernah berkata "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit niscaya kamu akan menggapainya".

Pendidikan adalah modal utama untuk merubah kehidupan. #NelsonMandela

Kepuasan itu terletak pada usaha bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. #MahatmaGandi

Dalam islam yang dinikmati dan dinilai disisi Allah itu adalah proses. Sedangkan Hasilnya adalah bonus. #UstadAAGym

Optimisme adalah gelora jiwa sedangkan riak dan gelombangnya adalah kebahagiaan.  #AnisMattta

Jangan pernah putus harapan pasti ada jalan dibalik kemahuan. #pepatah

Aku mengucapkan jutaan terima kasih kepada KJRI Johor Bahru dan UT, khususnya kepada admin UT Pokjar Johor Kak Endri Mardiansyah dan Mas Kiswanto Sugeng yang telah memberikan informasinya sehingga aku bisa bergabung bersama kalian.


Salam UT POKJAR JOHOR

Salam Mahasiswa

Hidup TKI....!!! 

Kuliah

Mega Oktapiana Putri
 Oleh : Mega Oktapiani Putri

Tak kenal hari tetapi hanya ingat tanggal saja, itulah yang aku rasakan sebagai pekerja diluar negeri (Malaysia) untuk yang pertama kalinya.
Kerja 12 jam setiap hari tanpa cuti. Boleh dibilang satu hari cuti dalam satu bulan. “Hebatnya para pekerja Indonesia ini, tiada kata lelah dan menyerah untuk menghadapi setiap masalahnya“ suara hatiku. Akankah aku mampu berjuang seperti mereka. Untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik?

Tanggal 31 sudah berlalu, sudah saatnya gajian tiba. Saat dimana yang paling kita nantikan, sudah pasti setelah gaji ambil cuti, pergi shopping, nonton, beli ini itu yang sebenarnya nggak penting. Kurang lebih seperti itulah sebagian pekerja disini yang sering dan mungkin menjadi suatu kebiasaan boros.

Suatu saat disebuah kesunyian, aku berfikir “bisakah aku maju dengan kebiasaan-kebiasaan borosku disini??” think again.“ bagaimana menjadi lebih baik lagi?”. Masih belum bisa menjawab atas semua pertanyaan itu.

Ditengah-tengah sibuknya bekerja, salah seorang partnerku bercerita tentang temannya yang kuliah di UT (Universitas Terbuka). Sejak saat itu aku mulai tertarik dan bertanya-tanya tentang UT. Dan aku memutuskan untuk bertanya langsung kepada mahasiswa yang kuliah di UT . "kak, kek mana sih UT itu?” tanyaku kepada salah seorang mahasiswa yang bekerja satu kilang denganku. “sistemnya online dek, jadi kita mudah untuk belajar kapanpun, dimanapun“ jawabnya. Dan masih banyak lagi yang aku tanyakan dengannya, hingga aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di penerimaan mahasiswa baru 2017.1 dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, bersama dengan partner kerjaku dengan jurusan Sastra Inggris di UT Pokjar Johor.

Pengurus DPM UT Pokjar Johor adalah mahasiswa dari UT itu sendiri, menjadi lebih mudah untuk bertanya dan sharing. Sehingga setiap kesulitan yang kita alami akan mereka bantu dengan kemampuan mereka. Muda dan bertalenta itulah julukannya, mereka bukan bekerja diluar kerja tapi membantu sesama mahasiswa.

Yapppz…. udah ketemu jawabannya. Ngapain lagi boros untuk hal yang membosankan, untuk menjadi lebih baik adalah meningkatkan kualitas diri. Bukan dengan memiliki uang yang banyak melainkan pendidikan yang tinggi, berfikir maju dan memiliki sebuah keyakinan.

Semoga kita sukses dan dapat meraih apa yang kita cita-citakan guys. (M.O.P)


Kamis, 16 Februari 2017

Aku, Kehidupanku Dan Pendidikanku

 

Oleh : Endri Mardiansyah

Pendidikan bisa dikatakan sebagai tolak ukur kualitas hidup seseorang, namun terkadang masih banyak orang yang berpendidikan tapi sifat dan prilakunya seperti orang yang tidak berpendidikan. Jika kita cermati, masih banyak anak-anak muda Indonesia yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dikarenakan beberapa faktor, salah satunya ialah faktor ekonomi, bahkan tidak sedikit yang putus sekolah baik itu ditingkat SD, SMP ataupun SMA.

Setelah lulus SMA pada tahun 2010 dulu aku ingin seperti teman-teman seangkatanku yang sibuk mengikuti tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Tapi apalah daya, aku harus mengakui bahwa aku tidak bisa melanjutkan pendidikan seperti mereka dikarenakan keadaan ekonomi keluarga tidak mendukung.

Tidak bisa kuliah bukan berarti aku tidak bisa meneruskan kehidupan untuk mencapai kesuksesan dimasa depan.
Bermodalkan ijazah SMA aku putuskan untuk hijrah ke kota Prabumulih, sebuah kota yang berjarak sekitar 2 jam dari pusat kota Palembang. Di Prabumulih aku bekerja ikut paman ku, kebetulan pamanku menjabat sebagai mandor jadi cukup mudah aku diterima sebagai kuli di CV Ria Express perusahaan jasa yang bergerak dibidang expedisi.

Selama kurang lebih hampir 1 tahun aku bekerja sebagai kuli di Prabumulih. Hari demi hari ku lalui dengan penuh semangat dan penuh kesabaran, panas terik matahari dan rintik air hujan tak membuatku patah semangat untuk meraih masa depan yang cerah, aku percaya setiap tetesan keringat akan menjadi berkah bagi kehidupanku kelak.

Alhasil, dari keseharianku sebagai kuli aku mampu mencukupi biaya hidupku sendiri dan juga orang tuaku dan alhamdulillah juga aku mampu membeli sepeda motor dari hasil jerih payahku sendiri.

Pada bulan 4 tahun 2011 aku mendapat tawaran dari keluarga sebelah ibu ku untuk bekerja di Malaysia. Walau awalnya ragu tapi aku bulatkan tekat dan aku katakan dalam hati  "Demi masa depan, aku harus berangkat ke Malaysia".
Setelah melengkapi beberapa persyaratan sebagai TKI di Malaysia, disitulah aku juga memutuskan untuk berhenti bekerja di CV Ria Express.

Memasuki awal bulan Agustus 2011, aku mendapat telpon dari kantor PJTKI yang akan memberangkatkan aku ke Malaysia, melalui telpon tersebut salah satu staff mengatakan bahwa aku bersama 23 calon TKI lainnya akan terbang ke Malaysia pada tanggal 6 Agustus 2011.

Sesampainya di Malaysia membuat aku sedikit termenung dan berkata dalam hati "Benarkah aku sekarang berada di Malaysia?".
Yamauchi (M) Sdn Bhd, ya diperusahaan milik Jepang ini lah aku akan bekerja sebagai operator produksi selama 2 tahun kedepan sesuai dengan kontrak kerja.

Tahun pertama bekerja di negeri orang cukup berat ku jalani, jauh dari keluarga, orangtua, saudara, bahkan teman dekat. Awalnya tidak ada satu pun yang aku kenal, hanya bermodal sebuah tekat dan semangat yang kuat untuk meraih masa depan yang cerah. Tak terasa, tahun pertama dan tahun kedua mampu ku jalani dengan baik dan mendapatkan gaji yang cukup dibandingkan kerja di Indonesia khususnya tempat aku bekerja sebelumnya dan setiap bulannya aku bisa mengirimkan sebagian dari jerih payah ku disini untuk keperluan ekonomi keluarga. Ternyata aku tidak salah memilih jalan untuk menjadi TKI di Malaysia.

Tahun kedua seharusnya kontrak kerja ku telah selesai, tapi aku putuskan untuk menyambung kontrak kerja untuk tahun ketiga karena aku berfikir perjuangan tidak boleh terhenti sampai disini.

Memasuki tahun ketiga aku ditawari salah seorang rekan kerjaku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tapi pada saat itu aku berfikir "Apa bisa kuliah sambil kerja?" "Bagaimana mengatur waktu kerja dan belajar?".

Ah sudah la akhirnya ku putuskan untuk sedikit melihat bagaimana kegiatan perkuliahan yang ditawarkan oleh rekan kerjaku itu dan bagaimana pula sistem belajarnya. Setelah beberapa bulan aku mempelajari dan melihat semua aktivitas mereka yang sudah lebih dulu menjadi pekerja sekaligus mahasiswa pintu hatiku mulai terbuka"mumpung ada kesempatan, aku harus kuliah agar kehidupanku kedepan bisa jauh lebih baik lagi".

Sekitar 2 bulan lagi aku mendapat informasi dari mahasiswa yang sekigus pekerja itu, bahwasanya penerimaan mahasiswa baru akan dibuka pada bulan Juni 2013. Sejurus malamnya aku langsung telpon ibu ku dan mengatakan "Mak aku mau kuliah disini, suruh kakak atau adek tolong kirimkan fotocopy ijazah SMA ku yang dilegasir".

Walaupun tidak dapat melihat wajahku Ibu ku saat aku menghubunginya lewat telpon, tapi aku yakin pada saat itu beliau pasti sumringah mendengar anaknya ingin kuliah dengan biayanya sendiri.

Satu minggu kemudian akhirnya fotocopy ijazah SMA ku yang dikirim dari Palembang telah mendarat ditempat tinggalku dan akhirnya aku benar-benar akan menjadi mahasiswa.

Universitas Terbuka Pokjar Johor atau biasa disebut UT Pokjar Johor merupakan perluasan dari Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT Batam. Tahun 2013 adalah tahun sejarah bagiku, karena pada tahun itu mimpi menjadi mahasiwa di sebuah perguruan tinggi bisa terwujud, tepatnya pada tahun 2013.2 (tahun akademik UT).

Di UT Pokjar Johor aku memutuskan untuk memilih jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Aku memutuskan memilih jurusan Ilmu Komunikasi karena lulusan jurusan tersebut peluang kerjanya luas dan bisa kerja diberbagai instansi baik itu instansi pemerintahan maupun instansi swasta.

Sejak aku terdaftar menjadi mahasiswa UT Pokjar Johor, kini aku mempunyai 2 tanggungjawab dan kewajiban, kewajiban sebagai pekerja dan kewajiban sebagai mahasiswa. Aku harus pandai membagi waktu antara kerja dan belajar dan alhamdulillah ternyata aku tidak begitu mengalami kesulitan menjalaninya.

Hari minggu merupakan hari libur di perusahaan tempat aku bekerja dan hari minggu pula UT Pokjar Johor mengadakan kegiatan baik kegiatan akademik seperti bimbingan belajar hingga kegiatan non akademik semua dilaksanakan pada hari minggu karena hari minggu mayoritas TKI di Malaysia libur. Mulai dari situ lah aku mulai aktif mengikuti setiap kegiatan yang dibuat oleh pihak UT Pokjar Johor, hingga saat aku memasuki semester 4 tepatnya tahun 2015. Pada waktu itu UT Pokjar Johor melaksanakan kegiatan Musyawarah Mahsiswa (MUSMA) pemilihan Ketua Dewan Presidium Mahasiswa (DPM) yang baru.
Muhammad Rusli sebagai ketua terpilih menghubungi aku via chatting dia mengatakan bahwa dia ingin aku menjadi wakil ketua untuk membantu dia dan pengurus yang lain dalam menjalankan tugas di DPM UT Pokjar Johor. Dengan rasa sedikit tidak percaya dipilih untuk menjadi wakil ketua, aku meng-iyakan tawaran dia.

Menjadi wakil ketua di DPM UT Pokjar Johor tahun 2015 banyak sesuatu yang aku pelajari dan yang aku dapatkan mulai dari bekerjasama dalam sebuah tim, bertanggungjawab dengan tugas yang telah diberikan, berinteraksi dengan masyarakat luas dan masih banyak lagi manfaat serta ilmu yang aku dapatkan. Selama satu tahun menjadi wakil ketua ternyata tidak terasa begitu lama. Akhir November 2015 adalah akhir masa kepengurusan DPM, karena sesuai dengan Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD ART) DPM UT Pokjar Johor masa kepengurusan adalah selama dua semester atau satu tahun.

Setelah masa kepengurusan tahun 2015 berakhir, UT Pokjar Johor kembali mengadakan Musma pemilihan ketua DPM 2016 dan hasil dari pemilihan tersebut Saudara Gupran dari jurusan Admnitrasi Negara terpilih untuk memangku jabatan sebagai ketua DPM UT Pokjar Johor tahun 2016.

Setelah Gupran resmi terpilih menjadi ketua DPM, dia mulai sibuk memilih dan memilah siapa saja yang akan mengisi posisi jabatan di DPM yang akan dia pimpin selama tahun 2016. Sepertinya yang diketahui ketua terpilih mempunyai hak penuh untuk memilih siapa aja yang akan mengisis posisi jabatan.

Cerita tahun 2015 kembali terulang, ketua terpilih tahun 2016 Gupran sebagai ketua terpilih memilih aku untuk menjadi wakil ketua. Aku juga kurang tahu pasti kenapa aku dipercayai menjadi wakil ketua DPM UT Pokjar Johor selama 2 tahun berturut-turut.
Aku cuma punya prinsip "kalau diberikan kepercyaan maka kepercayaan itu akan aku jaga sebaik mungkin dan aku akan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan dan kapasitas yang pada diri".

Bulan pertama, kedua, ketingga hingga ke akhir semester saya dan ketua serta pengurus yang lain berusaha melakukan yang terbaik dan mencoba membuat gebrakan baru agar UT Pokjar Johor bisa lebih baik dari sebelumnya. Kami yang tergabung di kepengurusan DPM 2016 melanjutkan program yang sudah berjalan dengan baik dari pengurus sebelumnya dan memperbaiki beberapa sistem yang kami rasa perlu untuk diperbaiki.

Memasuki periode kedua tepatnya 2016.2, karena ada sesuatu dan lain Gupran selaku ketua harus pulang ke tanah air. Saya selaku wakil ketua harus menjalankan tugas dia sebagai ketua sampai waktu yang tidak ditentukan.

Saya dan pengurus yang lain selalu berusaha menjalankan tugas sebagaimana mestinya walau dalam keadaan tanpa ketua sekitar 4 bulan dan alhamdulillah kami mampu menjalankan tugas serta program yang telah kami susun hingga akhir masa jabatan, ketua kami memang tidak sedang berada ditempat tapi kami tetap menjalin komunikasi dengan ketua. Jadi intinya berjalan atau tidaknya sebuah organisasi tergantung bagaimana jalinan komunikasi antara pengurus, komunikasi yang terjalin dengan baik tentunya akan menghasilkan sesuatu yang pula dan sebaliknya.

Penyampaian Visi dan Misi
Setelah masa jabatan kepengurusan DPM tahun 2016 berakhir, seperti biasa UT Pokjar Johor kembali melaksanakan kegiatan Musma untuk pemilihan ketua DPM yang baru.

Dalam pemilihan ketua DPM, UT Pokjar Johor menggunakan sistem seperti pemilihan kepala daerah. Kandidat yang unggul secara otomatis maju sebagai ketua terpilih, tapi dengan syarat seperti yang tertulis di AD ART UT Pokjar Johor hasil penghitungan suara dikatakan sah apabila mahasiswa yang hadir saat pemilihan ketua minimal 20 mahasiswa.

4 Desember 2016 adalah Musma UT Pokjar Johor ke 4.  Setiap kali pemilihan ketua setiap jurusan wajib mengirimkan perwakilan untuk maju menjadi kandidat calon ketua DPM. Saat itu teman-teman dari jurusan Ilmu Komunikasi sepakat untuk mengajukan aku sebagai calon kandidat yang akan mewakili jurusan Ilmu Komunikasi di pemilihan ketua DPM UT Pokjar Johor tahun 2017. Mungkin yang membuat teman-teman Ilmu Komunikasi memilih aku menjadi kandidat karena aku sudh cukup berpengalaman dikepengurusan DPM selama 2 tahun berturut-turut.

Sedangkan untuk jurusan lain yang mewakili jurusan masing ada Ahit Nur Anisafin dari jurusan Adminitrasi Negara, Arizta Abdillah dari jurusan Manajemen dan Lasmi dari jurusan Sastra Inggris BMP.

Layaknya seorang calon kepala daerah, calon ketua DPM 2017 satu per satu maju menyampaikan visi dan misi mereka apabila mereka terpilih menjadi ketua dan tidak terkecuali aku. Saat itu Seli Margareda Rini bertugas sebagai Dewan Pimpinan Sidang (DPS) dan dibantu 2 rekan lainnya ada Mira Pujiati Sapitri dan Abdul Rohman meminta aku maju sama seperti kandidat yang lain.

Dihadapan mahasiswa yang hadir tidak banyak visi misi yang aku sampaikan karena dari pengalaman aku menjabat sebagai wakil ketua DPM selama 2 tahun aku menilai kinerja pengurus selama ini sudah cukup baik, hanya saja menurutku masih ada beberapa poin yang akan aku perbaiki. Dalam penyampaian visi misi, aku menyampaikan "apabila aku terpilih dan dipercayai menjadi ketua DPM UT Pokjar Johor tahun 2017, gebrakan pertama yang akan aku buat adalah Tutorial Tatap Muka (TTM), sebab semenjak UT Pokjar Johor berdiri pada tahun 2009 sama sekali belum pernah melaksanakan kegiatan TTM". Selain dari itu aku juga akan meneruskan program yang berjalan dengan baik selama ini dan akan membuat program-program baru yang belum pernah dibuat untuk meningkatkan kualitas serta kreatifitas mahasiswa.

Setelah kandidat menyampaikan visi dan misi masing-masing tiba saatnya mahasiswa menggunakan hak pilihnya untuk memilih siapa yang akan memimpin UT Pokjar Johor selama tahun 2017 dan dilanjutkan dengan penghitungan suara. Hasil penghitungan suara DPS mengumumkan dan memutuskan bahwa aku mendapat hasil suara terbanyak, dengan begitu berarti aku terpilih menjadi Ketua DPM UT Pokjar Johor 2017. Mendengar keputusan itu aku pun bergumam dalam hati "Bagaimanapun caranya aku akan berusaha supaya TTM di UT Pokjar Johor harus bisa terlaksana pada tahun 2017".

Sebelum Musma ditutup, DPS meminta aku untuk memberikan sedikit sambutan sebagai ketua terpilih. Tanpa ragu, aku maju dan mengambil mic yang ada di podium.

Dalam sambutan itu, aku menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah memilih dan memberikan kepercayaan terhadap aku untuk menjadi ketua DPM UT Pokjar Johor 2017. Selain itu juga aku menyampaikan bahwa aku akan melaksanakan apa yang telah menjadi visi dan misi ku khususnya TTM. Sambutan terakhir yang aku sampaikan aku berpesan kepada para mahasiswa yang hadir, sebaik dan sebagus apapun seorang pemimpin organisasi, organisasi tersebut tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dan kerjasama dari pihak pengurus maupun mahasiswa.

Selesai memberikan sambutan aku pun kembali ke tempat duduk dan teman-teman mahasiswa menyalamiku dan memberikan ucapan selamat termasuk Ibu Dewi Lestari S.E selaku Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Johor sekaligus Pembina UT Pokjar Johor juga menyalamiku dan memberikan ucapan selamat.

Pelantikan Dan Penyematan Tanda Pengurus Oleh Konjen RI Johor Bahru
Dengan terpilihnya aku sebagai Ketua DPM UT Pokjar Johor 2017, aku harus segera memilih siapa aja yang akan membantu aku dalam menjalankan tugas sebagai pengurus. Karena ketua terpilih mempunyai hak penuh dalam memilih pengurus.

Untuk memilih pengurus bisa dikatakan gampang-gampang susah, karena aku harus memilih orang yang tepat. Orang yang tepat disini maksudnya orang yang mampu mengemban tugas, bertanggungjawab, bekerjasama dalam tim dan lain sebagainya.

Dengan berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk memilih beberapa wajah lama diantaranya Ahit Nur Anisafin sebagai Wakil Ketua, Ika Yunita Lestari sebagai Bendahara 1, Wely Mareta Anggraeni sebagai Sekretaris 1, Seli Margareda Rini sebagai Ketua Jurusan Adminitrasi Negara dan Puji Indah Permata Sari sebagai Koordinator Akademik.

Selain dari wajah lama, aku juga memilih beberapa mahasiswa baru untuk menjadi pengurus dan mengisi beberapa jabatan seperti Ketua Jurusan Manajemen, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Ketua Jurusan Sastra Inggris, Koordinator Perpustakaan, Koordinator Ekskul, Bendahara 2 dan Sekretaris 2, walau pada awalnya mereka ragu dan takut tidak bisa menjalankan tugas sebagai pengurus tapi aku mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa untuk jadi pengurus disini kita sama-sama belajar berorganisasi, bisa tidak bisa itu urusan nanti yang penting kita ada niat untuk belajar itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya mereka mau belajar dan bergabung dikepengurusan DPM 2017.

Berbeda dengan formasi pengurus sebelumnya, formasi yang aku pimpin ini aku memilih 2 bendahara dan 2 sekretaris. Yang mana bendahara 2 dan sekretaris 2 diharapkan nantinya setelah masa jabatan berakhir mereka bisa menjadi regenerasi kedepan.

Semua posisi kepengurusan sudah lengkap dan aku segera melaporkan kepada pembina bahwa struktur kepengurusan DPM UT Pokjar Johor tahun 2017 sudah terbentuk dan pada saat itu juga aku mengajukan kepada pembina supaya ada pelantikan pengurus dan alhamdulillah beliau setuju dan meminta aku untuk membuat Surat Keputusan (SK) Ketua terpilih. Aku kaget "Apa? SK". Selama ini tidak pernah ada ketua terpilih membuat sebuah SK dan selama ini juga belum pernah ada pelantikan pengurus.

Aku segera mencari-cari sampai ketemu bagaimana contoh SK yang diminta oleh pembina, dan setelah ketemu aku langsunh membuat SK tersebut lalu ku ajukan ke pembina dan alhamdulillah di setujui tanpa revisi.

Tiba hari pelantikan aku sedikit tegang, pelantikan pengurus ini merupakan sejarah pertama di UT Pokjar Johor dan hadiri oleh Pembina UT Pokjar Johor Ibu Dewi Lestari dan Konsul Jenderal RI Johor Bahru Bapak Haris Nugroho.

Beberapa susunan acara telah berjalan hingga sambutan dari Konsul Jenderal, setelah sambutan dilanjutkan dengan penyematan tanda pengurus oleh Konsul Jenderal kepada ketua terpilih. Ketika tanda pengurus itu disematkan didada sebelah kiriku oleh orang no 1 di KJRI Johor Bahru itu, aku merasa senang dan bangga karena mampu menciptakan sejarah baru di UT Pokjar Johor. Semua ini tentunya tidak lepas dari dukungan dari pengurus yang lain dan juga nasehat dari pembina.

Pelantikan pengurus selesai, kini aku telah resmi menjadi Ketua DPM UT Pokjar Johor tahun 2017 dan akan segera mulai menjalankan tugas serta tanggungjawab bersama 14 pengurus yang lain selama satu tahun kedepan.

Proses yang panjang tentunya akan terasa sulit untuk dijalani apabila kita terlalu fokus terhadap hasil dari proses tersebut. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana hasilnya nanti, yang terpenting jalani saja proses yg terjadi sebaik mungkin. Karena sebenarnya didalam proses itu laj banyak sesuatu yang dapat kita pelajari dan juga banyak hikmah yang dapat kita ambil.

Aku yang dulunya hanya lulusan SMA lalu bekerja sebagai kuli di Prabumulih, kemudian nekat mengadu nasib di Malaysia tapi aku tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku jalani mulai dari menjadi kuli hingga mengadu nasib di negeri jiran, karena aku percaya Tuhan punya rencana terbaik untuk kehidupanku nanti.

Ternyata benar, setelah aku menjalani proses yang begitu panjang sekarang aku sedikit banyaknya bisa melihat hasil dari proses tersebut. Aku yang awalnya hanya kenal dengan rekan kerja kini aku kenal dan dikenal banyak orang (bukan artis). Kenalan ku bukan hanya di UT Pokjar Johor tapi juga di UT Pokjar Kuala Lumpur, UT Pokjar Penang, UT Pokjar Singapura, UT Pokjar Korea, UT Pokjar Hong Kong dan UT Pokjar Taiwan.

Kurang lebih begitulah cerita Aku, Kehidupanku dan Pendidikanku mulai dari tahun 2010 sampai saat ini.

Semoga dapat memotivasi dan menginspirasi para pembaca.

Rabu, 15 Februari 2017

Tutorial Tatap Muka Pertama Di UT Pokjar Johor



Oleh : Fatmi Aslikah Setiani dan Ade Susilowati.

Minggu, 12 Februari 2017 bisa dikatakan hari bersejarah bagi seluruh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Terbuka Pokjar Johor. Bagaimana tidak? karena hari itu adalah hari dimana UT Pokjar Johor mengadakan Tutorial Tatap Muka (TTM) untuk pertama kalinya semenjak UT Pokjar Johor diresmikan pada 2010 silam.

TTM yang pertama kalinya ini diikuti oleh mahasiswa baru tahun 2017.1 yang terdiri dari tiga jurusan, yaitu Jurusan Sastra Inggris, Jurusan Ilmu Komunikasi dan Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Untuk mengikuti kegiatan TTM ini dibutuhkan kuota minimal 20 mahasiswa per matakuliah.


Kegiatan TTM ini dibagi menjadi delapan kali pertemuan dan 8 inisiasi dengan tutor pembimbing yaitu Bapak Rahmat Suardi. TTM dimulai pukul 10.00 - 12.00, semua mahasiswa yang namanya sudah terdaftar sebagai peserta TTM 2017.1 ini diharuskan datang tepat waktu atau sebelum pukul 10.00, mengapa? karena dikegiatan TTM ini tidak ada toleransi waktu, mahasiswa yang datang terlambat sudah dipastikan akan ketinggalan materi. Sedangkan mahasiswa yang sudah terdaftar sebagai peserta TTM tetapi tidak hadir, maka akan ada kekurangan nilai, karena pada dasarnya kegiatan TTM ini memiliki kontribusi nilai 50% terhadap hasil UAS dan TTM ini wajib diikuti oleh peserta yang namanya sudah terdaftar.

Tutorial Tatap Muka atau yang lebih dikenal dengan TTM adalah sebuah kegiatan akademik yang ada di Universitas Terbuka. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bertatap muka langsung dengan tutor atau dosen pembimbing. Selama kegiatan berlangsung mereka berdiskusi akan sebuah materi yang diberikan oleh pembimbing. "Saya sangat bangga karena ini merupakan sejarah bagi UT Pokjar Johor dan hari ini adalah hari pertama diadakannya TTM di UT Pokjar Johor” tutur ketua DPM, Endri Mardiansyah yang juga menghadiri kegiatan TTM ini bersama beberapa pengurus yang lain.
Endri melanjutkan, "Semua mahasiswa yang sudah terdaftar dalam kegiatan TTM wajib hadir tepat waktu karena kalau tidak, sudah dipastikan akan ketinggalan materi"_ imbuhnya di sela-sela akhir pertemuan. (F.A.S./A.S)

Bahan Ajar Digital Universitas Terbuka (BA Digital UT)

Bahan Ajar Digital Universitas Terbuka

Oleh : Endri Mardiansyah

Universitas Terbuka (UT) merupakan universitas negeri yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh. Setiap tahunnya, UT selalu berupaya meningkatkan kualitas layanan dan fasilitas belajar mahasiswa melalui media elektronik dan jaringan internet. Mulai 2017.1 UT kembali memberikan fasiltas belajar melalui media elektronik dan internet dengan Bahan Ajar Digital UT (BA Digital UT) secara gratis.

BA Digital UT adalah sebuah applikasi digital yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa untuk menunjang kegiatan belajar dalam setiap semesternya. Berikut keterangan tentang BA Digital UT yang dikutip dari laman website www.ut.ac.id.

1. BA Digital dirancang dalam rangka mendukung kesuksesan belajar mahasiswa selama menempuh studi di UT. Penyediaan BA Digital merupakan salah satu upaya terkini untuk meningkatkan kualitas layanan, khususnya dalam memberikan akses dan kemudahan kepada seluruh mahasiswa terhadap sumber belajar.

2. BA Digital yang disiapkan dan ditawarkan UT pada saat ini adalah hasil konversi bahan ajar cetak (BAC) dan tidak termasuk bahan ajar non cetak (BANC) baik BANC yang terintegrasi dengan bahan ajarnya (BA multimedia terintegrasi) maupun BANC yang bersifat pengayaan. Materi pengayaan BANC dapat diakses di UT-TV.

3. BA Digital hanya dapat diakses dan diunduh secara gratis oleh mahasiswa UT yang melakukan registrasi mata kuliah pada semester berjalan. Untuk kepentingan tersebut, ada beberapa ketentuan dan informasi teknis yang harus dipahami dan ditempuh oleh mahasiswa.

4. BA Digital tersebut mulai dapat diunduh pada 11 Februari 2017 dan hanya dapat dibuka pada 2 (dua) perangkat mobile dengan Sistem Operasi Android. Untuk dapat mengakses BA Digital tersebut, Saudara harus melakukan instalasi aplikasi BA Digital UT yang sudah disiapkan dan dapat unduh di Google Play Store. Penjelasan lebih teknis terkait hal ini dapat dilihat dalam lampiran.

5. BA Digital UT tidak untuk diperjualbelikan.
Informasi lebih lanjut terkait layanan BA Digital dapat menghubungi Call Center UT melalui http://hallo-ut.ut.ac.id

Seperti yang telah dijelaskan diatas, untuk dapat mengakses BA Digital UT, mahasiswa harus aktivasi atau log in di ecampus.ut.ac.id kemudian meng-instal applikasi tersebut dan dapat di download di Google Play Store, silahkan masukan keyword "BA Digital Universitas Terbuka".

Berikut ini langkah-langkah dan cara mengakses BA Gigital UT :

1. Aktivasi / Log In akun ecampus di ecampus.ut.ac.id
User : nim@ecampus.ut.ac.id
Pass : P@ssw0rd
(P huruf besar dan 0 Nol).

2. Download App BA Digital UT di Playstore.

3. Log In di Applikasi BA Digital UT
Nama user : nim@ecampus.ut.ac.id
Pass awal : Ut+tglblnthnlahir
contoh : Ut22011997

Setelah langkah-langkah diatas sudah selesai, sekarang teman-teman sudah bisa menikmati modul yang ada di BA Digital UT.

Catatan : Modul atau bahan ajar yang bisa dibuka hanya modul yang terdaftar di semester berjalan.

Terima kasih, semoga dapat bermanfaat bagi mahasiswa UT dimanapun berada.

Pokjar Johor AKCAS (Aktif, Kreatif, Cerdas dan Berwawasan Luas)

Biodata Singkat Pengurus DPM UT Pokjar Johor 2017

Pengurus DPM UT Pokjar Johor Tahun 2017 Bersama Pembina dan Konsul Jenderal RI

KETUA
Nama : Endri Mardiansyah
Tanggal Lahir : 15 Maret
Asal : Palembang, Sumatera Selatan
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Ketua DPM
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 01116161527

WAKIL KETUA
Nama : Ahit Nur Anisafin 
Tanggal Lahir : 9 Augustus
Asal : Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Pasir Gudang, Johor Bahru
Jabatan : Wakil Ketua DPM
Jurusan : Administrasi Negara (FISIP)
No Hp : 0143879740


BENDAHARA 1
Nama : Ika Yunita Lestari
Tanggal Lahir : 8 Juni 
Asal : Limpung, Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Taman University, Johor Bahru
Jabatan : Bendahara 1
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 01126675646


BENDAHARA 2
Nama : Dwiana Nararia
Tanggal Lahir : 14 Mei
Asal : Banyumas, Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Bendahara 2
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 01135272269


SEKRETARIS 1
Nama : Welly Mareta Anggraeni
Tanggal Lahir : 25 Maret
Asal : Cilacap, Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Sekretaris 1
Jurusan : Manajemen (FEKON)
No Hp : 0189749001


SEKRETARIS 2
Nama : Eni Zulaikah
Tanggal Lahir : 20 Mei
Asal : Banyuwangi, Jawa Timur
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Sekretaris 2
Jurusan : Manajemen (FEKON)
No Hp : 01142027577


DIVISI AKADEMIK
Nama : Puji Indah Permata Sari
Tgl Lahir : 8 Agustus
Asal : Yogyakarta
Tempat Tinggal : Tampoi, Johor Bahru
Jabatan : Divisi Akademik
Jurusan : Administrasi Negara (FISIP)
No Hp : 01115065471


DIVISI PERPUSTAKAAN
Nama : Rustini
Tanggal Lahir : 7 Februari
Asal : Banjarnegara, Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Divisi Perpustakaan
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 0127711645


DIVISI EKSKUL
Nama : Mira Pujiati Sapitri
Tanggal Lahir : 4 Maret
Asal : Majalengka, Jawa Barat
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Divisi Ekskul
Jurusan : Manajemen (FEKON)
No Hp : 01128645433


DIVISI LOGISTIK
Nama : Abdul Rohman
Tanggal Lahir : 6 Juni
Asal : Subang, Jawa Barat
Tempat Tinggal : Masai, Johor Bahru
Jabatan : Divisi Logistik
Jurusan : Manajemen (FEKON)
No Hp : 0122581917


DIVISI IT DAN INFORMASI
Nama : Ade Susilowati
Tanggal Lahir : 27 Juli
Asal : Purworejo, Jawa Tengah
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Divisi IT dan Informasi
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 01124017175 dan 01131815939


DIVISI HUMAS
Nama : Subki Taufiq Bawazir
Tgl Lahir : 12 Januari
Asal : Nusa Tenggara Barat
Tempat Tinggal : Kulai, Johor Bahru
Jabatan : Divisi Humas
Jurusan : Ilmu Administrasi Negara (FISIP)
No Hp : 0127567807 dan 0165507807


KETUA JURUSAN MANAJEMEN
Nama : Arizta Abdillah
Tanggal Lahir : 25 April
Asal : Bogor, Jawa Barat
Tempat Tinggal : Kempas, Johor Bahru
Jabatan : Ketua Jurusan Manajemen
Jurusan : Manajemen (FEKON)
No Hp : 01115969607


KETUA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
Nama : Muhamad Tobiin
Tanggal Lahir : 15 Juni
Asal : Indramayu, Jawa Barat
Tempat Tinggal : Masai, Johor Bahru
Jabatan : Ketua Jurusan Ilmu komunikasi
Jurusan : Ilmu Komunikasi (FISIP)
No Hp : 01139585453


KETUA JURUSAN ADMINITRASI NEGARA
Nama : Seli Margareda Rini
Tanggal lahir : 25 september
Asal : Flores, Nusa Tenggara Timur
Tempat Tinggal : Bukit Indah, Johor Bahru
Jabatan : Ketua Jurusan Adminitrasi Negara
Jurusan : Administrasi Negara (FISIP)
No Hp : 0108871239


KETUA JURUSAN SASTRA INGGRIS
Nama : Fatmi Aslikah Setiani
Tanggal Lahir : 19 Mei
Asal : Garut, Jawa Barat
Tempat Tinggal : Senai, Johor Bahru
Jabatan : Ketua Jurusan Sastra Inggris
Jurusan : Sastra Inggris (FISIP)
No Hp : 01125856640  

Senin, 13 Februari 2017

UT Peduli Untuk Muara Telang

Rumah Korban Puting Beliung
Bencana alam tidak dapat diprediksi dan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Walaupun demikian, terjadinya bencana alam juga terkadang dikarenakan oleh masyarakat itu sendiri.

Rabu, 8 Februari 2017, telah terjadi bencana alam angin puting beliung yang cukup dahsyat di tiga desa di Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga desa tersebut adalah Desa Telang Jaya, Desa Mekar Mukti dan Desa Telang Makmur.

Mendengar informasi tersebut, pengurus UT Pokjar Johor langsung melakukan diskusi ringan melalui group WhatsApp untuk melakukan penggalangan dana guna membantu korban yang tertimpa musibah. Sejurus, pengurus sepakat untuk melakukan penggalangan dana pada hari minggu di Aula Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor Bahru, Malaysia.
Endri Mardiansyah selaku Ketua DPM UT Pokjar Johor pun langsung melakukan koordinasi dengan warga setempat untuk mencari tahu bagaimana dan melalui siapa hasil dana bantuan akan disalurkan.

Setelah melakukan koordinasi dengan warga setempat, Endri yang kebetulan warga Desa Telang Jaya (tempat terjadi bencana alam) berhasil menghubungi langsung Bapak Gambeta S.Sos., M.Si selaku Camat Muara Telang. Bapak Gambeta menyambut niat baik dan berterima kasih karena mahasiswa UT Pokjar Johor bersedia membantu para korban dengan cara menggalang dana melalui UT Peduli dan langsung memberikan no rekening pribadi beliau.

Berdasarkan data yang diterima dari Camat Muara Telang, bencana puting beliung yang terjadi tepat pada jam 23:00 WIB itu menghantam tiga desa di Kecamatan tersebut. Ada 14 rumah rusak berat, 27 rumah rusak sedang, 29 rumah rusak ringan, 1 masjid/TPA rusak  sedang, 1 Pondok Pesantren rusak sedang, 3 orang luka berat dan 12 orang luka ringan.

Minggu, 12 Februari 2017 bertempat di Aula Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru, disela-sela waktu istirahat kegiatan mahasiswa UT Pokjar Johor, tim UT Peduli melakukan penggalangan dana bantuan korban bencana alam di Desa Telang Jaya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Selain di KJRI Johor Bahru, penggalangan dana ini juga dilakukan melalui via bank bagi mahasiswa yang tidak bisa hadir.

Alhamdulillah, setelah selesai penggalangan dana, tim UT Peduli mendapatkan dana bantuan dari mahasiswa UT Pokjar Johor sebesar RM579 atau Rp.1.695.000 dan uang tersebut langsung ditransfer ke Camat Muara Telang.

Penyerahan dana bantuan oleh Camat kepada Kepala Desa
Dana bantuan yang dikirim oleh mahasiswa UT Pokjar Johor ini diserahkan langsung oleh Camat Muara Telang Bapak Gambeta S.Sos., M.Si dan diterima oleh Kepala Desa Telang Jaya Bapak Juwahir dihadapan para korban bencana puting beliung serta disaksikan juga oleh Baznas Kabupaten Banyuasin, Dinas Sosial Kabupaten Banyuasin, Ketua dan Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Banyuasin, Perangkat Desa Telang Jaya dan Staff Kecamatan Muara Telang.

Baznas, Dinsos dan Komisi IV DPRD Kabupaten Banyasin
Melalui Endri Mardiansyah selaku Ketua DPM UT Pokjar Johor, Camat Muara Telang Bapak Gambeta S.Sos., M.Si menyampaikan ucapan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa UT Pokjar Johor yang telah mengirimkan dana bantuan untuk korban bencana puting beliung di Desa Telang Jaya.
"Saya Camat Muara Telang menyampaikan apresiasi yang tinggi serta terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan bantuan dari mahasiswa Universitas Terbuka Pokjar Johor. Semoga bermanfaat dan penuh barokah."  Tutur beliau.

Atas nama UT Peduli dan UT Pokjar Johor, kami juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh mahasiswa yang telah menyisihkan sedikit rezekinya untuk para korban. Semoga apa yang kita berikan dapat meringankan beban mereka. (EM)